letsing4joy

April 23, 2009

the ugliest moment

Filed under: kerja kerja kerja

Tuesday, 8 April 2009

(one of the) ugliest moment(s) in my life:

Situation: hot boiling kettle di kepala gue udah panas ngegolak sampe ke ubun-ubun…
Dateng ke ruangan bos gue, nyerocos, marah semarah-marahnya sampe-sampe dada gue sesak dan susah napas…

“Yang bener aja! Diperes abis-abisan! Emangnya saya apaan? Udah kerjaan banyak banget, ga dikasih staf, eh sekarang disuruh bantuin orang lain lagi? Ini kan beda divisi! Saya aja udah kebanyakan kerjaan masa harus bantu orang lagi? Mereka kan punya divisi sendiri, punya staf sendiri, kenapa masih harus narik saya juga? Bapak kan tau sendiri saya ga punya staf untuk delegasi-in kerjaan saya? Mereka orangnya udah banyak gitu tapi masih seenaknya nyuruh saya. Trus kerjaan saya siapa yang ngurus? Keterlaluan banget sih! Kalo saya harus bantu divisi A dan divisi B, mendingan ENGGA sekalian aja dua-duanya!”

Red-faced, out of breath, blurted out, belom pernah semarah ini sejak pertama kali kerja di kantor ini…

Bos cuma melongo kaget…

Ngeliat gue murka, vented out anger persis lahar keluar dari volcano…

Dengan marah gue pulang, matiin handphone…

Then at night gue gelisah dan ga bisa tidur. Kayanya Roh Kudus pengen banget ngomong tapi gue tebelin telinga dan kerasin hati…Akhirnya gue nyerah dan berusaha baca Alkitab, berdoa…

Dan sejak hari itu, selama berhari-hari, Lord was dealing with this. Semua yang gue tulis disini bukan sekedar tegoran Tuhan dalam 1 kali doa. Engga. Ampe lima hari! Sampe hari Minggu 12 April. Guess it’s kinda serious if He was dealing with this for 5 consecutive days… Then I decided to write them down here. To remind myself, of course tujuan utama. Selain itu, tujuan lainnya supaya all readers bisa belajar dari ugly mistakes that I’ve made. Orang yang bijak adalah orang yang belajar dari kesalahannya, tapi lebih bijak lagi kalo kita bisa belajar dari kesalahan orang lain. So, walopun posting-an nya panjang, it’s worth reading, trust me. Happy reading, and be blessed!

Me: Apa sih penyebab kemarahan ini? Kasih tahu aku Tuhan, aku ga pernah semarah ini sebelumnya… All my life I’ve always thought that I’m reserved-calm-introverted type… Tapi kenapa bisa jadi gini?

God: Ada beberapa alasan mengapa kamu bisa jadi jengkel:
- secara jasmani sedang lelah/tegang
- secara emosional sedang lemah
- secara rohaniah sedang kosong

Bila secara rohaniah kamu sedang kosong, kamu akan lebih cepat marah dan memulai perselisihan/terlibat perselisihan. Bila perjalanan hidup kamu dengan Aku dalam keadaan aktif, Aku akan menjaga sehingga kesehatan emosimu tetap stabil…

Me: Iya Tuhan, aku tahu waktu itu aku sedang tegang karena ada masalah keluarga dan masalah sekolah yang aku ga tau cara penyelesaiannya… Dan semuanya itu bikin aku males baca Alkitab… Kayanya secara rohani emang lagi kosong…

God: Ya, tekanan yang datang dalam dirimu will reveal your hidden cracks. Suatu tekanan akan mengungkapkan hidden cracks dalam dirimu. Ada cacat tersembunyi yang tidak kamu ketahui: kesombongan, keangkuhan. Darimanakah asalnya pertengkaran? Keangkuhan. Angkuh karena kamu unwilling to help…

Me: Jadi aku sombong ya Tuhan….

God: Read Ams 8:13 ….(Tuhan) benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat
Read Mazmur 101:5 Orang yang sombong dan tinggi hati, aku tidak suka

Ya, dan Aku benci pada kesombongan, orang yang sombong, kecongkakan, orang yang tinggi hati.

Orang yang sombong itu merasa unfair karena merasa haknya telah dilanggar. Ciri-cirinya adalah:
- Menghendaki kemauan sendiri
- Menghendaki pengaturan waktu sendiri
- Menghendaki langkah sendiri

Tapi Aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Jika Aku ijinkan semua yang kamu inginkan, kamu akan jadi egosentris dan mementingkan diri sendiri

Ingat Ams 13:10 “keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran”. Keangkuhan artinya menganggap diri terlalu tinggi. Perwujudannya:
- peduli hanya pada diri sendiri dan bukan orang lain
- tidak mau bantuin orang lain
- akibatnya self-centered, egosentris

Kamu marah karena kamu menomorsatukan dirimu dan perasaan-perasaanmu. Bila sebabnya keangkuhan, harus diakui.

Me: Tuhan, aku ngaku aku sombong. Dan aku ga mau dibilang sombong lagi sama Tuhan. Tolongin aku, tunjukin caranya gimana ngilangin kesombongan ini?

God: Akui bahwa dirimu tak lebih tinggi dari orang lain. Kalau kamu bisa, berkata ya bila bisa. Berkata tidak bila tidak bisa.

Me: But Lord, I’ve got hundreds of things to do. And I’ve got no staff to help me. Kerjaan sendiri aja belom selesai, masa harus bantuin kerjaan orang lain? Aku kan ga punya staf yang bisa aku delegasikan kerjaan. Come on, without any staff, they expect me to help another division also? It’s just so unfair…

God: Ingatlah bahwa keadilan comes after kesetiaan.

Mzm 85:12 Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit

Artinya, keadilan baru akan terjadi jika kesetiaan tumbuh. Kamu di bumi, setia dulu, baru kemudian Aku, di surga, akan menjawab dengan keadilan.

Aku akan tunjukkan keadilan kalau kamu bisa tunjukkan kesetiaan dalam pekerjaanmu. Aku tidak buta ketika kamu merasa diperlakukan tidak adil. Tapi keadilan itu akan terjadi kalau kamu setia dengan pekerjaan-pekerjaan itu dulu.

Me: Maksudnya? Aku masih ga ngerti…

God: Kamu tidak mengerti karena kamu kekurangan perspektif Allah. Kamu tidak dapat dapat melihat tangan berkat Allah yang tersembunyi dalam suatu ketidakadilan/kesulitan. Milikilah perspektif Allah dalam segala sesuatu. Sadari bahwa ketidakadilan dirancang Allah untuk memberkatimu. Ketika kamu terlalu larut dalam masalah, kamu tidak dapat melihat sudut pandang Allah. Kamu akan berkata ”It’s not fair! This is so unfair!” Akibatnya, kamu akan sangat kesal dan itu menyiksa kamu. Ini karena kamu tidak bisa melihat tangan Allah yang tersembunyi di balik ketidakadilan. Di Kejadian, semua ketidakadilan dalam hidup Yusuf akhirnya membuat Yusuf jadi lebih dekat dengan Allah.

Me: Masa aku ga boleh protes kalo aku diperlakukan ga adil? Kalo aku harus diam terus, dipendem aja, walopun sebenernya dalem hati aku protes, kan aku sendiri yang makan ati…

God: Kamu harus belajar dari situasi itu. Kamu memang perlu terbuka, iya. Kamu perlu memberitahu orang lain apa yang kamu pikirkan. Tetapi bukan tanpa sifat mengasihi, ramah dan terkendali.

Memang kamu sudah ada kemajuan, sekarang kamu bukan yang dulu, orang yang dulu suka diam saja, pendam perasaan dan ketidakpuasan. Sekarang kamu berani mengungkapkan. It’s one step ahead. Tapi next time jangan sampai blurted out, caranya harus dengan sopan santun.

Me: Tapi Tuhan, kalo kita ga boleh melawan tiap kali diperlakukan tidak adil, buat apa ada pengadilan? Buat apa ada fakultas hukum segala? Trus anak-anak hukum buat apa belajar cape-cape? Kan tujuan mereka menegakkan keadilan? Membela orang yang diperlakukan tidak adil?

God: *ga jawab langsung, tapi jawab beberapa hari kemudian, dengan film Passion of Christ yang ditayangin di RCTI Minggu Paskah 12 April*

”HidupKu penuh ketidakadilan…”

You see, ketika diadili di hadapan orang banyak, bahkan pengadilan pun, yang seharusnya memberikan keadilan, saat itu tidak memberikan keadilan…

Hidup Yesus dipenuhi dengan ketidak adilan, namun setiap ketidakadilan itu bekerjasama untuk memberi Yesus suatu nama di atas segala nama, di surga dan di bumi. (Flp 2:5-11).

Me: Are You telling me that aku harus siap menerima setiap ketidakadilan dalam hidupku? This is so hard, Lord, really hard…

God: Dalam setiap ketidakadilan, ingatlah maksud Allah dengan memberi pengalaman tersebut:
- untuk menyempurnakanmu
- untuk mengasahmu
- untuk menyiapkanmu agar lebih menghasilkan buah

Jika kamu bisa mengerti ketiga maksud Allah itu, maka kamu akan menerima dengan hati yang bersih dan perasaan tenteram, dan tanpa pertengkaran.

Me: This sounds like a life-long project…

God: Yes, that will sound like forever selama kamu membenarkan amarah-mu, atau membuat alasan-alasan untuk mengijinkan amarah itu. Dan kamu akan tetap tertawan.

Kamu akan mempertahankan apa yang kamu benarkan. Selama kamu membenarkan that it is your right to be angry, kamu akan tetap tertawan. Dengan menyalahkan orang lain, kamu merasa bebas dari tanggung jawab.

Apabila kamu menolak untuk bertanggung jawab, maka kamu mengorbankan kemampuan untuk berubah. Tanggung jawab berarti ”kemampuan untuk menanggapi”. Kemampuan kamu untuk menanggapi yang menentukan kebebasan masa depan mu. Apabila kamu merendahkan diri, mengakui kesalahan dan meninggalkannya, maka kamu akan lepas dari jerat.

Me: Maksudnya ”tertawan”? Aku ga ngerti…

God: Kamu bisa tertawan dengan pikiran tertutup, ketidakmauan untuk diajar. Mintalah pikiran yang mudah dibentuk dan terbuka kepadaKu.

Pikiran yang mudah terbuka adalah suatu pemberian yang berasal dari kasih karuniaKu, dan Aku dapat memberikan kepada mu dalam sekejap. Dalam bidang-bidang kehidupan mu yang tertutup, kamu akan tetap tidak berbuah dan tidak produktif apabila kamu tidak mengijinkan Aku untuk mengubahmu…

Me: Aku mau itu, Tuhan…

God: When My promises say so, just receive it. Already given. Read Lukas 24:45

Me: *baca en ngucapin Lk 24:45*
Lalu Ia membuka pikiran mereka (aku), sehingga mereka (aku) mengerti Kitab Suci.

God: Aku akan memberi pengertian kepada kamu, tetapi sebatas apa yang Aku ingin kamu miliki, sebatas apa yang Aku kehendaki, sesuai dengan tempo-Ku, sesuai dengan kecepatan yang Aku kehendaki…

Me: Makasih Tuhan udah kasih pengertian buat aku. Sekarang aku jadi bener-bener ngerti apa akar masalah dibalik semua kemarahanku… Now, what do I have to do next?

God: Pertama, minta ampun, bertobat from this stinking attitude. Tanamkan dalam dirimu bahwa apapun yang kamu perbuat, semua ada balasannya (tabur tuai). Sesudah itu perlakukan sesamamu dengan hormat.

Me: Dengan hormat? Maksudnya?

God: Ketika kamu mengungkapkan pikiran-pikiranmu kepada orang lain, ingatlah beberapa hal ini:
- jangan menyimpang dari pokok pembicaran
- bijaksana dalam perkataan
- lihat sudut pandang orang lain
- bersedia untuk berkompromi & berubah

Dan sebelum kamu terlibat dalam perselisihan pendapat, ingatlah hal-hal ini:
1. apakah ada alasan logis untuk terlibat perselisihan?
2. apakah kedua pihak telah menjelaskan?
3. apakah kamu menyatakan dengan jelas apa yang diinginkan dan diperlukan?
4. apakah kamu mau berbicara & berkompromi sampai mencapai cara penyelesaian yang disepakati bersama-sama?
5. dan, jagalah supaya tidak berlarut-larut

Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah. Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah (Yak 1:19-20)

Dear Lord, help me to respond with wisdom and calmness or to keep quiet until my emotions are under better control. Thank You for not taking out anger upon me when You are upset with me. Thank You for loving me in spite of my imperfections and shortcomings. Thank You for Your willingness to forgive. In Jesus name, amen.

March 20, 2009

trust in Youuuuu……

Filed under: kerja kerja kerja

Brapa hari lalu gue dapet kerjaan bikin presentasi tentang dampak global crisis. Intinya sih bos gue, sebagai auditor, pengen bikin analisis tentang hubungan antara global crisis dengan penerbitan obligasi. Global crisis –> volatile rates –> increasing prices –> weakening purchasing price –> lower sales volume –> tight liquidity –> companies di Indonesia susah dapet foreign borrowing –> rame-ramelah Indonesia companies nerbitin bonds (obligasi).

Sebagai auditor, of course bahannya dia penuh angka dan statistik. Emang sih orang akuntansi itu communicate by numbers. For some strange reasons media komunikasi mereka itu numbers :) *no offense ya frenz* Give them a string of numbers and they can talk a lot about the prediction, trend, analysis, assumption, dll dsb. Entah gimana caranya mereka bisa ngeliat angka-angka itu bicara sendiri ke mereka dan mereka bisa ngerti bahasa angka-angka itu wekekekek

Tapi cara berpikir orang hukum beda. Mereka lebih ke why-nya. Cara berpikir mereka adalah WHY instead of WHAT. Apalagi dosen S2 lebih nekenin kita mikir MENGAPA-nya dan bukan APA-nya. Jadi misalnya ada satu UU baru keluar. Kita dituntut untuk berpikir why UU itu dibuat, why pemerintah bikinnya seperti itu, why peraturan bagus tapi legal enforcement-nya susah jalannya, why ada banyak celah, why dibikin seperti ini dan bukan seperti itu, dan why-why lainnya.

So, waktu bikin presentasi, gue kebawa cara berpikirnya orang hukum instead of orang akuntansi. Walhasil, salah sasaran. Bos gue pengen fokus ke analysis WHAT-nya (what are the impact of the crisis, what is the trend, what is our analysis, what direction companies should take during the crisis, etc). Sementara presentasi bikinan gue itu fokusnya lebih ke WHY-nya (why bonds are issued, why they prefer bonds and not foreign borrowing misalnya, dan why-why lainnya). Terpaksalah gue bikin ulang. Untung bos gue baek mau kasih waktu lagi:)

Dari sini gue belajar satu hal. Terutama hal tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Gue, sebagai manusia, cenderung lebih berpikir ke WHY-nya. Kenapa sih Tuhan keadaan gue gini? Kenapa sih Mamaku harus meninggal? Kenapa sih Papaku harus sakit jantung? Kenapa Papa mesti operasi jantung justru ketika gue sekarang ini butuh banyak biaya buat nyelesaiin kuliah? Kenapa sih wujudin mimpiku sendiri banyak banget halangannya? Kenapa Tuhan ga kasih yang aku minta? Kenapa mimpi-mimpiku belom jadi kenyataan? Kenapa kok malah semuanya tertunda? Kenapa sih gini, kenapa sih gitu? Dan sejuta why laennya. Padahal kalo dipikir-pikir, kenapa juga mesti mikir kenapa-kenapa-kenapa? Wong otak gue yang segini-gininya ini mana bisa nampung rencana Tuhan yang overwhelming itu? Boro-boro ngerti rencana Tuhan. Ngertiin global crisis aja takes time buat gue. Secara Tuhan itu the General Manager of the Universe. Otak gue mana bisa compete dalam hal processing? Apalagi understanding…

Dan Tuhan, dengan segala kemahakuasaanNya, malah ga mengijinkan gue mengerti tentang semua rencanaNya. Mungkin Dia pengen bilang “Ngapainlah Fen mikirin kenapa-kenapa… Terima aja rencanaKu buat kamu. Yang pasti bagus punya…” Jujurnya sih gue sering kesel kalo gue ga bisa ngerti tentang satu hal. Otak gue suka cape mikir kenapa-gimana dll. Buat gue, bisa terima suatu hal tanpa tau “why”nya itu susah banget. Tapi gue tau it’s a part of the process untuk gue bisa bergantung sama Tuhan. Untuk bisa switch dari WHY ke WHAT itu sama sekali ga gampang.

Sekarang ini sih masih belajar. Masih belom lulus. Instead of nanya Tuhan “Why is this happening?” gue mesti nanya “What do You want me to do with this happening?” Instead of “Why me?” mestinya “What is Your plan for me?” Alih-alih “Why do I have go through these things?” harusnya “What lessons You want me to learn from these things?” Bukannya “Why can’t I get what I want?” tapinya “What better things You have for me?”

Dari sini gue belajar lagi satu hal. Ternyata masih banyak issues yang masih harus diselesaiin dalam hal attitude gue towards God. Untungnya Tuhan baek. Tuhan sabar banget ngajarinnya. Kalo gue ga ngerti-ngerti, masih ngebandel juga, masih coba reasoning mulu sama Tuhan, Tuhan bisa pake hal-hal kecil dalam keseharian gue untuk negor gue di mana salahnya.

Contohnya kasus presentasi global crisis tadi. Bos mikir apa gue mikir apa. Bos pengen “what”-nya gue malah bikin “why”-nya. Akibatnya salah total. And mesti ulang. Ngabisin waktu sia-sia. Siapa yang rugi? Ya jelas gue yang rugi. Mesti ngulang dari nol lagi.

Dan Tuhan pake kejadian ini untuk nunjukin gimana ruginya gue. Kalo gue nanya why mulu sama Tuhan, gue bakalan keilangan waktu banyak dalam perjalanan hidup gue sama Tuhan. Kalo gue kebanyakan protes ngambek kaya anak kecil lagi nangis tereak-tereak di supermarket, perjalanan shopping keluarga itu mana bisa cepet selesai? Yang ada waktu kebuang percuma nungguin si anak ampe selesai rewelnya. Mungkin si anak nanya KENAPA sih Papa jahat ga beliin aku sepeda itu? Tapi si Papa tau anak ini belom bisa naek sepeda roda dua, tapi si Papa udah rencana beli sepeda roda tiga di toko sebrang.

Jadi buat apa nanya why mulu kalo Tuhan tau persis yang terbaik? Percumalah. Mendingan terima aja what He has given, what He has chosen for me. Mo protes juga ga ngaruh. Kalo Tuhan udah berkehendak siapa bisa lawan? Ya kan? Percaya aja a dream delayed itu bukan berarti a dream denied. Waktunya akan tiba when our desires will come to pass. Jadi, through the seasons, don’t fret, don’t fear. Kebanyakan fret malah ga bakalan nyampe-nyampe… hehehe…

I have a promise
You said if I delight in You
All my desires will come to pass

So through the seasons
I will not fret I will not fear
I know my time is in Your hands

A dream delayed is not a dream denied
When You live by faith and not by sight

I trust in You
I put my hands in the hands of the One
Who placed the moon
Even the stars will sing for You

So I could sing and I could dance
And give thanks in every circumstance
Because of You
Because of You
I trust in You

(”Trust in You” - Abundant Life Ministry)

February 18, 2009

dear boss(es)

kapan ari gue baca artikel tentang tipe2 bos yang ada di dunia:)
karena terinspirasi so posting an kali ini gue mo cerita tentang my dear bosses :)
dipilih in random, ngacak aja siapa yang keinget
dilarang protes :)

Ceritanya ini gue. A smart and beautiful staff *hehehe* yang lagi cerita-cerita
fet

Yang pertama keinget of course bos gue langsung. ama
seorang senior manager, mantan auditor yang jagoan technical database. Prinsipnya adalah “kalo udah masuk database ngapain ngeprint” :) Ampun, pak, becanda:) Kata-kata favorit-nya sehari-hari adalah repository, resources, copy as link, electronic sign off, tools, enablers dan sebangsanya. Selain itu dia juga punya responsibility laen ngurusin independence and conflicts. That’s why gue kerja ama dia. Untuk urusan ini, bisa dibilang kita bedua bener2 started from scratch. Jumpalitan ngurusin new things n new systems tanpa mentor tanpa guidance. Totally belajar sendiri, tapi ajaibnya lama2 jadi “berbentuk” juga. Sekarang sih udah lumayan lah at least systems udah established, tools and procedures udah jalan. Tinggal maintenance dan enhancement aja di sana sini. The best part of his leadership style is dia mau denger pendapat/input dari anak buahnya. Ga semua leaders loh punya “kerendahan hati” kaya’ gini. Kelebihan lainnya adalah rajin, cepat tanggap/responsive, mau belajar dan cepet belajar hal-hal baru, ga terlalu demanding dan bisa ngerti some things are just beyond our control *bcs most bosses I know can’t receive no for an answer”.

cyb
next, bosnya bos gue. Ma’am satu ini asli filipino, jagoan IFRS . Spesialisasinya accounting standards kalo ga salah. Mo tanya audit issues apa tanya dia aja lah. Seorang perfectionist kelas berat. Sangat teliti *bisa dibilang ini kelebihannya* Maunya sempurna. Ya mungkin karena kerjaan dia kali yang nuntut seperti itu. Tapi being a perfectionist can be very tiring loh Ma’am, terutama buat anak buahnya hehehe… Ma’am ini jarang senyum, serius terus. Tapi sebenernya kalo dia senyum manis banget loh. Tapi entah kenapa dia ga suka senyum :)

fec
next, masih bosnya bos gue. Galak banget. Tapi sebenernya dia suka ketawa loh. Dan ketawanya sama kencengnya sama marahnya hehehe… Ampun bu, becanda:) Tapi really smart, terutama untuk audit for telecommunication industry. Teleco companies yang guede-gede level SEC udah jadi kapling-nya deh. Kelebihannya adalah orangnya down to earth dan ga jaim sama sekali. kelebihan lainnya adalah (katanya) dia sangat fight untuk kemajuan dan kesejahteraan anak buahnya hehehe

riw
next, another boss. Ga terlalu kenal banyak sih, mangkenye pic ga mirip sama sekali:) Tapi my impression sih bapak satu ini a very polite jaVanese with jaPanese decision making style. Kalo mo ambil keputusan lamaaaaa…. banget. Pernah kita ngabisin 6,5 jam cuma buat discuss satu proposal aja. Ampuuuu…n deh masuk ruangan dia jam 2 lewat en baru bisa keluar dari ruangan itu jam 9 malem. Padahal gue ada UAS di kampus sore itu. Bikin maag gue kambuh karena stress ketinggalan ujian… Terpaksalah gue ujian susulan *padahal udah belajar semaleman* Kelebihannya? Don’t know much. Mungkin kelebihannya adalah very prudent. Bagus buat auditor. Dan juga sopan dan ramah sama siapa aja, bahkan sama the so-called “lowly” level.

bel
next, another bos. A super strong woman. Suaranya keras dan tegas. Very swift, gerak cepet, cekatan, and expecting the same from others. Sepertinya tipe koleris sejati. Very smart. Lulus magna atau summa cum laude gitu dari filipin. Kelebihannya adalah mau handle hal-hal kecil dan remeh temeh dan mau bantu kerjaan kita. Very attentive to details. Orang2 panggil dia emak jambul. Hehehe, maap ya Ma’am. Emang sih jambul nya tuh bener-bener ciri khasnya. Makes me wonder merk hairspray apa yang dia pake bisa stay strong all night and day :) Bagus buat iklan (*_*) Orangnya cantik, sama cantiknya seperti namanya…


last, the big boss. Ga bisa bikin avatar-nya, jadi gue nyomot karton aja. Rada mirip sih, bukan orangnya, tapi pemandangan jendelanya hehehe. Ga berani komentar banyak, secara bos gede gitu loh:) Tipe phlegmatis sejati. Fatherly style, kelihatannya slow motion, tapi ajaibnya very quick in decision making. Kelebihan lainnya adalah sangat melindungi bawahannya. Dia bisa go extra mile untuk protect us. Mikirnya sangat jauh ke depan, which is bagaimana bawahannya bisa terus maju pada saat dia no longer around/udah pensiun nanti. Sometimes his thoughts ga bisa dimengerti dan bikin bete, tapi beberapa tahun kemudian gue baru nyadar kalo his plan for me itu semuanya buat kebaikan gue juga… Oya, dia punya Palm Reader yang keren banget loh. Selebar buku tulis, trus bentuknya mirip agenda gitu jadi orang ga bakalan tau itu gadget. Very comfortable to read, ga pake sinar biru kaya’ PDA yang bikin cape mata. Sayangnya di Indo ga ada jual palm reader. Orangnya baek, suka kasih gue gratis e-book yang baru dia beli. Untungnya dia ga nawarin gue e-book tentang golf. Secara gue ga ngerti anything tentang golf :)

(some sort of) Disclaimer: You are not authorized to copy or refer or link to any information contained herein. This information is solely made for the purpose of iseng-iseng aja and has neither actual or perceived portray of professional opinion whatsoever. Sekali lagi, any opinion expressed hereinabove was not intended or written to be used for bikin credentials:) apalagi bikin proposal:) Thank you for considering the environmental impact of printing emails. Go paperless. Go green. Yu dadah yu bai bai.

October 24, 2008

bergembira dalam pekerjaannya - part II

Filed under: kerja kerja kerja

Friends, ini lanjutan posting sebelumnya (“bergembira dalam pekerjaannya”).

Gini nih, waktu itu kan gue dengan “sukarela” ngebantu kerjaan si bos itu (gue bilang sukarela karena itu truly kerja bakti, meaning gue ga nge-charge overtime, gue ga nge-charge di job code, gue ga nge-charge meals and other expenses, bahkan gue ga nge-charge ongkos taxi sama sekali, which is ratusan ribu from sudirman to semper). Emang sih lembur itu mahal sekali (habis waktu, habis tenaga, habis duit bayar taksi) *hiks*

Tapi gue bilang ama Tuhan, inget loh Tuhan apa yang saya lakukan ini. I did it just because I want to help them. Aku mau praktek mengasihi orang lain tanpa pamrih. Aku mau belajar mengasihi orang dengan tulus, tanpa embel-embel ini itu. FirmanMu bilang aku harus mengasihi sesama. Karena duniaku dan jam-jam hidupku habis di kantor, maka aku pilih mulai mengasihi orang-orang di kantor. Aku ga mau mulai jauh-jauh pilih anak kelaparan di Uganda atau Ethiopia. Too far. Aku mau mulai praktek mengasihi mulai dari lingkungan terdekat. Dan bentuk kasih yang ku pilih adalah dengan membantu pekerjaan dengan tulus… dengan apa yang kupunya…with the little I have…

Tapi Tuhan emang luar biasa. Apa yang gue tabur itu Tuhan lipat gandakan. Emang sih yang gue tabur itu “cuma” berupa kehilangan ratusan ribu rupiah untuk jam lembur, ongkos taksi dan meals, tapi tuaiannya berlipat ganda.

Cuma dalam sebulan setelah itu, favor of God mulai berdatangan. Tiga hari sesudah itu tiba-tiba gue terima order terjemahan 300an halaman dari satu majalah anak-anak. Ordernya cukup lumayan jumlahnya, dengan pekerjaan yang tidak terlalu sulit, deadline ga terlalu mepet, dan bisa dikerjain pas libur Lebaran. Lumayan menghasilkan lah. Trus bulan itu juga gue naek gaji, plus THR, plus bonus sebulan gaji! Intinya selama bulan September itu gue terima gaji 3x, plus extra “gajian” dari honor sebagai freelance translator. Bener-bener luar biasa…

Rasanya seneee…ng banget bisa dapet favor kaya’ gini. Firman Tuhan itu bener-bener nyata bekerja kalo kita berusaha mentaatinya. Emang sih waktu ngejalanin-nya tuh susah banget. Harus kasih buah sulung, perpuluhan, persembahan khusus, pembangunan rumah Tuhan, nabur ini, nabur itu, uahhh! Kadang-kadang gue suka nanya “Duh Tuhan, kapan sih bisa berhenti nabur terus?” Tapi dengan telak Tuhan jawab…

“Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kej 8:22)

Walah… artinya seumur hidup dong Tuhan?

“Iya, karena hukum tabur-tuai itu akan terus ada selama bumi masih ada. Dan hukum itu takkan gagal. Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai. Jika kau menabur kebaikan, kau akan menerima kebaikan. Kau menabur benih, kau menuai buah. Tapi selama menanti tuaian, jaga selalu sikap hatimu. Jangan merengut, menggerutu, mengeluh, merengek kapan dapat hasilnya. Berilah waktu untuk benih untuk tertanam, merambatkan akarnya sampai ke bawah, menguatkan dirinya. Memang proses ini perlu waktu, dan kau takkan lihat apa-apa di permukaan tanah. Tapi begitu proses pertumbuhan akar telah sempurna dan kuat adanya, maka benih itu akan bertumbuh cepat, dan berbuah-buah, terus berbuah, terus berbuah…”

Bener banget!!! Dulu-dulu gue suka menggerutu dalem hati kenapa gajinya kecil kalo kerjaan gue lagi banyak-banyaknya. Akibatnya? Ya ga dapet apa-apa. Yang ada cuma kesel, sebel, dan keuangan tetep pas-pasan. Tapi sejak Tuhan tegor my stinking attitude, gue bertobat. Bertobat dari sikap hati yang memandang kantor sebagai sumber penghasilan. Totally wrong. Wrong thinking. Sumber gue bukan kantor, tapi Tuhan. Tuhan-lah yang bisa buka sumbernya.

Kuncinya cuma sikap hati yang percaya kalo benih itu pasti dilipat gandakan. Sementara benih in the process of being dilipatgandakan, harus tetap menabur dalam pekerjaan baik.

Menabur bukan cuma dalam bentuk uang, tapi juga kelakuan sehari-hari. Sikap baik, kerja yang baik, jujur dan tulus pengen bantu orang kantor yang lagi kerepotan or kewalahan *tanpa pamrih loh*, pasti Tuhan lihat semua. Dan semua itu ga bisa kita lakukan dengan terpaksa. Pasti rasanya menyiksa kalo terpaksa. Apalagi kalo terbiasa hidup egois dan cuma mikirin diri sendiri.

Ini cuma bisa kita lakukan dengan penuh kasih kalo kita mengasihi Tuhan. Kenapa harus mengasihi Tuhan? Karena kasihNya-lah yang bisa mampukan kita untuk mengasihi sesama…

Trus gimana caranya supaya kasih Tuhan bisa tetap terus menyala? Susah kan bertahan mengasihi orang yang sulit dikasihi?

Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan aku oleh Roh-Nya di dalam batinmu,
sehingga oleh imanku Kristus diam di dalam hatiku dan aku berakar serta berdasar di dalam kasih.
Aku berdoa, supaya aku bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya aku dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang aku doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Inilah caranya. Ini doa yang gue bacain keras-keras tiap pagi. Diambil dari Efesus 3:14-20, kata ‘kamu’ diganti dengan ‘aku’. Ini doa yang diajarin sama salah satu leader di cell untuk didoain tiap hari, dari hari ke hari. Inilah caranya supaya kita terus berakar dan berdasar di dalam kasih…tetap bisa mengasihi orang yang sulit dikasihi…

Dan sejak gue praktek doa ini, gue ga tau gimana jelasinnya, tapi sejak Tuhan bilang Dia mengasihi saya, sejak itu hati gue jadi berubah 180 derajat. Gue jadi sabar dan malah jadi punya compassion sama orang paling jutek di kantor. Gue lihat wajah mereka, tatap matanya, dan yang gue lihat adalah orang-orang yang perlu kasih Tuhan…

Mungkin kamu yang lagi baca ini jadi bertanya “Trus apa hubungannya mengasihi sama terobosan keuangan?” Mungkin kamu pikir itu dua hal yang berbeda dan ga ada hubungannya sama sekali. Tapi buat gue itu sangat terkait. Kenapa? Karena kalo nabur-nabur-nabur karena itu perintah, artinya dilakukan dengan terpaksa, ga akan ada hasilnya. Yang ada cuma sebel duitnya berkurang, trus bete, trus ga percaya, trus emang bener ga ada hasilnya, trus kecewa. Eng ing eng… hati-hati.

One single bitterness akan merampok semua tuaian yang siap dituai. Yes, it’s that serious. Dan jangan lupa juga, sekali aja kita pahit sama Tuhan, langsung hilang deh tuh kasih mula-mula kita… Yes, again, it’s that serious…

So, you see the connection? KASIH itulah yang jadi dasar semua tindakan kita. Ga mungkin bisa nabur untuk rumah Tuhan kalo ga mengasihi Dia. Ga mungkin bisa bersikap baik sama manusia kalo ga mengasihi Sang Pencipta manusia itu. Ga mungkin ada favor orang lain buat kita kalo mereka ga suka sama kita kan? Dan kalo mereka ga suka sama kita, gimana mereka bisa berkati kita? Tuhan kan mesti pake orang lain untuk berkati kita? Masa pake kambing??? Kalo ga ada orang yang bisa dipake Tuhan untuk berkati kita, gimana Tuhan punya channel untuk blessing yang akan dikirim ke kita???

Jadi link-nya begini:

Skenario 1:

Si A mengasihi Tuhan –> menabur untuk pembangunan rumah Tuhan –> benih ditanam –> benih bertumbuh –> siap berbuah –> buahnya siap dituai –> tapi ga ada channel untuk kirim tuaian itu…

Surga mencari-cari channel/orang sebagai saluran untuk mengirim berkat itu ke si A…

Jika si A mengasihi Tuhan –> berbuat baik/melakukan pekerjaan baik kepada orang lain –> perbuatan baik diingat orang –> orang memberkati si A –> SI A HIDUP KELIMPAHAN

Skenario 2:

Si A mengasihi Tuhan –> menabur untuk pembangunan rumah Tuhan –> benih ditanam –> benih bertumbuh –> siap berbuah –> buahnya siap dituai –> tapi ga ada channel untuk kirim tuaian itu…

Surga mencari-cari channel/orang sebagai saluran untuk mengirim berkat itu ke si A…

Jika si A mengasihi Tuhan –> tapi malas berbuat baik kepada orang lain karena terbiasa egois mikirin diri sendiri (only me myself and I) –> si A mikir “kerjaan gue aja ga ada yang bantuin ngapain bantu orang lain?!” –> si A jadi orang cuek n dingin (but still mengaku a Christian) –> orang jadi “jauh” sama si A karena si A orangnya cuek n dingin n jaga jarak –> tidak ada orang yang bisa memberkati si A –> SI A HIDUP PAS-PASAN

Jelas kan sekarang? Menabur dan menuai itu hukum yang tak pernah gagal. Tapi inget tuaian itu ga bisa dilempar pake karung dari langit. Tuaian itu perlu saluran. Misalnya? Gaji, bonus, order yang datang sendiri tanpa perlu setengah mati cari sana-sini, koneksi, hadiah, panggilan pekerjaan, kepercayaan, posisi/jabatan, pengaruh/influence, power untuk bikin strategic decision, dan masih banyak lagi.

So, this is a hard lesson learned that I want to share with you. Sama sekali ga ada niat ngeguruin, engga, engga ada. Tujuan utama gue di sini cuma pengen bagiin pelajaran berharga yang Tuhan ajarin ke gue setelah bertahun-tahun ga ada terobosan keuangan sama sekali. Gue pengen smua orang yang baca bisa dapet “sesuatu” setelah baca ini. That’s all. Gue pengen jangan ada orang lain yang ngelakuin kesalahan yang pernah gue bikin. And above all, to tell the world bahwa Tuhan kita itu ga pernah menahan kebaikanNya…

Still I believe there is more
So I open my hands to receive
All that Your love has in store
Lord I believe…

Exceedingly abundantly
More than my minds can imagine
Love overflowing
You are bestowing
Day after day after day
Lord I believe…

(”I believe there is more” by Don Moen)

Bukankah firman-Ku baik terhadap orang yang benar kelakuannya? - Mic 2:7b

August 27, 2008

bergembira dalam pekerjaannya…

Filed under: kerja kerja kerja

kmaren malem pulang kantor jam 1 pagi…
skrg jam makan siang
tapi ga napsu makan
apalagi kerja:) huehehe
masih rada ga ‘on’ buat mikir yang berat-berat
so to lift up my spririt gue akan nge-blog aja…

topiknya tentang WPDA
WPDA tuh Waktu Pribadi dengan Allah or Time Alone With God
sebenernya pas kemaren pagi WPDA belom terlalu “ngeh” Tuhan pengen ngomong apa
Tapi yang pasti ada bagian yang lompat dari Alkitab

Ecc 3:22 Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?

bergembira dalam pekerjaannya…
Hmm apa Tuhan negor gue ya?
gue inget sebelom long weekend kemaren (16-17-18 agustus)
gue bener2 empet seempet-empetnya sama kerjaan
sampe2 gue ngepalin tinju ke Tuhan sambil marah-marah dan bilang gini
“Pokoknya ya Tuhan, kalo 3 hari merah ini gue mesti masuk kantor juga…
AWAS YA! AWASSSS! GUE AKAN RESIGN !!!
RESIIII……GN!!”

“Yang bener aja dong Tuhan, masa sih orang2 pada liburan long weekend
kite2 masuk kantor kaya orang gila ga punya hari esok aja…
Masih mending gajinya gede, udah gaji segitu-gitunya
Tuntutannya banyak bener
Okelah gue tau kerja di kantor akuntan emang gini
Okelah auditor emang lebih heboh kalo diaudit dibanding mengaudit
Okelah Tuhan minta gue kerja di sini
Oke I’ll do it for You
But enough is enough
Gue bersedia masuk long weekend ini tapi abis itu liat aja
Terserah Tuhan approve apa engga, pokoke gue resign!”

Itu kata2 gue minggu lalu
Tapi untungnya Tuhan baek
Udah tau gue marah2 gitu tapi Dia tetep diem aja
Ternyata Tuhan ga bales marah
Tuhan jawab kemarahan gue dengan manisnya
Ternyata gue ga perlu masuk kantor…
Gue langsung blep melempem kempes
Hilang marahnya
Ganti dengan bengong abis keilangan akal
Yah… ga jadi dong resign-nya hehehe

En then kemaren gue kerja ampe pagi
Tapi entah kenapa gue ngerjainnya tenang aja
Ga ada tuh rasa mangkel
Yang ada cuma satu rasa aneh di hati ini aja
Entah kenapa gue jadi berbelas kasihan banget sama bos2 gue
Yang ada cuma rasa compassion luar biasa di hati gue
Gue ga tega banget liat wajah bos2 yang biasanya galak itu keliatan begitu lelah
Lelaaaaa….h banget
Sampe2 gue ga sadar bilang gini
“Ibu pulang aja, Bu… Istirahat tidur dulu…
Besok kan meeting pagi Bu… jangan sampe besok ga bisa bangun…”

Terus terang gue kaget aja gue yang staf bisa ngomong gitu sama bos gede
(Emang siapa yang jadi bos hehehe kok gue yg nyuruh pulang)
Dia juga sepertinya kaget karena mungkin berasa aneh aja ada staf yang ngomong gitu
Tapi gue bisa liat dari matanya that she really needs it
She needs care and attention just like another human being
Lupakan posisi lupakan jabatan
Yang aku inget dia manusia yang dikasihi banget sama Tuhanku
Dan aku harus juga mengasihi dia..

Trus dia beneran pulang
N gue kerja terus sendirian ampe jam 1 pagi
Dan gue sama sekali ga berasa ditinggalin
Gue cuma pengen bos2 itu bisa istirahat
Karena besok mereka masih punya banyak battle yang harus di-fight
I can’t help much with their fight tomorrow
But at least I’m trying to help with the best I can tonight

N pas nyampe jam 2-an di rumah
Gue pengen langsung tidur
Eh entah kenapa ga bisa tidur2
Mulut gue gerak2 terus pengen bahasa roh
I know that I know Tuhan pengen gue doa syafaat buat mereka
Ok Lord, I’ll pray for them
Gue bawa mereka satu demi satu dalam doa gue
Gue rasain ada beban berat dalam diri ketiga bos cewe itu
Yang bikin gue ga bisa tidur sampe gue selesai syafaat buat beban mereka itu…

Then tiba-tiba Tuhan ingetin
“Ini loh artinya ayat dari WPDA kamu tadi pagi..”

Ecc 3:22 Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?

bergembira dalam pekerjaannya

Oooo… ini ya artinya Tuhan?
bergembira dalam pekerjaannya
bukan berarti workaholic
tapi dengan sukacita menjadi ‘perantara’ antara Tuhan dan manusia
antara Tuhan dan bos2 di kantor saya
pekerjaan saya bukan sekedar pekerjaan
tapi dalam pekerjaan itu Tuhan akan pertemukan saya dengan orang-orang
orang-orang yang perlu kasih Tuhan yang tulus
orang-orang yang perlu saya doakan
orang-orang berbeban berat yang perlu syafaat dari seorang pendoa
tapi bukan sekedar doa trus ga ngapa-ngapain
but then help them in practical ways..
bantuin kerjaan, bantuin ini, bantuin itu,
apa aja yang bisa diperbuat tanganku
karena kasih Tuhan pun bisa memancar melalui itu…
dan pada akhirnya
mereka akan menerima Kristus secara pribadi
dan hidup mereka takkan pernah sama lagi…

Makasih Tuhan dah ajarin pelajaran penting hari itu
Tolong aku Tuhan untuk mengerti bahwa jiwa-jiwa bos-bos ku itu lebih berharga dari apapun
Lebih berharga daripada pekerjaan lain di luar sana
Lebih berharga daripada gaji tinggi di luar sana

Jiwa-jiwa mereka yang perlu kasih Tuhan
Yang perlu kasih tulus sesama manusia
Terlepas dari posisi, jabatan atau pekerjaan
Tolong aku Tuhan untuk bisa mengasihi mereka seperti Engkau mengasihi mereka…
In Jesus name I pray
Amen

July 14, 2008

God’s family tree

Filed under: kerja kerja kerja

Friends, sebenernya sih gue mo lanjutin posting-an tentang marketplace ministry. Tapi berhubung gue lagi dapet ”pewahyuan” baru, so serial marketplace ministry kita tunda dulu dan kita selingi dengan posting-an ini dulu. So, here it comes… Be blessed!

Ceritanya gini nih. Udah hampir 5 bulanan ini gue lagi dapet kerjaan untuk ngurusin satu system yang ada hubungannya sama independence. For your information buat yang baru dateng di blog ini, gue kerja di kantor akuntan. Di kantor ini gue kebagian tugas buat ngurusin yang namanya auditor independence.

So, salah satu bagian dari independence ini adalah independence system. Dalam system ini (yang sifatnya online) ada 3,6 juta data perusahaan seluruh dunia. Yap, you got it right, 3.6 million entities all over the world dalam satu website. Dan karna gue kerja di Indonesia, gue kebagian ngurusin companies yang ada di Indonesia. Tugas gue adalah membereskan family tree atau corporate structure perusahaan2 yang ada di Indonesia. Artinya gue mesti bikin/benerin silsilah perusahaan2 itu, nentuin independence kantor akuntan kita terhadap perusahaan-perusahaan itu, and finally harus bisa analyze apakah kantor akuntan kita punya conflicts of interest kalo mereka minta kita jadi akuntan atau konsultan mereka.

Step pertama adalah benerin family trees perusahaan2 itu. Artinya perusahaan A adalah subsidiary/anak perusahaan B, trus B dimiliki oleh C, C dimiliki oleh D tapi tidak controlling, hanya significant influence. Eh tapi D juga ternyata merupakan subsidiary E yang dimiliki oleh F. Udah cape-cape dibenerin, eh ternyata E mau diakuisisi sama G yang adalah subsidiary dari H. And ternyata ultimate shareholder H adalah foreign companies yang baru diakuisisi juga sama I. Huayaa….

Belom lagi nentuin materiality dari subsidiaries itu terhadap parent-nya. Cari tau berapa ownership percentage, total assets masing-masing parent and subsidiaries, dan juga income from continuing operation before income tax-nya, trus diitung deh. Kalo ga material ya engga dimasukin di family tree. Tapi kalo material dia harus dicantumin di family tree itu.

Selama ngerjain ini, gue dibantu sama satu staff. To protect his identity, saya singkat namanya menjadi SG. SG stands for Staf Ganteng huehehe. *Mudah2an dia ga pernah nemu blog ini kekekekek tapi kalo dia nemu ya gapapa juga sih* Kadang-kadang saking terbenamnya kita dalam website yang isinya ”silsilah-silsilah” perusahaan ini, kita jadi suka error:) Misalnya kalo seharian abis chatting ngurusin family trees company A punya subsidiaries B, C, D, tapi ternyata dia jual sekian persen sahamnya ke E, eh tau-tau si A jual lagi sahamnya ke E, trus kita ketuker-tuker informasi terakhir karena kebanyakan baca belasan laporan keuangan plus laporan kepemilikan saham yang gonta-ganti terus, tau-tau dia bisa end up discussion like this:

SG: Mbak mo pulang duluan ya
Me: O ya gapapa
SG: Mo ke PRJ dulu nih, supaya ntar ga kemaleman
Me: Okay

*senyap for a few seconds*

SG: Btw, PRJ punya subsidiary ga?

Me: Huahaha *masukin emoticon kepala kuning nyengir guling-gulingan*

Besok-besoknya…

SG: Mbak, kalo dipikir-pikir kita tuh satu family tree
Me: Maksudnya?
SG: Iya, mbak kan Togatorop, berarti kita satu tree
Me: Tapi kamu kan Simatupang, berarti kamu global ultimate parent, dan saya subsidiary-nya

*PS for readers: for those yang bukan Batak, please be informed kalo Simatupang itu punya tiga anak yang namanya Togatorop, Siburian n Sianturi. FYI only*

SG: Sebenernya saya Siburian, tapi yang dipake Simatupang-nya
Me: O berarti kamu sama-sama subsidiary juga
SG: Iya, bukan parent jadi ga bisa approve
Me: Huahaha….

Ini salah satu efek samping buat kita berdua akibat dari berbulan-bulan ngurusin family tree perusahaan-perusahaan di seluruh dunia. Salah satu akibat samping lainnya adalah I can’t stop thinking about corporate structure tiap kali gue liat/baca nama perusahaan Tbk di depan mata gue. Misalnya pas lagi ada stand pameran ban mobil, trus ada nama perusahannya terpampang, mis: Multistrada Arah Sarana Tbk, yang gue pikirin bukan ban mobilnya tapi gue langsung mikir siapa parent-nya siapa subsidariesnya :)

Atau pas liat kantong plastik kresek Alfamart, otak gue langsung mendadak sontak processing and running reports: PT Alfa Retailindo Tbk, dibeli oleh PT Carrefour Indonesia which is held by Actis, and its global ultimate parent is Carrefour located in France, not an audit client :) Ato pas lewat Makro waktu mau brangkat cell di Gading, memory gue langsung retrieve information yang ada di database kepala gue: PT Makro Indonesia, dimiliki oleh SHV Holdings NV headquartered in Netherlands, one of our audit clients :)

Informasi2 gini adalah salah satu database penting buat gue karena siapa parent siapa subsidiaries akan sangat menentukan apakah kantor kita independen atau tidak terhadap entities apapun yang ada dalam family tree-nya. Belom lagi kalo mesti ngecek apakah kita punya conflicts of interest terhadap mereka. So, selama proses benerin ”silsilah” ini, gue ga boleh sembarangan narik data satu company dari tree satu ke tree lainnya. Karena akibatnya bisa panjang. Once ketarik, semua independence restrictions yang ada di family tree sebelumnya akan hilang, atau sebaliknya. Once ditarik, company yang sebelumnya ”ga ada apa-apanya” (artinya bukan priority accounts, bukan listed company clients, bukan listed company’s affiliates), bisa jadi akan inherit semua restrictions yang telah ada di family tree yang baru.

Misalnya ada company A yang tadinya dia stand alone di satu tree. Artinya dia bukan priority accounts, ga ada restrictions sama sekali. Siapa aja all over the world boleh ”ngapa-ngapain” company itu. Artinya, mo audit kek, mo kasih tax service kek, transaction advisory kek, terserah aja. Kaga perlu minta ijin sapa-sapa, ga perlu approval.

Tapi kalo gue tarik company A ini ke satu tree yang fully complicated alias complex banget, maksudnya dia priority accounts yang dianggap penting sama kantor kita, eg total assetnya above sekian triliun rupiah dan punya subsidiaries everywhere in the world, si company A yang tadinya ga ada apa-apanya ini akan mendadak menjadi bagian dari satu keluarga/satu tree khusus yang ga sembarangan treatment-nya. Kalo mo ada service tertentu di negara ini, harus minta approval dulu sama global partner. Why? Karena sebagai bagian dari keluarga besar tertentu, ada begitu banyak restrictions yang menyertainya. Entah restrictions karena dia SEC registered, karena dia publicly listed, karena dia priority accounts, ato sekian banyak alasan lainnya.

Dari sini Tuhan ajarin lagi satu hal. Tuhan bukakan satu hal baru yang ga pernah gue nyadar sebelumnya. Sewaktu gue terhilang, gue dicari sama Tuhan. Persis seperti system admin yang nyari-nyari data satu company yang missing dari family tree-nya. Dan pas dia finally ketemu satu company itu (among 3.6 million companies data), dia akan seneng karena akhirnya bisa tarik the missing sheep eh missing company kembali ke keluarganya. Begitu juga Tuhan. Tuhan cari saya di antara ratusan juta penduduk muka bumi ini agar Dia bisa adopt saya kembali ke silsilah keluargaNya. Keluarga Allah.

Seperti satu company kecil tapi dia merupakan salah satu anak dari perusahaan raksasa yang ada dalam priority accounts, maka otomatis company kecil itu akan menerima treatment seperti a big great giant company lengkap dengan semua special service plus prioritas yang menyertainya. Dan bukan itu aja, ada banyak restrictions mengenai company itu berdasarkan international/professional standards. Bukan karena nama company kecil itu, tapi karena ”siapa” yang menaunginya, siapa parentnya, siapa yang memilikinya. Dan saya persis company kecil itu. Begitu saya ditarik masuk ke keluargaNya, otomatis saya akan inherit semua restrictions yang menyertai para crown prince and princes. Saya bukan siapa-siapa, ga ada apa-apanya. Tapi karena Tuhan udah adopsi saya, Tuhan udah tarik saya ke dalam keluarga kerajaan Allah, saya sekarang adalah ahli warisNya. Saya calon raja yang akan memerintah di bumi (Wahyu 5:10).

Dan sebagai anakNya, saya dikasih/dicap restrictions tertentu yang ga bisa disentuh oleh setan. Sebagai anak Allah, ada banyak restrictions yang ga bisa diutak-atik sama setan karena saya sepenuhnya udah jadi milik Allah.
- Setan bisa ganggu saya, setan bisa goda saya, tapi dia sama sekali ga berkuasa atas saya, karena saya udah dipindah dari kerajaan setan ke kerajaan Allah (Kol 1:3-14).
- saya adalah bagian dari tubuh Kristus dan setan tidak mempunyai kuasa atas saya (1Kor 12:14-27, Luk 9:1, Luk 10:19)
- saya didudukkan bersama dengan Kristus di alam surgawi (Ef 2:4-6)
- saya didudukkan di alam surgawi jauh di atas semua penguasa kegelapan dan segala sesuatu ada di bawah kaki saya (Ef 1:20-23)

So, dari sini ada banyak pelajaran yang Tuhan lagi ajarin ke saya. Tuhan bisa pake cara apa aja to reveal Himself, to reveal who I am in Christ. What is my new identity in Christ. Dan saya bener-bener amazed bagaimana Dia pake hal2 kecil dalam keseharian saya, dalam pekerjaan rutin saya, untuk mengajarkan saya tentang kebenaran firman Tuhan.

Thank you Lord for adopting me
Thank you Lord udah tarik saya jadi bagian dari keluargaMu
Teach me just to click ”accept” button in Your system
Don’t ever allow me to click ”reject” button when it comes to Your plan…

And sebelum posting-an ini ditutup, let me persembahkan one of my favorite songs from Israel & New Breed: IDENTITY from Live - A Deeper Level album… This song has been repeated a thousand times in my earphone:)

You are my Father, You are my Father
You are my future and destiny
Yeah yeah yeah yeah

You are my Father, You are my Father
In you I found my identity
Yeah yeah yeah yeah

Lay Your hands on me
Tell me who I am
I can do all things
If You say I can

Show me I am free
Free to accomplish
Your plan for me

You are my Father, You are my Father
You are my future and destiny
Yeah yeah yeah yeah

You are my Father, You are my Father
In you I found my identity
Yeah yeah yeah yeah

December 28, 2007

What’s your priority?

Filed under: kerja kerja kerja

“What’s your priority…?”

Friends, pernah ga kamu ditanyain what’s your number one priority in your life? Someone did. Someone asked me that question a few weeks ago. And He’s God.

Ceritanya gini. Waktu itu hari Selasa. Jadual hari itu bentrok semua ga karu-karuan. Pertama, ada ujian di kampus jam 6 ampe 7.30 di salemba. Kedua, mesti dateng cell jam 7 malem di gading. Ketiga, dan yang paling ribet, ada banyak kerjaan di kantor padahal boss gue lagi meeting seminggu di luar negeri. Kalo boss gue ga ada di kantor, gue bener-bener butek. Ga ada tempat bertanya (soalnya confidential). Masalahnya, semua kerjaan dia mesti gue yang handle. Mateng deh gue, padahal kerjaan boss gue itu susah sekali…Dan, kalo ada apa-apa, boss-nya boss gue langsung tanya-tanya ke gue. Haiyaaa…

Karena hari itu gue buru-buru (sekaligus bingung mau pilih mana: ke kampus atau ke cell), plus ga ada boss tempat bertanya, akhirnya gue kerjain semua sendirian dengan kekuatan gue sendiri. Dan karena pusing kerja sendirian, akhirnya waktu gue tersita di kantor dan sama sekali ga bisa ikut ujian plus ga ikut cell…

Dan kerja sendirian itu resiko-nya besar. Kerjaan gue ga ada yang kontrol, ga ada yang ngecek dulu, tapi mesti langsung diserahin ke boss-nya boss. Dan akibatnya: ada kesalahan gue yang kelewat…

Pas gue nyadar, gue buru-buru ngaku. Dan akibatnya boss-nya boss itu marah-marah sama gue, dengan suaranya yang tinggi melengking. Dia bilang gini “Kerja ga bener! Loe kerja apa ngelamun? Loe ngerti ga sih apa yang mesti loe kerjain? Blah blah blah…” Honestly, kata-katanya dia tuh bener-bener nyakitin. Dalam hati gue pengen protes. “Udah bagus gue bantuin. Ini kan kerjaan boss gue. Wajar dong kalo staff-nya salah-salah dikit. Lagian juga sapa suruh cuma assign 2 orang di tim ini. Di negara lain tuh untuk tim beginian minimal ada 6 orang! Dan 6 orang-nya mereka itu bener-bener fully dedicated 100% khusus untuk kerja itu aja. Soalnya ini kan kerjaan rumit, confidential lagi. Ga bisa nanya-nanya sembarangan ke orang laen. Lah di Indonesia? Cuma ada 2 orang: gue dan boss gue. Udah gitu boss gue juga cuma bisa 50% dedicated ke tim ini karena dia sendiri masih punya responsibility lain yang ga kalah beratnya. Dan gue juga mesti bagi waktu 50% bantuin tim audit. Cuma ngandelin 2 orang aja mana bisa. Dengan kondisi tim kaya’ gini, you expect a perfect work from me??? From us??? Yang bener aja dong! Ga adil!” Rasanya gue pengen bales ngomong gitu ke boss gue, tapi gue tahan aja semuanya karena gue tau gue yang salah.

Lagian kalo gue berusaha bela diri juga percuma. Udah jelas gue yang salah kok. Dan gue juga tau gue mesti belajar bertanggung jawab atas tanggung jawab pekerjaan gue. Kalo gue bales ngejawab, berarti gue ga berani tanggung jawab dong…

Dan abis dimarah-marahin gitu, gue malah jadi marah-marah sama Tuhan. Gue bilang ama Tuhan “Tuhan, ga adil! Kenapa kerjaan saya susah banget? Kenapa tanggung jawab-nya gede banget? Padahal saya kan cuma administrative support di sini, dengan gaji seorang admin, tapi kenapa saya mesti dikasih kerjaan yang rumitnya kaya auditor? Sementara temen-temen saya yang sama-sama admin kerjaannya ringan banget. What about me? Mesti ngurusin quality, risk, legal, claims, independence, compliance, conflicts… Pusing! Belom lagi maintenance buat system, termasuk database-nya. Gile aje semua spesialisasi tumplek blek jadi satu payung di sini. Tuhan kan tau betapa tebelnya dokumen yang mesti saya baca tiap hari demi untuk catch up… Udah gitu kuliah lagi. Eh udah ambil S2, trus Tuhan minta saya committed di cell. Gimana mau komit di cell kalo kerja+kuliah aja saya udah mo keabisan napas? Apa lagi, Tuhan? Kurang apa lagi? Kurang apa lagiiiiiiiiiii…….????”

Gue bener-bener lampiasin semua keluhan gue saat itu. Dan setelah cape marah-marah sendiri sama Tuhan, akhirnya gue diem. Dan setelah itu dengan lembut Tuhan cuma tanyain satu hal ”What’s your priority?”

Deg! Gue kesentak. “What’s your priority?” Iya ya, what’s my priority? Kalo gue bilang my first priority is Jesus, gue tau gue boong. Yang sebenernya sih ME and JESUS. Jadi ME yang nomor satu, baru JESUS. Trus ditanya lagi “ME itu apa aja?” Gue pikir-pikir, dalam ME itu yang ada yah MY job, MY study, MY ini, MY itu dan lain-lainya. Biasanya my job nomor satu, serius kerja, cuekin dulu telpon or sms dari temen-temen cell. Pokoknya my job kelar dulu, baru ikut kuliah. Kalo kuliah dah selesai, baru dateng ke cell. Pokoknya dateng cell kalo sempet aja. Kalo ada waktu aja. Kalo ga ada waktu ya ga dateng…Pokoknya it’s’ all about me me and me dulu deh, yang laen menyusul…

Dan kemudian dengan lembut gue dituntun untuk belajar satu hal. Roh Kudus tiba-tiba gue diingetin sama satu lagu sekolah minggu, judulnya JOY. Artinya Jesus, Others and You. JOY: Jesus-Others-You. Dengan satu kata ini JOY, gue diajarin beginilah seharusnya prioritas hidup gue sebagai anak Tuhan. Yang pertama JESUS. Yang kedua OTHERS (sesama). Yang ketiga YOU (baru diri sendiri).

Dari sini gue belajar satu hal. Tuhan mau ngajarin kalo mengutamakan kantor dibanding cell itu belom tentu bagus hasilnya. Buktinya gue bela-belain lembur, bela-belain ga ikut ujian di kampus, demi untuk nyelesaiin urusan kantor, tapi toh tetep aja ada kesalahan di kerjaan gue. Priority yang gue pilih itu belom tentu priority yang Tuhan mau.

Pelan-pelan Roh Kudus ajarin gue kalo priority hidup kita tuh seharusnya udah berubah. Tuhan Yesus selamatkan hidup gue bukan cuma supaya gue sekedar selamet doang. Kalo gue dah terima keselamatan, abis itu gue mesti “keluar” dan mencari OTHERS atau sesama gue yang masih terhilang, masih belum menerima anugerah keselamatan dari Tuhan.

Ga bisa mentang-mentang udah ada jaminan masuk sorga trus gue tenang-tenang aja hidup sendiri, just Me and Jesus. Orang laen peduli amat lah, yang penting JUST ME AND JESUS. Engga, ga bisa gitu. Gue mesti letakkin OTHERS sebagai satu prioritas di atas ME, di atas gue sendiri. Dan on top of all, ada JESUS yang akan memampukan gue melakukan semuanya… Melakukan semua tanggung jawab yang Tuhan bebankan pada diri gue, sebagai staff di kantor, sebagai mahasiswa di kampus, sebagai anggota cell, dengan semua komitmen yang menyertainya…

So, sekarang gue belajar untuk switch urutan prioritas gue. Setelah pelajaran dimarahin bos ini, gue jadi belajar banyak hal. Percuma bekerja dengan kekuatan gue sendiri. Hasilnya ga sempurna. Percuma menomorsatukan pekerjaan, kalo hubungan dengan sesama anak Tuhan ditinggalkan. Percuma belajar keras, kalo ga ada hikmat dari Roh Kudus. Percuma berusaha sendirian, kalo Tuhan ga ditempatkan di atas segalanya…

Emang ga gampang ngubah prioritas yang udah tertanam bertaon-taon di kepala gue. Tapi gue mau belajar. Gue mau belajar gimana memenuhi amanat agung sebagai orang Kristen. Gue mau belajar gimana membawa jiwa-jiwa kepada Kristus. Gue mau belajar dari temen-temen cell gue gimana punya hati bagi jiwa-jiwa. Gimana tetap terus berdoa tanpa pernah menyerah bagi jiwa-jiwa di sekeliling gue. Gimana memberi hati dan perhatian bagi mereka yang terhilang, walopun untuk itu gue harus rela keluar waktu, tenaga dan uang… Gue mau belajar gimana mengedepankan keselamatan orang-orang di sekeliling gue, di atas agenda pribadi gue sendiri, tanpa menelantarkan tanggung jawab pekerjaan dan pendidikan yang Tuhan kasih buat gue.

I know it’s not easy, Lord, but I believe You’ll help me…

J = Jesus
O = Others
Y = You

October 26, 2007

let’s sing for joy

Filed under: kerja kerja kerja

Friends, belakangan ini gue bete berat. Apalagi kemaren, ugh bener-bener deh! Bawaannya sewot aje. Sampe temen2 gue pun kena getahnya, ga cuma staf, senior, ampe manajer aja gue semprot.

Gara-garanya sih mungkin karena cape. Soalnya kan sekarang ini kan gue lagi bantuin tim audit di kantor klien. Dan untuk penugasan ini deadline ketat banget, cuma 75 hari untuk klien segede gaban. Padahal tiap hari gue juga mesti kuliah jam 5. Jadinya tiap hari bawaannya buru-buru aja: ngikut bos meeting ke sana-sini, balik lagi ke kantor klien, trus masih harus ngadepin temen2 auditor yang minta ini itu, plus mesti fight gimana harus kerja cepet dengan fasilitas minim di kantor klien (internet connection yang super lemot dan bikin frustasi, ga ada fasilitas standar, minum aja ga dikasih sama sekali, ruangan auditor yang kecil seemprit banget plus super sesak, ugh… bener-bener klien terparah yang pernah gue datengin)

Belom lagi kalo dah sore, kepala gue dah pusing mikirin tugas kuliah yang belom selesai, buku buat ujian belom ketemu, pengen pulang cepet supaya sempet cari buku dulu ke gramedia, eh… malah gue direcokin terus sama ini itu. Ugh, rasanya gue pengen keluar aja dari kerjaan ini. Gaji-nya admin, tapi tuntutannya auditor. Bener-bener ga seimbang…

Sampe tadi sore, pas lagi bete-betenya, gue ngeluh dalem hati (sama Tuhan juga mungkin) karena gue mesti ikut meeting lagi. Gue complain berat kenapa Tuhan kasih gue beban dengan salary yang ga seimbang. Eh, ga tau kenapa Tuhan malah pake mulut temen gue untuk ngajar gue. Temen gue tiba-tiba nyeletuk ”Gapapa lah Fen, kan elo jadi tau semuanya, lebih pinter dari auditor malah…”

Deg! Gue kaget. Gue ga pernah berpikir sejauh itu. Iya ya, seharusnya gue bersyukur Tuhan kasih gue kesempatan buat belajar. Okelah gaji ga seberapa. Tapi kesempatan belajarnya kan jadi besar banget. Gue pikir-pikir, gue beruntung banget bisa ikut meeting sama petinggi-petinggi perusahaan minyak besar ini. Padahal, siapa sih gue? Cuma sekretaris dadakan di audit project ini. Tapi, dengan gitu, gue jadi belajar banyak tentang accounting, tentang audit, tentang industri perminyakan negara, masalah2 internal mereka, kenapa perusahaan minyak indonesia kalah tertinggal dibanding negara lain, bahkan sekarang gue jadi ngerti kenapa negara penghasil minyak terbesar no. 17 di dunia ini harus bergulat dengan harga minyak yang selangit. Kalo dulu gue masih blank dengan istilah-istilah yang mereka omongin, sekarang gue bisa ngerti dan malah jadi semakin tertantang untuk lebih ngerti dan lebih ngerti lagi. Semakin gue belajar, semakin gue ingin tau. Dan herannya, gue jadi makin tertarik untuk mempelajari data-data yang dikasih klien ke gue. The more I know, the more I realize how much more I need to know… The more I read, the more I want to learn…

Gue jadi nyesel kenapa gue mesti ngeluh dan ngomel-ngomel sama Tuhan. Gue juga nyesel kenapa gue biarin iblis mengambil sukacita gue sampe gue ngomel-ngomel dan bersikap jutek sama temen2 auditor. Seharusnya gue ga boleh gitu. Justru seharusnya gue membantu mereka yang lagi stress berat dengan deadline ketat dan beban pekerjaan segunung. Gue sih masih mending bisa pulang sore buat kuliah lagi. But what about them? Mereka belakangan ini baru pulang jam 1 pagi (bahkan minggu lalu jam 5 pagi!), padahal deadline masih sebulan lagi…

Dan pas saat teduh pagi ini, Tuhan ingetin:
”Do all things without murmurings and disputings… among whom ye shine as lights in the world” (Phi 2:14-15, KJV)

Tuhan ingetin gue untuk tidak ngeluh, ngomel-ngomel, bahkan berantem (disputing), tapi malah harus jadi terang untuk sekitar gue. Emang sih kalo lagi banyak kerjaan gue cenderung dispute sama temen gue dan berkeras kalo itu bukan kerjaan gue, tapi kerjaan elo. Walopun mungkin gue bener, tapi bukan gitu caranya. Bukan dengan jutek dan ngomel, tapi dengan kasih supaya kita bisa jadi saksi Kristus yang jadi terang buat orang-orang di sekitar kita.

Dari Filipi yang gue baca pagi ini Tuhan ingetin gue tentang sukacita, tentang joy, tentang let sing for joy, yang belakangan ini rasanya udah gue lupain. Rasanya gue udah lupa tentang joy di tengah semua tekanan ini. Rasanya gue udah lupa bagaimana joyful-nya gue waktu pertama kali gue nyanyiin lagu Let Sing for Joy-nya Don Moen yang jadi inspirasi didirikannya blog ini. Kenapa juga gue mesti ilang sukacita cuma gara-gara kerjaan? Kenapa gue mesti ilang sukacita cuma gara-gara banyak tugas kuliah? Paulus aja dipenjara masih bisa bersukacita. Apalagi gue…

Ampuni saya Tuhan yang ga tau bersyukur
Ampuni saya yang gagal jadi saksi Kristus di pekerjaan saya
Lord, bring back the joy
So that I can sing again:
Let’s sing for joy to God our strength

Sekarang saya mau berdoa untuk para auditors yang mungkin lagi baca blog ini
With all my heart I say: Bless them Lord
Berikan mereka…
…stamina to stay up in those long tiring nights
…hikmat untuk mengambil keputusan
…kejernihan pikiran untuk mengatasi masalah
…keteguhan untuk selalu berpegang pada honesty and integrity
…kemampuan untuk stay strong with their faith
…keberanian untuk piercing the darkness with the Kingdom’s principles
In Jesus name I pray
Amen

August 13, 2007

lift up your standard

Filed under: kerja kerja kerja

Friends, gue baru terkaget-kaget loh kalo standarNya Alkitab, yang bikin kita harus lift up our standard dari hari ke hari, sering bentrok sama standar orang-orang di sekeliling kita …

Semakin kita mengenal firman Tuhan, semakin kita dituntut untuk naikin standar kita (lift up our standard) dalam semua aspek hidup kita sehari-hari. Tapi kadang-kadang standard kita itu terlalu tinggi buat orang2 sekitar kita…

Gara-garanya gini nih. Gue baru tau kalo ada atasan yang ngerasa risih kalo nerima pekerjaan yang terlalu bagus dari staf-nya. Ceritanya gini. Kan bos gue mau meeting sama bos-nya dia. Trus gue diminta persiapin bahannya. Ya udah gue bikin aja sesuai instruksi. Trus waktu gue kasih, eh dia malah bilang “Ga udah terlalu bagus deh, saya jadi risih…”

Haaa? Asli gue bengong. Kok jadi risih nerima pekerjaan bagus? Gue jadi bertanya-tanya sendiri apa yang salah dengan pekerjaan yang bagus.

Temen-temen juga suka nanya sama gue kenapa gue kok semangat banget kerjanya. Kenapa gue kok mau-maunya kerja rajin, nerima banyak banget kerjaan, dengan gaji yang… gituuuuu deh:)

Well friends, kalo gue ceritain semuanya, pasti panjang banget. Tapi intinya satu: Tuhan yang ubahkan gue. Tuhan yang buka pikiran gue, buka pikiran sempit gue, kalo kerja tuh bukan buat gaji semata. Emang sih gue ga muna’ kalo gaji tuh bisa boosting semangat kerja. Tapi baru dua tahun ini gue nyadar kalo bukan cuma gaji yang bisa boosting semangat kerja. Booster yang paling utama itu cuma satu: kerja buat Tuhan dan bukan buat manusia… (Kol 3:23)

Senior pastor gue pernah bilang satu kalimat penting. Dan kalimat inilah yang terus gue inget sebelom gue mulai kerja. “Work at the level of excellence with an attitude of humility”

Maksudnya? Jangan pernah ngasih hasil kerja yang ecek-ecek, yang asal-asalan, harus yang excellent (inget: excellent loh, bukan perfect!). Kenapa mesti excellent? Karena Tuhan kita itu excellent, dan kita adalah anak-anakNya yang fearfully and wonderfully made. Jadi ciptaan yang fearful dan wonderful itu harus selalu berada pada tingkat excellent, ga boleh mediocre, ga boleh average, ga boleh sedang-sedang saja. Anak Tuhan punya standar khusus. Bukan standar dunia. Tapi standarnya Tuhan. Apa standarNya? StandarNya: bekerja seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia…

So, kalo kerja buat Tuhan (ga perlu di gereja, di kantoran pun itu juga kerja buat Tuhan), ga boleh sembarangan alias asal-asalan. Harus berikan yang terbaik. Sekali lagi: YANG TERBAIK.

Tapi kalo udah bisa berikan yang terbaik, jangan sombong. Jangan mentang-mentang trus petantang petenteng. Ga boleh itu. Inget itu semua bisa terjadi cuma karena kasih karunia Tuhan aja. Harus tetap rendah hati walaupun mungkin kamu (kadang-kadang) lebih bener dari orang lain. Dan caranya untuk tetap rendah hati adalah: inget kalo kita bisa di tempat itu karena Tuhan yang bawa kita ke sana. Inilah maksud dari “with an attitude of humility”

Sekali lagi: work at the level of excellence with an attitude of humility… Itu yang jadi pedoman gue dari hari ke hari…

Gue naekin standar gue bukan karena bos gue. Bukan karena kantor gue. Bukan karena pekerjaan gue. Bukan karena siapa-siapa, tapi karena TUHAN yang minta… Because my God deserves the best that I can give…

So friends, kalo kamu diejek sama temen kantor kamu karena kamu dianggap kerajinan, dianggap aneh sama temen kantor kamu karena kamu mau kerja keras dengan gaji kecil, jangan kecil hati… Jangan patah semangat… Jangan pernah menyerah… Inget standar kamu sekarang udah beda. Standar kamu itu standar yang dibuat oleh Tuhan. Standar itu di level yang disebut excellence. Tetap terus stay excellent no matter what people say. Ga peduli orang ngomong apa, yang penting kita berusaha menyenangkan hati Tuhan. Inget Tuhan selalu liatin kita. Selalu perhatiin kerjaan kita…

*PS: Bukan hanya God yang notice pekerjaan kamu, tapi orang-orang yang ga kamu kenal pun akan notice kalo kamu work at the level of excellence. Mungkin sedikit sharing tambahan gue ini bisa membesarkan hati kamu. Beberapa minggu lalu gue denger berita dari senior managers gue kalo bos-nya dia (yaitu division head) gue cerita bahwa gue tuh jadi rebutan di divisi laen. Ada orang-orang lain di divisi lain (yang gue ga kenal sama sekali!) yang rebutan pengen minta gue jadi staf-nya mereka. Tapi bos itu langsung nolak seketika itu juga karena dia ga ijinin orang laen ambil gue. Dia tetep pengen gue kerja sama dia. The point is: terus lift up your standard, friends… Jangan pernah turunkan standar kamu, terus dan terus lift up your standard! And see how God promotes you with His own way…in His own time…

ga bisa tidur? loh kok bisaaaa…???

Filed under: kerja kerja kerja

Beberapa hari yang lalu temen2 gue di kantor lagi kena musim mata bengkak. Tau ga musim mata bengkak tuh apa? Itu tuh penyakit kurang tidur. Ciri-cirinya adalah: mata bengkak, sedikit merah (jangan banyak-banyak, kalo merahnya banyak itu sih sakit mata:), daerah sekitar mata menghitam, dsb.

Dan kalo pagi-pagi ketemu orang2 begini, satu pelajaran berharga yang gue pelajarin selama 7 taon di kantor ini adalah: stay away from them! Kenapa? soale orang2 yg cirinya gini pasti kurang tidur. Dan orang kurang tidur tuh biasanya pemarah dan sumbunya pendek. Jadi ga bisa diajak ngomong basa-basi. Pasti bawaannya gampang marah kalo ada satu hal aja yang ga beres, atau ada satu pernyataan remeh yang dia ga suka atau dianggap ga penting buat dia.

Dalam 2 hari berturut-turut ada 3 orang di sekitar gue yang lagi kena musim mata bengkak. Yang pertama lagi deadline jadi baru pulang jam 4 pagi. Yang kedua, masih mending, bisa pulang jam 2 pagi, tapi baru 2 jam tidur, eh bayinya nangis minta susu. Yang ketiga, bos gue sndiri (wekekek:)

Si bapak bos ini pagi-pagi nongol ke tempat duduk gue, dengan mata bengkak, sedikit merah, belom shaving, so keliatan cape n berantakan banget.

Trus dia langsung curhat “Kemaren malem saya ga bisa tidur.”

Dengan hati-hati, dengan asumsi orang kantor smua galak kalo kurang tidur, gue nanya walopun gue dah tau pasti jawabannya, “Kenapa Pak? Mikirin apa?”

And I have already guessed, he said “Mikirin kerjaan…”

Trus gue langsung nyerocos aja “Aduuuh Pak, sayang banget ga bisa tidur cuma gara-gara mikirin kerjaan…” (Sok tau banget ya gue???hehehe)

Gapapa deh gue dibilang sok tau ato apa. Gue cuma pengen sharing aja pendapat gue sama si bos. Soalnya gue ga tega ngeliat bos gue jadi kucel dan kecapean gitu. Menurut gue, kalo kita stay up all night till morning, mikirin kerjaan, sebenernya tuh rugi dua kali. Rugi pertama, rugi kehilangan tidur. Rugi kedua, rugi kehilangan waktu yang kebuang sia-sia cuma buat mikir tapi sebenernya kerjaan tetap aja ga selesai. Iya kan?

Masih mending lah kalo ga tidur tapi kerja, so besok paginya kerjaan selesai walopun ga tidur. Artinya kan satu masalah selesai? (masalah kerjaan dah selesai when morning comes). Tapi kalo cuma “mikirin” doang, dua masalah sama-sama ga selesai. Pertama: masalah ga tidur, kedua: masalah kerjaan yang tetap aja ga selesai walopun dipikirin sepanjang malem ampe ayam berkokok juga (btw, masih ada ga sih orang di jakarta yang tetangganya miara ayam yang berkokok pagi-pagi? Kok di deket rumah gue ga ada lagi orang yang piara ayam ya :)

Loh kok jadi ngomongin ayam? Oke, back to the topic. Tadi apa topiknya? O ya, ga bisa tidur. Satu hal yang gue ga pernah bisa ngerti adalah kalo orang ga bisa tidur. Kalo orang ga bisa makan gue bisa ngerti. Gue juga kadang-kadang ga bisa makan kalo lagi stress or sakit. Tapi ga bisa tidur? Seumur hidup gue ga pernah ngerasain ga bisa tidur. Gue sih tipe pelor (nempel langsung molor).

Biarpun lagi ada masalah, lagi banyak pikiran, gue tetep bisa tidur. Prinsip gue sih ngapain gue pikirin, biar dipikirin ampe pagi juga itu masalah kan tetap ada? So, kalo besok pagi itu masalah masih tetap ada, mendingan gue tidur aja dulu malem ini dan besok pagi baru gue pikirin lagi hehehe. Lagian tuh masalah kan ga bakalan lari kemana-mana ampe besok pagi juga:)

Eits, jangan salah, ini bukan berarti gue ga peduli sama kerjaan. Sama sekali bukan gitu. Gue tetap mikirin kok tanggung jawab kerjaan. Buat gue, anak Tuhan tuh harus bisa jadi solusi buat orang sekitarnya. I have to be the solution for someone else’s problems, because that’s why God puts me there.

I like working hard, because my God also works hard. My God is a hardworking God (He never slumbers nor sleeps), so I am hardworking too. Tapi gue bukan Tuhan yang never slumbers nor sleeps. Gue manusia yang butuh tidur. Gue bisa rontok kalo ga tidur. I need sleep because I realize God creates me as a human with a need of sleep.

Mangkenye gue bingung banget kalo ada orang yang bisa kuat ga tidur semaleman. Buat gue itu ajaib banget, bener-bener luar biasa. Tapi di sisi lain, gue jadi bertanya dalam hati? Kenapa sih Tuhan saya TIDAK pernah TIDAK BISA tidur?

Dan, amazingly, setelah bos gue curhat dia ga bisa tidur, pas di malem hari itu gue nanya pertanyaan iseng ga penting itu sama Tuhan sebelom gue bobo, besok paginya, pas saat teduh…

Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku (Mzm 94:19)

Doeeeng… itu ayat yang gue dapet besok paginya pas saat teduh. Oooo… jadi ini ya alasan kenapa gue gampang banget tidur? So, kata Alkitab, biar dikate banyak pikiran juga, orang-orang yang mendapat penghiburanNya itu akan tetap tenang jiwanya, alias … bisa tidur! Kenapa? Karena mereka dapet jaminan yang menghibur dari janji Tuhan bahwa everything is under His control. Ga perlu kuatir, ga perlu bingung, everything will be all right with God. Tuhan akan berperang buat kita dan kita akan diam saja. Itulah bedanya orang dunia dengan orang2 yang punya pengharapan pada Tuhan.

Dan saking under control-nya everything itu, Tuhan ijinin gue tau jawaban dari pertanyaan remeh temeh gue. Bahkan pertanyaan iseng yang ga mutu pun, dengan senang hati DIA jawab! Hehehe, bener-bener top dah Babe gue di surga !!!

May 4, 2007

still standing

Filed under: kerja kerja kerja

Beberapa hari yang lalu gue baca thread tentang hubungan antara baca amsal dan mengerti pelajaran. Si thread starter-nya nanya bener ga sih kalo baca amsal dulu sebelom baca buku pelajaran bisa cepet ngerti. Trus yang reply cuma satu orang. Dia bilang ga ada efeknya, walopun dia udah baca dari awal sampai akhir Amsal.

Thread ini rada menggelitik buat gue. Pertama, tema-nya cukup ajaib karena jarang banget ada anak sekolah yang tertarik ngomongin ini (you know, biasanya pertanyaan anak muda Kristen kan berkisar boleh ga ngewarnain rambut, pacaran boleh ini boleh itu ga, gimana tau kalo PH dari Tuhan dsb dsb, pokoke gitu deh:) Kedua, anak muda tuh rada-rada kurang mudeng when it comes to Amsal, apalagi Wahyu:) Ketiga, inti pertanyaan ini yang mencerminkan sebagian besar sikap kita sebagai orang Kristen.

Poin ketiga ini lah yang pengen gue omongin di sini. Kita, sebagai manusia, cenderung pengen hasil akhirnya aja. Pengen instan langsung terjadi. Jadi sekali baca Amsal, pengennya langsung penuh hikmat aja. Pengen langsung pinter dan bisa mempersingkat waktu baca, alias compress studying time (biar sisa waktunya bisa dipake buat maen hehehe)

Ya engga lah. Baca Amsal tuh bukan mantra ato obat ajaib kaya ramuannya Lang Ling Lung, atau ramuannya Panoramix yang bisa bikin Asterix langsung mendadak kuat dan sakti mandra guna. Amsal tuh perlu dibaca berulang-ulang, direnungkan, dihafalkan, sehingga kita bener-bener berendam di dalam Firman Tuhan itu. Ibarat Obelix yang waktu kecil udah kecebur dalam ramuan ajaibnya Panoramix, kita juga harus menceburkan diri dalam kedalaman hikmat Amsal itu supaya kita bisa kuat menghadapi lawan anytime anywhere. Jadi bukan kaya Asterix yang sekedar minum setegak, langsung kuat, tapi langsung lemes lagi beberapa saat kemudian begitu efek ramuan itu abis.

Gue pernah baca satu buku yang ngebahas kitab Amsal. The book really changes the way I read Amsal. Judulnya “Hikmat” karangan Larry Lea. terbitan Metanoia. Bagian yang gue paling inget adalah keunikan dari kitab Amsal itu yang terdiri dari 31 pasal. Dia bilang 31 pasal itu bukan kebetulan. 31 pasal itu artinya 31 hari dalam satu bulan, jadi tiap hari dalam sebulan kita mesti baca 1 pasal. Maksudnya tanggal 1 Januari baca Amsal 1, tanggal 2 Januari baca Amsal 2, tanggal 3 Januari baca Amsal 3 dan begitu terus berulang-ulang di bulan Februari, Maret, April sampai Desember. Dan kita bukan sekedar baca aja tapi mesti diapalin! And see the results…

Sejak gue baca buku itu, gue langsung ikutin saran dia. Tiap hari gue baca Amsal sesuai tanggal, dan berusaha untuk hafalin (ternyata susah banget bo! Satu ayat aja ga gampang apalagi satu pasal! Auwww….) Tapi gue terus berusaha kok:) Ga jelas kapan gue bisa berhasil seluruh ayat dan seluruh pasal itu, but I keep on trying. I keep telling myself masa’ sih ngapalin Amsal aja ga bisa? Liat tuh Marilyn Hickley bisa hafal Wahyu. Wahyu bo! I repeat Wahyu!!! Pantesan si ibu awet muda gitu walopun dah 70 tahun, bacanya aja Wahyu… Lah gue, boro-boro ngapalin Wahyu, baca Wahyu aja kadang-kadang takut sendiri hihihi

Sampe mana tadi? O ya sampe ngapalin Amsal and see the results. Gue lupa sejak tahun berapa gue mulai program baca 1 pasal Amsal tiap hari (yang jelas mulainya sejak hari gue beli buku Larry Lea itu:) Waktu mulai sih ga berasa apa-apa, but I keep on doing it anyway. Gue suka Amsal karna setiap ayatnya bener-bener tajem, ada contradiction antara negatif dan positif, bodoh dan pintar, bebal dan mudah diajar, hitam dan putih, jahat dan baik, fasik dan pengasih, and nothing in between. Rasanya buku itu ditelekapkan (ditempelin ke muka gue sedeket-deketnya) dan bilang : Ini loh contoh yang jelas-jelas jelas banget, strict to the point, carried to the extremes, as plain as it could be, gamblang banget, masa sih masih belom jelas jugaaaa???

Setelah beberapa lama baca Amsal secara rutin tiap pagi, gue sering merasa kangen sama Amsal di tengah-tengah penumpang dalam bis, di tengah-tengah waktu makan siang, di tengah tumpukan kerjaan, pas lagi suntuk-suntuknya sore-sore di kantor, dll. So gue bikin buku kecil yang isinya ayat-ayat Amsal favorit gue, so gue bisa buka di mana aja karena selalu fit into my purse.

Selain bisa bikin kangen, Amsal juga bikin tambah wise. Gue bilang wise bukan smart karena bijak itu beda sama pinter. Pinter itu lebih ke pengetahuan tapi bijak itu lebih ke kemampuan untuk memahami sesuatu dan menyelesaikannya. Misalnya gini nih, gue kan kerja di kantor akuntan tapi latar belakang pendidikan gue sastra inggris. Sebagai lulusan sastra inggris kan gue taunya simple past tense simple present tense dan tense-tense lainnya:) Tanpa accounting background sama sekali, untuk bisa ngerti segala istilah akuntasi yang mesti gue terjemahin, gue desperately need wisdom from God…

Dan kalo gue liat ke belakang, setelah sekian lama gue belajar Amsal, gue baru nyadar ternyata Tuhan buat perbedaan nyata. Kalo dulu gue bener-bener completely at loss menghadapi istilah-istilah akuntansi itu, sekarang entah kenapa malah orang-orang nanya-nanya ke gue tentang arti istilah-istilah itu… Kalo dulu hasil pekerjaan gue yang diperiksa bos, sekarang justru bos-bos gede itu yang nanya ke gue karena mereka ga yakin dengan pemahaman mereka sendiri… Kalo dulu gue merasa minder ketemu bos-bos yang begitu cerdas dan pinter, sekarang justru mereka pikir lebih baik nyuruh gue aja karena susah kalo mereka kerjain sendiri…

Kadang-kadang gue suka pengen nangis karena begitu bersyukur-nya sama Tuhan… Gue tanya Tuhan siapa sih gue ini sampe bos-bos itu merasa perlu nanya ke gue? Gue cuma staf administrasi biasa dengan level rendah, tapi Tuhan bisa kasih karunia buat gue untuk membantu pekerjaan bos-bos yang levelnya jauh di atas gue…

Gue bersyukur buat semua itu. Gue juga bersyukur gue still standing walopun seringkali gue pengen nyerah aja selama 7 taon kerja di sini. Gue still standing walopun jutaan kali gue ngerasa minder dibanding temen2 kantor yang (rasanya) jauh lebih pinter dari gue. Gue still standing di sini bukan karena gue pinter, bukan karena gue bisa, tapi semuanya cuma karena kasih karunia Tuhan aja. Gue still standing karena Tuhan yang tambahkan hikmat dari hari ke hari. Gue still standing karena Tuhan ga akan pernah ijinkan gue give up…

If not for your goodness
If not for your grace
I don’t know where I would be today
If not for your kindness I never could say
I’m still standing

If not for your mercy
If not for your love
I most likely would have given up
If not for your favor
I never could say
I’m still standing
but by the grace of God

I’m still standing
I’m standing
I’m still standing
but by the grace of God

(Still Standing by Israel Houghton & New Breed)

PS: Buat adik-adikku yang masih sekolah or masih kuliah, dan rasanya pengen nyerah aja ngadepin pelajaran yang rasanya syusyeeeh banget, I suggest you read Proverbs every morning. Baca 1 pasal Amsal tiap hari, begitu terus berulang-ulang. Jangan harapkan hasil yang instan, tapi coba terus setia dari hari-hari walopun mungkin belom keliatan hasilnya. Jangan pernah nyerah karena begitu kamu mulai, kamu lagi mulai membangun suatu dasar kokoh yang ga bisa kamu liat. Inget kan hikmat itu bukan kaya’ ramuan Panoramix? Tapi day by day kamu akan lihat kalo kamu akan semakin berbeda dari temen2 kamu, kamu akan semakin lebih bijaksana dari mereka, dan someday guru2 atau dosen2 kamu akan (harus) mengakui bahwa kamu 10 kali lebih cerdas dari yang lain, seperti Daniel yang lebih 10 kali cerdas dari semua orang di kerajaannya… So, tiap mo nyerah, nyanyi aja I’m still standing, I’m still standing, I’m still standing, but by the grace of God…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham