letsing4joy

January 6, 2009

this is where you went wrong…

Filed under: mengasihiMu

Happy new year, friends!

How was your 2008? Amazing lah pastinya… Buat gue, tahun 2008 lalu itu beneeeeer2 berkesan. Ga bisa diceritain disini semuanya, later lah diceritain. Tapi yang pastinya di awal tahun ini Tuhan banyak bukain hal-hal baru yang ga pernah gue sangka sebelumnya…

Dan di awal tahun ini, pas WPDA, Tuhan cerita panjang lebar apa yang salah dengan kekristenan gue selama 8 tahun ini sejak gue lahir baru tahun 2000. Pas lahir baru, ada banyak kesalahan mendasar yang terjadi sampai akhirnya gue end up leaving the old church. And moved to a new church. Dan di gereja baru ini, gue baru tau kalo gue tuh ga tau apa-apa. Nothing. At all. So, gue pelan-pelan mulai dituntun/di-nurture sama para cell leaders, dan akhirnya ngalamin kasih mula-mula lagi *boleh baca lagi di postingan “This is how much I love you and I don’t want anything in return…” Dan sejak itu, kekristenan jadi a brand new world to me… kekristenan jadi begitu exciting…and I begin to enjoy being a Christian… sesuatu hal yang ga pernah gue rasain di gereja lama…

So this is the story…

2 Jan 2009

Tuhan kasih ayat ini sebagai kado tahun baru…

Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. (Gal 3:6)
Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. (Gal 3:9)
Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. (Gal 3:7)
Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham, dan berhak menerima janji Allah. (Gal 3:29)
… supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. (Gal 3:22b)

Otomatis gue tanya, maksudnya apa yah Tuhan?
Abraham percaya (beriman) –> anak-anak Abraham = hidup dari iman –> iman dalam siapa? iman dalam Yesus Kristus –> diberkati bersama-sama –> berhak menerima janji Allah

Oke Lord, You want to say kalo saya percaya, saya punya iman, then tahun ini saya berhak menerima janji Allah, begitu kan? That sounds really wonderful, Lord, tapi boleh tanya dikit? Jelasin dong apa sih iman itu. Honestly nih, jujurnya sejak dulu kala ‘iman’ tuh suatu konsep di awang-awang buat saya… Heran ga tau kenapa ga ngerti-ngerti juga bertaon-taon, padahal sering banget denger khotbah tentang iman….

Dan malam itu juga dimulailah long journey, suatu pelajaran yang panjang sampai akhirnya Tuhan bukain pikiran gue tentang what is iman. Here it comes… Be blessed!

What is iman? “Pengakuan kekosongan dan ketakberdayaan, penyerahan dan penantian untuk mengijinkan Tuhan bekerja. Ini merupakan perkara yang paling merendahkan diri — menerima tempat kita sebagai pihak yang bergantung, yang tidak dapat mengklaim/memperoleh/melakukan apapun selain apa yang dianugerahkan oleh kasih karunia” (disalin dari tulisannya Andrew Murray dalam buku “Rendah Hati” karangan Peter Wagner - buku yang Tuhan tuntun untuk baca malem itu juga)

Huaaaa…. ini lah satu-satunya definisi manusia yang bisa gue ngertiin. Ga ada orang yang pernah bisa ngejelasin ke gua sejelas dan segamblang ini.

Ini versi bahasa gue:
–> mengaku tak berdaya –> sebegitu tak berdayanya sampai-sampai harus bergantung –> sebegitu bergantungnya sampai-sampai kita tak dapat memperoleh/melakukan apapun selain apa yang dikasih oleh kasih karunia/grace…

Dengan kata lain, ga bisa melakukan/memperoleh apa-apa tanpa iman. In short, ga bisa hidup tanpa adanya iman. Oh gitu ya, Tuhan. Ayatnya mana Tuhan? Gue tanya lagi.

Tuhan tuntun ke Gal 3:11b “Orang yang benar akan hidup oleh iman.”

Artinya apa Tuhan? Artinya: percuma susah payah berusaha lakukan ini itu tanpa adanya iman. Percuma, ga bakalan “hidup” (hidup dalam arti sesungguhnya –> hidup yang ‘hidup’, full of joy, peace, enjoying being a living person, enjoying being me, ga pengen cepet mati hehehe…)

O gitu… Dengan kapasitas otak gue, gue berusaha mencerna. Berarti, dengan kata lain, ga perlu susah payah make myself right before God. Ga perlu susah payah bikin ini itu supaya ‘benar’ atau ‘dibenarkan’ di hadapan Allah. Meaning: ga perlu bikin pelayanan hebat supaya dikenal Tuhan (remember di gereja lama –> gembala baru tertarik kalo kita bikin pelayanan hebat, kalo biasa-biasa aja ga bakalan pernah dikenal, apalagi jemaatnya ribuan).

Bukan usaha sendiri. Bukan trying to impress God with betapa banyaknya pelayanan yang telah saya lakukan (buletin, multimedia, penerjemah khotbah, seksi acara, pengurus pemuda, sekretaris panita, bendahara, seksi konsumsi, cari dana, penulis naskah drama, etc). Semua pelayanan itu ga membuat saya ‘benar’ di hadapan Allah. Saya tidak dibenarkan oleh karena pelayanan. Semuanya itu legalistik!

Apa sih legalistik itu? “Mengukur tingkah laku berdasarkan kepatuhan yang ketat atas seperangkat aturan, dengan penekanan pada apa yang tersurat ketimbang pada semangat dari aturan tersebut, disertai dengan penghukuman moral pada orang yang memilih untuk tidak mematuhinya.” (balik ke buku Peter Wagner lagi)

Hiii… gue langsung serem. Sekaligus shock. Ini kan gue…

I know that I know that God is dealing with my past… Kesalahan masa lalu yang ga pernah gue sadar.

I just realized this. Buat orang legalistik, tongkat pengukur yang dipakai adalah seberapa jauh kita bisa taat pada peraturan. Semakin taat, semakin tinggi nilainya. Semakin hebat rohaninya. Lebih fokus pada peraturan tertulis dibanding alasan yang mendasari adanya peraturan tersebut. Dan biasanya semakin besar persentase kepatuhan seseorang terhadap peraturan-peraturan tersebut, semakin besar rasa sombong rohaninya dan semakin besar pula celaannya/hukumannya terhadap orang yang tidak mematuhi peraturan tersebut.

Bener banget! Why I could say so? Because I was one of them. I was also surrounded by legalistic people di gereja lama. Bertaun-taun gue di-condemn sama temen sepelayanan sendiri. They are making me feel that I was not as good as them kalo gue ga bisa memenuhi ’standar’ mereka. Tanpa sadar gue dibentuk oleh pemikiran bahwa patuh pada AD/ART kepengurusan itu mutlak *imagine how weird! ibadah pemuda aja bikin AD/ART! how legalistic…* Yang lebih weird lagi, semua mahluk berjudul pengurus harus ambil kelas hermeneutika homilitika apaan gitu di STT ini, alamat ini ini ini. Harus ini harus itu. Ga boleh ini ga boleh itu. Kalo mereka puasa penuh 3 hari lebih ’suci’ dibanding orang yang puasa makan tapi tetep minum air putih. Kalo mereka ambil 5 pelayanan, maka mereka lebih baik daripada gue yang cuma 3 pelayanan. Kalo mereka lebih sering ikut rapat misalnya 5x sebulan, berarti mereka lebih rohani dari gue yang cuma dateng rapat 3x. Kalo mereka ikut terus doa pengurus tiap minggu, mereka lebih baik dari gue yang cuma sebulan sekali. Kalo 5 malem dalem seminggu mereka harus ke gereja after work karena urusan ini itu, mereka lebih ’setia’ daripada gue yang cuma nongol hari Sabtu Minggu doang.

Semuanya legalistik! Berusaha setengah mati patuh pada peraturan tanpa menyadari untuk apa. Tanpa menyadari untuk siapa sebenarnya semua itu dilakukan. Untuk siapa? Untuk dilihat Tuhan? Percuma kalo hatinya kering. Percuma kalo ga ada kasih buat sesama. Semuanya cuma jadi rutinitas, kering dan membosankan. Akibatnya? Fed up. Muak. Lelah.

Siapa yang salah? Bukan salah siapa-siapa. Yang salah adalah pola pikir yang mengidentifikasikan kekristenan sebagai pelayanan. Totally wrong. Wrong thinking. Kekristenan itu adalah hubungan. Bangun hubungan. Hubungan dengan siapa? Pertama, hubungan dengan Tuhan. Kedua, hubungan dengan sesama. Percuma pelayanan sana sini kalo ga ada hubungan pribadi sama Tuhan. Pelayanan jadi kering dan dangkal. Cuma cape mondar-mandir sana sini tanpa tau persis untuk apa semuanya itu.

Orang yang lahir baru jangan buru-buru disuruh pelayanan. Orang yang baru bertobat itu harus kenal dulu siapa Tuhannya. Bangun hubungan dulu sama Tuhan. Kenali siapa Dia. Apa yang telah Dia lakukan buat dirinya sebagai manusia berdosa. Kenapa Tuhan lakukan apa yang Dia lakukan (mati disalib dan tebus dosa kita). Kenali hatiNya. Alami kasihNya. Rasakan pengorbananNya. Sampai kita hancur hati dan remuk di hadapan salibNya, menyadari kita ga bisa apa-apa tanpa kasih karunia, kita akan cenderung jadi legalistik dan berusaha jadi Kristen menurut apa kata orang. Kalo jadi Kristen harus begini, begini, begini, bla bla bla.

Akibatnya? Baru pelayanan dikit aja langsung nuntut banyak dari Tuhan. Banyak orang Kristen yang kerjanya menuntut Tuhan terus: minta ini, minta itu, harus ini, harus itu, harus dapet apa yang aku mau. Karena merasa berhak nuntut. Mentalnya berkati-berkati-berkati. Kalo kena problem, yang dicari mujizat. Hamba Tuhan yang bisa bikin mujizat dikejar ke mana-mana. Yang dicari mujizatnya, pendetanya, bukan Yesusnya. How sad, really sad…

Yang Tuhan mau kita bangun hubungan dulu dengan Dia. Personally. Intimately. Dan begitu hubungan itu dibangun, kita ga akan pernah sama lagi. Kita ga akan jadi anak yang super penuntut. Kita ga akan trying to impress God with what we have/we do. Justru sebaliknya. Kita akan jadi semakin sadar we are nothing without God. Sulit untuk jadi sombong di hadapan His grace. Semua kebanggaan lenyap. Udah bisa hidup aja udah bagus. Apalagi ditebus dosanya. Bisa diangkat masuk ke dalam keluarga Allah. Bisa jadi ahli warisNya. What an honor. Semuanya only by grace…

Tanpa mengenal grace ini, kita akan terus bermental penuntut. Atau sebaliknya. Kita akan terus bertanya-tanya apakah kita sudah cukup layak di hadapanNya. Boast about many works yang sebenernya lahir out of insecurities. Condemn other people padahal sebenernya kitalah yang worthy of convictions. We measured virtues only based on religion. Mengira bahwa theology is the thing that’s saving us, while it is not. The thing that’s saving us is the very fact that we are redeemed by His blood…

Begitu kita bisa memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan dalamnya dan tingginya kasih Kristus itu — sekalipun ia melampaui segala pengetahuan — maka kita akan merasa aman seaman-amannya. Why? Karena grace (kasih karunia) itulah jaminan keselamatan kekal kita. Dan jaminan kekal ini ga bisa dibeli dengan dengan perbuatan baik. Ga bisa dibeli dengan apapun.

So, tanpa adanya grace (kasih karunia), kita adalah orang paling malang di dunia. Why? Karena tanpa kasih karunia, kita akan terus wondering whether we’re good enough to go to heaven… But because of grace, only by His blood, and only through His mercy… We are accepted… And we are forgiven…

Because His grace is enough…
More than enough…

December 17, 2008

what if it is true?

Filed under: mengasihiMu, WPDA

This posting is dedicated to you yang lagi wondering benarkah Kristus itu anak Allah? What if it is true?

Saya tulis ini untuk kamu. Saya yakin kalau kamu sampai sebegitu tertariknya baca posting-an ini, luangkan waktu untuk visit blog ini, untuk baca tulisan ini, untuk ngikuti isi posting-postingan sebelumnya, pasti semua ada apa-apanya… Bukan karena tulisan saya, bukan karena saya *you don’t even know siapa yang nulis blog ini kan???* Tapi karena roh kamu lagi gelisah mencari sesuatu, mencari tahu apakah kebenaran sejati itu, mencari tahu apakah kekristenan itu sebenarnya…

Okay, let’s start. Mungkin kamu nanya “who is Jesus?” Siapa sih Yesus yang diceritain panjang lebar sama si penulis blog ini?

Joh 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Yesus adalah jalan yang bisa membawa kita kepada Bapa. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Dia datang untuk MENCARI manusia. That’s why Kristen itu bukan agama. Kenapa Kristen bukan agama? Karena agama itu artinya orang mencari Tuhan. Tapi kekristenan tidak. Karena dalam Kristen, Tuhan yang mencari manusia. Tuhan datang dalam wujud manusia sebagai Yesus.

Agama: dari bawah ke atas (manusia CARI Tuhan)
Kristen: dari atas ke bawah (Tuhan CARI manusia)

Jadi kekristenan bukan agama.

Karena agama mengajarkan berbuat baik, menjauhi dosa, beribadah tekun dsb supaya bisa ke surga. Tapi kekristenan bukan seperti itu. Berbuat baik itu emang baik, tapi merely doing good takkan pernah bisa membawa kita ke hidup kekal. Memang berbuat baik itu juga diajarkan oleh Kristus (Mat 25:45b Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku). Karena kalau kita berbuat baik pada sesama, kita telah melakukannya untuk Dia. Tapi semuanya tidak berarti jika kita tidak mengakui bahwa Kristus adalah Anak Allah, yang diutus oleh Allah Bapa.

…Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Jadi inilah dasarnya. Inilah intinya. Mengakui Kristus baru jalan masuk ke dalam keluarga kerajaan Allah. Tapi bukan berarti stop di situ aja. Sesudah kita mengakui Kristus dengan hati dan mulut kita, the exciting journey has just begun. Dari situ Tuhan akan mulai ajarin kita what is being a Christian. Mengasihi sesama, berbuat baik pada sesama, menjadi garam dan terang bagi sekitar, jadi dampak bagi lingkungan sekitar, dsb. Dan semuanya itu ga bisa diajarin sama Tuhan tanpa terlebih dulu bangun hubungan sama Tuhan. Gimana caranya mulai bangun hubungan sama Tuhan? Akui bahwa Kristus adalah Tuhan…

Semuanya itu harus kembali dulu pada intinya:
Yesus Kristus adalah Tuhan. Yesus Kristus selama-lamanya Tuhan…
Dan Yesus Kristus-lah jalan untuk kita sampai kepada Allah Bapa di surga…

Joh 14:10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.

grace is enough

Filed under: mengasihiMu, WPDA

Rabu 11 Desember

Saya nanya…
Tuhan, sebenernya karya penebusan kayu salib itu atas inisiatif siapa? Allah Bapa atau Kristus sendiri?

Tuhan jawab…
Joh 8:42 … sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.

Joh 10:18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”

Kristus datang karena kehendak Allah. Inisiatif Allah sendiri. Kristus datang, diutus, dengan satu tugas utama: memberikan nyawa-Nya menurut kehendakNya sendiri. Ia punya kuasa untuk memberikan. Ia juga punya kuasa untuk mengambilnya kembali. Semua ada di tangan Dia. Dia sebenarnya punya pilihan untuk tidak melakukannya (mati/memberikan nyawaNya). But He still did it.

Allah Bapa punya inisiatif –> utus AnakNya.
AnakNya masuk dalam dunia sebagai utusan –> dengan tugas yang diterima dari Bapa.

Tapi tugas itu bukanlah suruhan seperti dari atasan ke bawahan yang tidak punya power/kuasa/kehendak. Tugas itu disertai dengan kuasa untuk melakukan 2 hal sekaligus: (i) memberikan nyawaNya, dan (ii) mengambilnya kembali. Jika Yesus mau, bisa saja Dia abaikan kuasa yang no (i) itu karena toh Dia juga punya kuasa no (ii) itu.

Jika Yesus mau bisa saja Dia “skip” penderitaan kayu salib yang mengerikan itu. Bisa saja Dia “pilih” mati dengan normal, misalnya. Kenapa harus mati disiksa seperti itu jika ada pilihan lain yang lebih mudah/less painful??? Tapi jika Kristus mati secara normal, takkan pernah ada penebusan. Takkan ada pertukaran. Darah harus ditebus dengan darah. Nyawa dengan nyawa. Jadi darah (baca: nyawa) Yesus harus tertumpah untuk menebus kita orang berdosa.

Dari sini saya dapat suatu pelajaran berharga:
Dari sisi Bapa yang berinisiatif menyelamatkan anak-anakNya di dunia –> it’s something LOGICAL.
Dari sisi Kristus sebagai Anak Allah yang rela dikorbankan –> it’s something ILLOGICAL for human mind.

Kenapa illogical? Karena sulit dimengerti bagi manusia yang cenderung mementingkan diri sendiri. Yang sulit berkorban bagi orang lain. Apalagi orang lain tidak tahu berterima kasih. Something illogical inilah yang membuat saya semakin menyadari bahwa unconditional love itu memang ada. Long before I know it.

Dari sini Tuhan ajari bahwa unconditional love bukan sekedar lirik lagu yang meaningless, tapi bener-bener hidup, nyata, senyata-nyatanya. Setelah sekian lama hidup di dunia ini, mata saya baru bener-bener terbuka tentang arti UNCONDITIONAL LOVE yang Yesus beri buat saya. Makes me feel really special, really precious in His eyes. I know that I know I will never look at my self the same again, NEVER… Hidup saya begitu berharganya sampai Yesus mati buat saya…

When I feel unworthy, so undeserving
But still I can come
Just as I am
For I find Your love is free of conditions

So I will run to Your wide open arms
Where I am accepted
And I am forgiven
Your grace is enough
More than enough
Your grace is enough for me…

“Grace is Enough” by Don Moen (album “I Believe There Is More”)

December 10, 2008

at the Cross I bow my knees where Your blood was shed for me - part I

Filed under: mengasihiMu, WPDA

Friends, setelah mimpi tentang penyaliban Kristus itu, tiap hari Tuhan bukakan hal-hal baru selama WPDA (Waktu Pribadi Dengan Allah). Hal-hal baru yang jadi begitu jelas dan nyata, sesuatu yang disingkapkan satu demi satu, sejalan dengan pertanyaan dan kapasitas pikiran saya untuk mencernanya… Mungkin Tuhan tahu it’s all too overwhelming to be understood at once… So Roh Kudus ngajarin sedikit demi sedikit to make sure I really understand the power of the Cross…

Saya tulis kembali di sini buat kamu… siapapun kamu… yang bukan kebetulan baca blog ini…karena saya tahu firman Tuhan tak akan pernah kembali dengan sia-sia…

Jumat 5 Des

I keep on thinking why people don’t want to come to the Cross & salvation. Padahal it’s free of charge. Kenapa orang tidak mau terima sesuatu yang gratis, yang telah dibayar lunas oleh darah Kristus di kayu salib?

Sabtu 6 Des

Dapet ayat ini…

Joh 3:19-21 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.
Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;
tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.”

Oooo ini jawabannya. Jawabannya: karena manusia masih menyukai dosa. Mereka suka dosa, dan dosa dilakukan dalam kegelapan. Jika mereka datang ke salib itu (yang adalah terang Kristus), maka dosa-dosanya akan ter-expose. Tapi mereka yang telah mengaku dosa-dosanya, dengan berani akan datang ke salib itu karena mereka tidak lagi menyembunyikan apa-apa dalam kegelapan. Tidak takut terekspos dosanya.

Oooo, itu sebabnya dulu sebelom bertobat gue males ke gereja. Rasanya ga nyaman denger lagu rohani. Pengennya langsung matiin aja lagu/radio rohani dan ganti sama lagu pop. Itu karena gue masih menikmati dosa. Masih dalam kegelapan. Masih bersembunyi sama dosa jadi langsung “gerah” begitu bersentuhan dengan sesuatu yang “kudus”. Ga betah gaul sama anak-anak Kristen yang rajin persekutuan doa. Ga nyambung ngobrol sama mereka. Tapi sejak gue bertobat, gue jadi suka banget denger lagu rohani dan rasanya nyamaaa….n banget sama semua yang berhubungan dengan kasih Kristus…

Next question. Ok, itu buat mereka yang masih menyukai gelimang dosa. Bagaimana dengan orang yang hidupnya saleh, bersih, jauh dari dosa, selalu berbuat baik? Kan ada juga orang-orang yang belum percaya yang hidupnya bersih jujur dan stay away from the so-called sins?

Dijawab di WPDA besoknya…

at the Cross I bow my knees where Your blood was shed for me - part II

Filed under: mengasihiMu, WPDA

Minggu 7 Desember

Saya nanya…
Jika pengampunan dan keselamatan dari Kristus itu free of charge, mengapa orang-orang yang belum percaya itu tidak mau datang kepada Kristus? Padahal di kitab suci mereka pun telah disebutkan mengenai Kristus? Itu kan berarti a sure sign that He’s for real. He’s known. Even their books say so.

Tuhan jawab…
Joh 5:39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,
Joh 5:40 namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Oooo, ini jawabannya… Jawabannya: karena mereka mengambil pilihan untuk tidak datang. Tuhanku Yesus Kristus telah memberi kesaksian tentang diriNya. They have the knowledge. But it’s just their choice not to come. Bukan karena Kristus tidak mau reveal Himself. The news is too good to be kept hidden. But they choose to ignore the good news…

This leads me to the next question: “Trus Tuhan, bagaimana supaya mereka mau datang? ”

Senin 8 Desember

Tuhan jawab lagi…
Joh 6:44 Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.
Joh 6:65 Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.”

Oooo, ini jawabannya mengapa mereka tidak mau datang. Karena…
- Karena mereka tidak bisa datang jika tidak ditarik oleh Bapa
- Karena Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.

Hmmm. Berarti betapapun kerasnya usaha kita untuk membawa mereka kepada Kristus, tidak akan bisa. Semuanya hanya dari Bapa. Hanya kasih karunia Bapa saja yang bisa menarik mereka. Ga bisa didorong-dorong, ga bisa disuruh-suruh.

Yang bisa kita lakukan hanyalah membawa kasih Kristus itu dalam diri kita, perbuatan kita, kata-kata kita, pertolongan/bantuan kita dalam hidup mereka. Tugas kita sebatas introduce. The rest is beyond our ability. Karena selanjutnya, yang bisa bawa hati mereka tertarik kepada Kristus, yang bisa sentuh dan jamah hati mereka, lembutkan hati mereka, insafkan mereka akan dosa, kebenaran dan penghakiman, bukan kita. Hanya Bapa yang bisa. Hanya karunia Bapa saja.

Kita (manusia) –> sebatas jadi cerminan kasih Bapa (karena mereka ga punya channel/relationship dengan Bapa, so the only channel dan the only real living thing they can see is us).
Bapa di surga –> the only power yang bisa berikan kasih karunia penyelamatan dan hidup kekal.
Kristus –> jembatan yang menghubungkan keterpisahan kita melalui karya penebusanNya di kayu salib. Hingga kita yang tadinya terpisah dari Allah karena dosa-dosa kita bisa punya jalan masuk kepada Bapa.
Roh Kudus –> Roh Tuhan yang diberikan yang diberikan untuk tinggal di dalam kita setelah Kristus mati, dibangkitkan dan naik ke sorga. Kristus harus mati supaya Roh Kudus bisa turun dan tinggal dalam kita.

Inilah skenario teragung yang pernah ada di atas bumi ini, even di seluruh jagat raya. Manusia terpisah dari Allah karena dosa. Betapapun usaha manusia berbuat baik (pergi ibadah, sedekah, dll) tidak akan pernah bisa membawa kita ke surga. Karena upah dosa adalah maut. Tapi Bapa yang begitu besar kasihNya kepada ciptaanNya itu memberikan anakNya untuk lahir menjadi manusia.

Mengapa harus jadi manusia? Karena yang berdosa itu manusia. Jadi yang menjadi pertukaran untuk manusia berdosa itu (yaitu kita) harus berupa wujud manusia juga. Harus equal. Harus setara. Kita ga bisa menebus emas dengan bebek misalnya. Atau berlian dengan kue cucur. Yang ditebus harus sama harganya dengan yang menebus.

Jadi Kristus, yang adalah AnakNya, harus turun derajat jadi manusia. Supaya pertukarannya impas. Manusia = manusia. Jadi korban darah Kristus di kayu salib bisa diterima oleh Allah Bapa di surga.

Satu Anak Manusia bisa menebus seluruh umat manusia. Kenapa Satu bisa menebus semua? Kan satu tidak equal dengan miliaran? Bagaimana harga satu Anak Manusia setimpal dengan seluruh umat manusia di dunia? Jawabannya sederhana. Karena yang Satu itu sangaaaaa….t berharga. Yang Satu itu yang paling terkasih…

Bagi seorang bapak di dunia, satu anaknya jauh lebih berarti dari seribu anak lain di dunia. Ga ada yang bisa gantiin harga anaknya sendiri, walaupun mungkin ribuan anak lain lebih tampan/cantik, lebih hebat, lebih pintar, dan lebih-lebih lainnya. Ga ada anak lain manapun di dunia yang se-berharga anaknya sendiri.

Begitu juga Bapa di surga. Pengorbanan anakNya di kayu salib, kematian AnakNya yang mengorbankan nyawaNya dan darahNya, begitu berharga… Jauuuuuuh lebih berharga dari apapun juga. Dan darahNya itu ditukar dengan keselamatan bagi seluruh isi dunia, termasuk kamu yang lagi baca blog ini…

Sayangnya tidak semua manusia menyadari ini. Masih banyak saudara-saudara kita di luar sana yang belum bisa memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus itu bagi mereka… Every second thousands of souls terhilang ke neraka, karena mereka belum menerima jalan masuk itu…

Sebenarnya semuanya sudah tersedia bagi mereka, free of charge, gratis, cuma-cuma… Asal saja mereka mau menerima Kristus sebagai juru selamat mereka. Tapi, sekali lagi, semuanya terpulang kepada mereka sendiri. Apakah mereka mau? As simple as that.

Jika mereka mau, maka Allah Bapa bisa mengaruniakan jalan masuk itu kepada mereka. Dan sebelum itu terjadi, perlu ada kerjasama dari kita sebagai orang percaya. Kita harus jadi duta dulu bagi mereka. Namanya aja duta, ya kita jadi representasi Allah di bumi. We represent our Father in heaven. Kitalah yang bawa berita itu ke mereka. Selebihnya, biarkan Allah Bapa bekerja melalui Roh Kudus dalam hati mereka.

Karena…

TANPA TUHAN KITA TIDAK MAMPU
TANPA KITA TUHAN TIDAK MAU…

December 4, 2008

this is how much I love you… and I don’t want anything in return…

Filed under: mengasihiMu, WPDA

Friends, kemaren malem gue mimpi… mimpinya sediiii….h sekali…

Biasanya sih gue kalo tidur tuh jarang mimpi… tapi kemaren malem entah kenapa gue mimpi…

tentang Tuhan Yesus…

yang disalib…

Mimpi itu sedih sekali…Ditunjukin gimana tangan manusia kalo disalib… trus kaki yang ditumpuk trus dipaku berbarengan… sedih sekali… ga tau gimana cara ngungkapinnya… bikin dada gue sesak dan ga tau lagi mau nangis apa jerit…

Trus paginya pas setel musik, yang kesetel tuh lagu “Worthy Is The Lamb”-nya Hillsong…Gue langsung pengen nangis lagi… padahal gue bukan lagi doa, tapi lagi ngeringin rambut sembari dandan…

Gue ga pernah lupa pertama kali gue hancur hati abis2an waktu tau Yesus mati buat gue. For me. Personally. Waktu itu lagi ada kelas KAYAP (Kenali Apa Yang Anda Percayai/Know What You Believe) di gereja. Ini kelas permulaan buat calon-calon jemaat baru di gereja. Trus ada pemasangan potongan film Passion of Christ. Trus waktu adegan Yesus dicambuk pake cambuk bercabang, pas dicambuk, kepala Yesus kesamping, trus wajahnya dekeeeee….t ke kamera, mataNya bengkak, darah ngucur dari kepala… trus gue inget banget mataNya mandang ke gue, kesakitan, tapi dengan penuh kasih mandang ke gue… dan Dia bilang…

…this is how much I love You…
and I don’t want anything in return…

Hati gue robek abis-abisan… Belom pernah gue liat ada orang yang rela disiksa sampe mati begitu buat gue… Padahal gue ga bisa kasih apa-apa buat Dia…

Sepanjang film itu, kata-kata itu terus terusan kedengeran kenceng di kuping gue:

…this is how much I love You…
and I don’t want anything in return…

I don’t want anything in return…

I don’t want anything in return…

Rasanya hati gue meledak sama tangisan. Kalo ga malu waktu itu, mungkin gue udah nangis kenceng bangeee…t di gereja. Gue terharu banget sama kalimat “I don’t want anything in return…” Soalnya selama ini gue sering kepahitan sama orang laen, terutama cowo… Yang gue tau kalo cowo bilang “I love you” ama gue, pasti ada maunya… Pasti he wants anything in return. Semua cewe pasti tau, ga ada cowo yang rela “berbaik-baik” sama kita kalo mereka ga pengen apa-apa… Pasti ada pamrihnya… Semua cowo kalo berkorban buat kita pasti pengen “ambil” sesuatu dari kita… Bener kan girls?

Tapi Tuhan Yesus lain. Waktu Dia natap mata gue dan bilang “This is how much I love you… and I don’t want anything in return…” gue tau it’s for real. Dia tau Dia ga minta apa-apa dari gue. Not my body, not my money, not my reputation, not anything. Dia lakukan itu semua purely karena kasih. Dan Dia tau gue ga bisa berbuat apa-apa yang setimpal sama pengorbananNya…

Hati gue bener-bener ancur dengernya. Ga pernah ada cowo yang rela lakukan itu buat gue. But He did. Disiksa sampe mati, and there’s no guarantee saya sebagai manusia akan nerima cintaNya… Dia ga pernah maksa… Dia kasih kehendak bebas… Tapi semuanya udah dibayar lunas… in advance… tinggal semuanya terserah saya… apa saya mau terima uluran kasihNya yang tanpa syarat itu… atau menganggap sepi semua pengorbananNya…

Saya ga tau kenapa malem itu Tuhan kasih saya mimpi itu… Apa karena sebentar lagi Natal? Untuk ngingetin gue apa artinya Kristus lahir ke dunia? Atau karena januari bulan depan gue ultah ke 34, dan akhir tahun ini gue ninggalin umur 33 yang penuh kesan ini???

Maybe…

And I remember salah satu email paling berkesan dalam hidup gue. Ini gue copy paste di sini… untuk ingetin… what terrible things He had gone through… just to show how much He loves you (and me also)… di akhir tahun ini…

At the age of 33, Jesus was condemned to death penalty.

jesusdeath01

That was then the “worst” death. Only the worst criminals could die like Jesus. And with Jesus things were worst, because not all the criminals condemned to death could receive nails on their hands and feet.

Of course, nails… Big nails! Each was 15 a 20 cm long, with a point of 6 cm. Another point was sharp.

The nails were craved into the pulses, and not into the palms, as we are used to hear. In the pulse, there’s a tendon which extends till the shoulder, and when the nails were being hammered, that tendon broke, obliging Jesus to reinforce all the muscles of his back, so that he could breathe as He was loosing all the air from his lungs.

jesusdeath03

In this way, He was forced to support Himself onto the nail craved in his feet, which was bigger than those craved into his pulses, for both feet were craved together. And, as his feet could not endure for long time without tearing, Jesus was forced to alternate that “cycle” so that He could breathe.

Jesus endured that reality over 3 hours. Yes, over 3 hours! Long time, isn’t it? Few minutes before He died, Jesus was not bleeding anymore. He was simply pouring water from his cuts and holes.

When we imagine Him injured, we only picture Him with injuries, but it is not enough; His wounds were true holes, made in his body.

jesusdeath04

He had no more blood to bleed, He only poured water. Human body is composed by near 3.5 litres of blood (for adult).

Jesus poured all 3.5 litres of his blood; He had three nails hammered into his members; a crown of thorns on his head and, beyond that, a Roman soldier nailed a spear into his chest.

All these without mentioning the humiliation He passed after carrying his own cross for almost 2 kilometres, while the crowd spat on his face and throwed stones (the cross was almost 30 kg of weight, only for its higher part, where his hands were nailed).

jesusdeath05

Jesus had to pass all this experience, so that you can have free access to God. So that my sins and your sins could be “washed”. All of them, with no exception! Don’t ignore this situation. HE DIED FOR YOU! For you, who are now reading this in this site. Do not believe that He only died for others (those who go to the church or for pastors, bishops, etc).

He died for you! It is easy to pass jokes or foolish photos by e-mail, but when it comes to God, sometimes you feel ashamed to forward to others because you are worried on what they may think about your moral.

Accept the reality, the truth that JESUS IS THE ONLY SALVATION FOR THE WORLD..

God has plans for you, show all your friends what He experienced to save you..

60 seconds with God…

During 60 seconds, leave whatsoever your doing and seize this opportunity! Say this with all your heart… It’s ok crying… It doesn’t mean you’re weak or sissy… You’re crying because the Holy Spirit is working in your heart now…

Jesus, I know You are God and Savior. You are the Son of God. You died on the cross and rose up from death on the third day. You died so that I can live. Your blood has covered all my sins and shame. I invite You to come into my heart, Lord. I accept You as my God, my Lord and my Savior. I confess all my sins now… (mention your sins… all of them… Holy Spirit will lead you…) Please forgive my sins. I know if I accept You as my Savior, I will have an eternal life in heaven with You. From now on, I am a new creation, I have a new life, and You are here in my heart.. Amen.

If you have just prayed this prayer, congratulations! You are now forgiven and you have a blessed assurance that You will meet Jesus in heaven…

KARENA BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA INI SEHINGGA IA MENGARUNIAKAN ANAKNYA YANG TUNGGAL SUPAYA SETIAP ORANG YANG PERCAYA KEPADA-NYA TIDAK BINASA MELAINKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL (YOH 3:16)

February 17, 2008

in the name of the law

Filed under: mengasihiMu

In case u wanna know gue mo nulis apa kali ini, ini nih topiknya …. Tinjauan sosio-yuridis terhadap hukum bangsa Israel (suatu studi historis komparatif antara hukum Israel dan hukum Indonesia) Wakakak panjang bener yah :) Judul blog kok kaya judul paper, untung gue ga pake NIM gue disini hihihi

Gini loh friends, alasannya kenapa gue pengen banget nulis hal ini cuma satu hal. Gue pengen share apa yang gue dapet setelah sekian lama bergulat melawan ketidaksukaan gue sama kitab Imamat. Tau Imamat kan? Entah kenapa yah dari dulu gue kurang suka baca Imamat. Untuk tahun ini, gue nyampe round 8 in Bible reading. Artinya dah 7 kali selesai baca Kejadian ampe Wahyu, dan tahun ini round 8 ulang lagi Kejadian ampe Wahyu. Pas Kejadian sih seru ada penciptaan plus all-time favorite Yusuf, Keluaran juga seru ada Musa segala, tapi pas masuk Imamat, duuuu…h rada2 boring deh. Kalimat-kalimat ajaib kaya “Janganlah engkau masak anak kambing dalam susu induknya…” itu kok kaya’nya ga ada relevansinya banget sih sama hidup gue???

So, dari tahun ke tahun, gue selalu jadi males saat teduh kalo dah nyampe di Imamat. Pengennya langsung buru-buru baca aja biar cepet selesai dan bisa pindah ke kitab selanjutnya. Emang sih gue bisa aja langsung loncatin bagian yang ga suka itu, tapi rasanya susah buat gue. Soalnya gue tuh orangnya teratur, sistematis dan prosedural. Jadi dari tahun ke tahun gue ngikutin prosedur mulai Kejadian, Keluaran, Imamat dst sesuai urutan dari halaman pertama sampe halaman terakhir. Gue yang prosedural abis ini paling ga suka ada bagian yang longkap-longkap, bagian kosong, bagian yang missing, etc. Call me weird, but I always follow procedures and I like procedures Bahkan footnotes-pun gue baca hihihi

Sampai malem ini gue baca Imamat 19 di KJV. Gue bener-bener terpana sama “sistematisasi” nya yang ga sistematis sama sekali ini. Semuanya campur aduk aje. Bayangin, hukum tentang witchcraft (ramalan) langsung diikutin sama improper haircuts (mencukur tepi rambut berkeliling), trus tiba-tiba ngomongin tato (merajah kulit), eh tau-tau ngomongin hukum yang menentang making your daughter into a prostitute (perempuan sundal). Hah?

Buat gue yang lagi ngambil S2 hukum, undang-undang bangsa Israel bener-bener ajaib. Pertama, undang-undang bangsa Israel jumlahnya kurang lebih cuma 600-an dalam Keluaran+Imamat+Bilangan+Ulangan. Coba bandingin sama banyaknya UU di Indonesia. Kedua, undang-undang mereka itu simple. Karena simplicity-nya itu, ga perlu masuk FH dulu biar ngerti UU-nya mereka. Ketiga, ini yang paling amazing, ga ada particular order. Suka-suka aja ga pake pasal ayat dsb dsb. Bandingin sama, misalnya BW atau Burgerlijke Wetboek alias KUHPerdata yang dibagi dalam empat buku (perihal orang, benda, perikatan, dan pembuktian & lewat waktu).

Sepertinya hukum-hukum yang tercantum dalam Perjanjian Lama ini punya ciri khusus. Cirinya: kehidupan mereka ga dianalisis dalam komponen-komponen yang terpisah, tapi dipandang sebagai satu kesatuan. Artinya, buat bangsa Israel, ga ada tuh yang namanya pemisahan antara gereja dan Negara. Tiap aspek kehidupan – politik, keluarga, makanan, ekonomi – semuanya berhubungan dengan Tuhan. Bahkan 10 Perintah Allah pun mencakup perintah mengenai hubungan dengan Tuhan, dan juga hubungan dengan sesama. Dua-duanya jadi tidak terpisahkan.

Makin gue pelajarin hukum-hukum di Imamat ini, makin kebuka mata gue bahwa hukum ini pun sangat sangat sangat mempengaruhi hukum di negara-negara modern sampe skarang ini. Misalnya:

1. Manusia lebih penting dari property.
Misalnya, ga pernah ada hukuman mati untuk kejahatan terhadap property. Dan juga, budak dianggap sebagai manusia, bukan harta milik.

2. Tidak ada kelompok/kelas dalam sistem hukum mereka
Di Israel, semua orang sama di hadapan hukum. Equality before the law. Bahkan orang asingpun punya hak-hak yang jelas ketentuannya. Bandingin sama BW jaman Belanda kita yang masih membedakan golongan Eropa, Timur Asing, dan pribumi/bumiputera. Please deh… hare geneeee ???

3. Sanksi sesuai dengan perbuatan
Buat bangsa Israel jaman itu: eye for an eye (Im 24:20). Untuk membatasi balas dendam. Tapi itu jaman Perjanjian Lama. Setelah karya penebusan Yesus di kayu salib, ga ada lagi eye for an eye. Yang ada hukum kasih. Ampuni, ampuni, dan ampuni… Bagian pembalasan itu bukan bagian kita, pembalasan itu hak-Nya Tuhan…

4. Perzinahan mendapat hukuman keras
Bandingin sama di negara kita yang kaya’nya ga terlalu peduli whether you slept with your neighbor’s wife

5. Pihak yang lemah dan miskin memperoleh perlindungan
Ada ketentuan khusus yang melindungi hak-hak kaum lemah. Orang kaya harus memberikan jalan bagi mereka agar mereka dapat hidup, misalnya ” sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing” (Im 19:10)

6. Sikap, dan juga tindakan, punya arti penting.
Hukum ”kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18) mengandung arti bahwa mematuhi undang-undang tertulis aja ga cukup. Kenapa? Karena hukum ini tujuannya untuk membangun hubungan dengan sesama dengan dasar kasih.

Pas baca semua itu gue jadi inget sama kuliah kemaren, pas Sabtu kemaren sore. Pas mata kuliahnya Sejarah Hukum, dan temen gue lagi presentasi tentang Hukum dan Agama Kristen. Temen gue yang laen nanya apakah ada contoh negara di dunia ini yang menerapkan semacam ”syariat” Kristen. Yang lagi presentasi ini – Kristen yang udah lahir baru – menjawab bahwa kekristenan tidak mengajarkan do this do that dalam kehidupan bernegara. Yang penting adalah pemerintahan manapun berasal dari Allah dan kita sebagai warga negara wajib mematuhi hukum negara dan tunduk pada otoritas. Tapi yang terpenting dari semuanya adalah hukum kasih. Karena kalo kita punya kasih, kita ga akan melakukan tindakan apapun yang menyakiti orang lain, bahkan jika tidak ada satupun peraturan tertulis yang dibuat mengenainya. Tapi kalo kita ga punya kasih, mau ditulis peraturan sekeras dan sebanyak apapun, tetap aja akan ada pelanggaran dan saling menyakiti sesama.

Bahkan jika orang lain menghina Tuhan Yesus Kristus pun, kita ga akan marah. Kita malah justru berdoa buat dia supaya Tuhan mengampuni orang itu karena dia tidak tahu apa yang dia perbuat. Kenapa bisa gitu? Karena Tuhan kita ga perlu dibela. Ga perlu kita bentuk Front Pembela Yesus karena Tuhan Yesus kita terlalu besar untuk dibela. Kalo sampe kita merasa perlu membela Yesus, artinya kita mengecilkan keTuhanan Yesus. Masa sih manusia membela penciptanya? Artinya kan Tuhan itu terlalu lemah makanya perlu kita untuk membela Dia. Engga, lah… Engga seperti itu. Jadi kalo ada begitu banyak orang yang menghina Yesus, atau menghina kita sebagai pengikut Kristus, ga bakalan deh kita bawa mereka ke pengadilan. “Pembalasan adalah hak-KU” begitu kata Tuhan Yesus. Bagian kita sebagai pengikut Kristus adalah mendoakan mereka dengan penuh kasih agar mata hati mereka terbuka. Jadi pada dasarnya the so-called law in Christianity itu semuanya berdasar hukum kasih. Jadi kalo mau dilihat lebih mendalam, hukum kasih itu menyangkut semua aspek kehidupan manusia.

Sekarang gue pelan-pelan mulai ngerti kenapa Tuhan suruh gue ambil hukum. Selama 6 bulan ini gue terus bertanya-tanya apa sih manfaatnya ilmu hukum yang gue pelajari sekarang ini sama hidup gue. Soalnya pelajarannya ga ada hubungannya sama sekali sama kerjaan gue di kantor, apalagi kehidupan gue sehari-hari. Gue sempet ragu bener ga sih gue mesti ambil semua SKS ini yang keliatannya sama sekali ga penting dan ga ada relevansinya – with the real life.

Tapi pelan-pelan Tuhan mulai bukain satu demi satu lewat kejadian yang gue alamin day by day. Semuanya mengarah ke pemahaman betapa besarnya Tuhan kita. Betapa tinggi rancanganNya. Betapa dalam hikmatNya. Dan semuanya itu makin membuat gue menyadari betapa kecilnya diri gue. Betapa ceteknya pikiran gue dibanding hikmatNya. Betapa sombongnya gue menganggap kitab Imamat itu ga penting buat dibaca… Betapa angkuhnya gue berpikir bahwa semua Perjanjian Lama itu ga ada artinya lagi buat kita yang hidup di jaman anugerah…

Membuat saya tertempelak untuk merendah di hadapanNya… dan menyadari betapa saya harusnya bersyukur bahwa ada darah Yesus yang tertumpah untuk menebus saya… sebagai atonement… sebagai pendamaian… sebagai pembayaran… atas semua kesalahan dan pelanggaran yang saya lakukan…

Karena ada Yesus sebagai pembela saya… as my Lawyer… di hadapan Allah Bapa Hakim yang adil… di hadapan iblis sebagai pendakwa yang sangat membenci saya… yang berusaha dengan segala macam cara agar saya masuk ke dalam hukuman kekal… Tapi semua senjatanya tidak akan pernah berhasil menempa saya… Hanya karena satu Nama yang berkuasa… Nama Yesus yang berkuasa…

*thank you Jesus for being my Lawyer… No fees can ever pay for what You’ve done for me…*

November 12, 2007

ngecat atep

Filed under: mengasihiMu

Friends, hari Minggu kemaren gue seneng banget. Dan gue heran banget kenapa satu hal yang keliatannya simpel banget bisa bikin gue bener-bener rileks…

Tau ga kegiatan itu ngapain? Ngecat atep. Iya bener, atep rumah. Biar dikate gue anak cewe satu-satunya (boru sasada – Red:) bukan berarti gue ga bisa naek atep kan? Sekarang kan era reformasi (loh kok???)

Pas pulang gereja hari Minggu kemaren, ntah kenapa gue kangen ama bokap gue. Rasanya dah lama banget ga ngobrol ama bokap sejak gue mulai sibuk kuliah malem. Praktis senin ampe sabtu gue berangkat pagi n pas sampe rumah bokap dah tidur (kalo dah tua emang tidurnya cepet tapi bangunnya pagi). So, kinda miss him gitu loh…

Pas sampe rumah, gue liat bokap gue lagi ngecat atep. Trus karena panas dia pegang payung tanan kiri dan pegang kuas di tangan kanan. Gue ga tega liat bokap kepanasan gitu. Trus gue pegangin aja payungnya, kemana dia bergerak gue ikutin aja. Lama-lama gue juga pengen bantuin ngecat. Bokap bilang jangan. Nanti tangannya kotor, katanya. Tapi gue sih cuek aja, kalo kena cat kan entar bisa diilangin pake pembersih kuteks gue (looohhh???)

Kita sih ga banyak ngomong waktu itu. Cuma sibuk ngecat bedua aja sampe ga terasa dah sore. Aktivitasnya dikit, ngecat only, dan ngomong nya juga dikit. Asli cuma repetitive action aja tanpa banyak mikir ato pake otak ato pake laptop ato pake research plus analysis. Engga, sama sekali ga. Pikiran gue sama sekali ga lari kemana-mana (mikir kantor, mikir klien, mikir judul thesis, mikir data primer, sekunder, tersier, etc etc) Bener-bener semuanya gue lupain dan cuma fokus ke satu hal doank. Pikiran dan tangan cuma focus on one thing: NGECAT…

Dan herannya abis selesai itu rasanya gue tenaaa…ng banget. Bener-bener fresh. Apalagi pas selesai trus kita pesen siomay dari tukang yang lewat. Sambil makan siomay dan mandangin hasil karya hari itu, gue duduk di samping bokap di atas genteng. Sore-sore, adem, angin sepoi-sepoi, matahari dah mulai turun, duduk diem ga ada kerjaan, ngobrolin remeh temeh yang ga penting, rasanya dunia ini tenang banget… Ga ada bos yang ngejar ini itu, ga ada klien, ga ada reports, ga ada dosen yang ngasih tugas, ga ada tumpukan buku, ga ada ada laptop, ga ada bunyi telpon, aaahhh indahnyaaa…

Gue bersyukur banget bisa ngabisin waktu yang berharga sama bokap. Sebenernya gue pengen bisa lebih sering ngabisin waktu berdua sama dia. Gue pengen buat kenangan indah sama bokap selagi Tuhan masih kasih umur panjang buat papa. Gue ga pengen ada why-didn’t-I-spend-more-time-with-him regrets kalo nanti saatnya tiba papa dipanggil pulang sama Tuhan… Gue pengen treasure everyday I still have with him…

Tapi masalahnya interest kita beda, so susah buat matching-nya. Susah cari aktivitas yang kita berdua bisa sama-sama enjoy. Yang pasti sih bokap gue demen banget nonton bola. So gue berusaha lah untuk masuk ke dunianya dia dengan cara nemenin nonton bola, beli tabloid olahraga, baca sport news di internet, supaya gue ngerti dikit dan bisa nyambung ngobrol ama dia. Hasilnya? Huehehe… diketawain mulu ama bokap. Masa gue ga tau apa bedanya liga champion ama liga eropa hihihi… Yah maklum dong Pa, masa lupa kalo anak Papa ini cewe :)

Tapi gapapa lah gue belajar ”masuk” ke dunianya bokap. At least gue dah tau apa yang dia sukain so gue bisa punya bahan obrolan dan aktivitas bareng.

Begitu juga hubungan kita sama Bapa di surga. Kita, sebagai anakNya, harus berusaha mengenal hati-Nya, mengenal diri-Nya, supaya kita bisa tune-in, bisa berada pada frekuensi yang sama. Gimana mau fokus ngobrol sama Bapa di surga yang kudus kalo pikiran kita masih sibuk sama hal-hal laen? Gimana bisa ”nyambung” sama pikiranNya kalo pikiran kita lari kemana-mana? Gimana bisa ngerti tulisanNya (Firman Tuhan) kalo dibaca aja jarang? Gimana bisa totally and fully connected kalo kita sendiri ga mau usaha untuk me”nyambung”kan diri padaNya???

Maapin saya ya Tuhan saya jarang usaha untuk ”connect” sama Tuhan
Maapin juga ya saya ga mau cari cara supaya bisa ”nyambung” sama Tuhan
Help me to be more interested in You, in my heavenly Father’s Word
As I am trying to be in interested in my earthly father’s words

PS: Walopun sebenernya menurut gue bola tuh ga terlalu interesting apalagi exciting, tapi gue akan tetap berusaha ngerti demi bokap tercinta:) Belajar bola udah, belajar ngecat udah, belajar benerin keran udah, cuma belajar benerin pompa aer yang belon…

Pa, minggu depan kita ngecat lagi yuk? Apa kek gitu kita cat…

August 1, 2007

do you like Me?

Filed under: mengasihiMu

Beberapa minggu lalu (ato bulan???), gue baca satu posting-an di yahoogroups gue. Kalo ga salah judulnya “Do You Like God?” Isinya sih intinya tentang apakah kita bener-bener menyukai Tuhan sebagai Seorang Pribadi. Kenapa hal ini ditanyain? Karena istilah Jesus Loves You, We Love You Lord, atau Tuhan mengasihimu, aku mengasihiMu Tuhan, dsb itu udah terlalu overused alias terlalu sering dipake. Saking sering dipakenya, kita cenderung pake kata-kata itu sampe makna-nya ilang. Kita sekedar ngomong aja tanpa merasakan betapa dalamnya makna kata-kata itu.

Maksudnya gini nih. Mengasihi itu kan satu perasaan. Kita bisa aja mengasihi, tapi itu bukan berarti menyukai. Misalnya orang tua bisa aja mengasihi anak remajanya yang sikapnya kurang ajar dan hanya ngomong ke orangtua kalo butuh duit. Ya, orangtua itu mengasihi anaknya. No doubt about it. Tapi apakah orang tua itu menyukai anaknya? Apakah orang itu menyukai sikap anaknya yang kurang ajar itu? Apakah orang itu menyukai BERADA bersama abg yang sikap jutek-nya itu nyebelin? Nah, lihat kan bedanya? Mengasihi bukan berarti menyukai.

Kembali ke pertanyaan awal: do you like God? Apakah kita bener-bener menyukai Tuhan? Kalo kita menyukai Tuhan, artinya kita menyukai keberadaan Tuhan, menyukai waktu-waktu yang dihabiskan bersama Tuhan. Misalnya gini nih. Kalo gue suka temen gue, gue suka ngabisin waktu sama dia, ngobrol berjam-jam sama dia, nongkrong bareng dia, jalan-jalan bareng dia. Ga masalah makan di mana, makan apa, asal kita bisa curhat berjam-jam.

Tapi beda kalo kita ga suka sama orang yang ngajak makan itu. Contohnya nih, acara makan-makan di kantor. Misalnya seorang bos ngajak anak buahnya makan-makan di restoran mahal. Karena yang ngajak makan itu bos, terpaksa anak buahnya pada ikut. Tapi pas acara makan-makan, si anak-anak buah itu berusaha milih kursi sejauh mungkin dari bos-nya, sedeket mungkin sama pintu keluar, supaya bisa cepet ngabur dan ga perlu berlama-lama basa-basi sama bosnya. Every second di resto itu terasa lamaaa banget walopun resto-nya itu bagus banget dan menu-nya sop sarang burung walet terbang yang naujubile jut-jutan mahalnya.

Kalo disuruh milih, mungkin si anak buah itu lebih suka nongkrong di warung roti bakar di pinggir jalan tapi sama temen-temennya yang emang dia enjoy with whom (s)he’s eating and talking. Mungkin nongkrong di situ, cuma beli roti bakar 6000 perak plus teh botol bisa ampe jam 11 ato 12 malem ngobrol ngalor ngidul yang ga penting tapi menyenangkan. Kenapa? Because (s)he enjoys the company of his/her friends. Karena dia menyukai, menikmati keberadaan orang yang menemaninya.

Dari sini gue belajar apa itu artinya “menyukai”. Apakah gue menyukai Tuhan? Apakah gue menyukai bersama-sama Tuhan sama seperti gue menyukai keberadaan temen gue? Apakah gue menikmati saat teduh bersama Dia? Atau apakah gue “terpaksa” saat teduh just because that’s what He wants me to do? Kalo gue terpaksa (karena cape abis kerja ampe jam 1 pagi, masih ngantuk, dll), itu sama seperti sikap gue yang terpaksa pergi makan-makan sama bos, tapi sebenernya gue ga menyukai saat-saat itu. Tapi kalo gue menyukai Tuhan, gue bisa berjam-jam curhat sama Tuhan sampe lupa waktu dan baru berhenti karena gue sadar gue mesti mandi dan siap-siap pergi ke kantor.

So, what I’m trying to say is, tes pertama untuk mengetahui apakah kita mengasihi Tuhan adalah dengan cara bertanya “Apakah aku menyukai Tuhan Yesus?”

Karena kata “menyukai” itu artinya kita “like Him as a buddy” atau sebagai teman. Dengan seorang teman, we can be who we really are. Dan kalo kita bisa jadi temen dia, itu artinya dia juga menyukai keberadaan kita apa adanya kita. That’s why both can spend hours together doing unimportant things. Kalo kita menyukai Tuhan, kita bisa ngobrolin apa aja remeh-temeh yang ga penting tanpa takut dianggap wasting His time. Tapi kalo kita ga menyukai Tuhan, kita akan cenderung menganggap hubungan Tuhan-dengan-manusia itu seperti hubungan bos-dengan-staff yang sifatnya perintah-I-tell-you-what-to-do-and-you-do-it. Hubungan seperti itu cenderung kaku dan ga ada ketulusan di dalamnya. Akibatnya, kita lakukan perintah Tuhan karena Tuhan bilang harus kita kerjain dan kalo engga kita ga dapet berkat. Padahal, bukan hubungan seperti ini yang Tuhan inginkan. Tuhan pengen kita enjoy Him, as much as He enjoys us as His creative beings.

Thank you Lord for being my Buddy…
Thank you Lord for the countless hours You spend with me…
Deep down from my heart, I just want to say:
I LIKE YOU LORD…
And I really mean it…

*by the way, sekarang gue ga ngerasa terpaksa lagi loh kalo diajak makan sama bos-bos. Dulu gue anggap mereka sebagai bos yang kasih perintah, but now I enjoy having the chance to know them as human beings yang punya perasaan/masalah/pergumulan/kesedihan/kekecewaan, bukan sekedar atasan belaka. Sejak Tuhan ubahkan pola pikir yang kaku dan rigid, sekarang gue liat bos-bos gue sebagai precious souls yang amat sangat dikasihi Tuhan Yesus. Dan amazingly, sekarang gue bisa mengasihi mereka dengan tulus, mendoakan mereka tiap kali gue berdoa di pagi hari, bukan karena gue butuh sesuatu dari mereka, tapi karena gue melihat mereka sebagai jiwa-jiwa yang amat sangat berharga di mata Tuhan… Begitu berharganya sampai Tuhan-ku rela mati bagi mereka…

February 22, 2006

love never fails

Filed under: mengasihiMu

Kemaren gue nonton film (atau kesaksian?) yang bagus banget, judulnya Love Never Fails. Ini kisah nyata. Tentang seorang istri bernama Alice yang punya suami bernama Ralph, mantan aktor yang kemudian ketauan sakit kanker 7 hari setelah wedding day. Ralph ini tadinya ganteng banget, tapi karena kanker ganas di kepalanya akibatnya mukanya jadi rusak banget. Tapi Alice dengan setia mengurusnya dan bilang kalo melihat wajah Ralph dia seperti melihat wajah Yesus di sana…

Ga tau berapa kali gue pengen nangis sepanjang nonton film selama 44 menit itu. Di film itu nyata benar kasih yang terpancar dari mata, senyum, tangis Alice buat Ralph, dan terutama buat Yesus… Dari ekspresi wajah Alice waktu dia cerita tentang hidup Ralph, terlihat sekali bahwa dia benar-benar mengasihi Ralph dan mengasihi Yesus yang telah “mengambil” Ralph-nya…

Tapi bagian yang paling mengharukan, bagian yang bikin gue nangis teriris-iris adalah waktu Alice, dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca bilang gini “Ralph is not mine, he is Yours…” Siapapun yang pernah ngomong gitu ke Tuhan pasti tau betapa hancurnya hati waktu ngomong seperti itu… Satu kalimat yang sederhana… Tapi kalimat itu hanya bisa diucapkan oleh orang-orang yang sudah sampai pada satu titik tertentu… Titik di mana dia bener-bener berserah pada Tuhan… Titik di mana dia sudah bisa merelakan kepergian orang yang bener-bener dikasihinya… Titik di mana kasih itu berarti rela memberikan yang terbaik buat yang dikasihinya… Bahkan jika yang terbaik itu berarti orang tersebut harus meninggalkan kita selama-lamanya…

Gue jadi inget masa lalu, waktu gue akhirnya bisa bilang ke Tuhan “Mama saya bukan milik saya, dia milikMu Tuhan…” dengan hati hancur berkeping-keping. Setelah pergumulan yang cukup lama, setelah tahap marah sama Tuhan kenapa orang sebaik Mama harus sakit parah, tahap kecewa sama Tuhan kenapa Tuhan ga nyembuhin dia, tahap benci sama Tuhan kenapa kalo Dia penuh kasih Dia ijinkan Mama jadi begitu kurusnya, begitu kesakitan, begitu menderita… Dan akhirnya gue sampe pada satu titik gue udah begitu kelelahan dengan semua emosi yang campur aduk itu, dan gue cuma bisa nangis dan berserah “Kalau memang Mama meninggal itu yang terbaik menurutMu Tuhan, saya rela Tuhan, saya rela… Saya rela ditinggal selama-lamanya kalo itu memang yang terbaik buat Mama…”

Kalo sekarang gue lihat ke belakang, memang saat itu gue ancur banget. Hati gue ancur seancur-ancurnya. Tapi justru di saat ancur itulah malah gue bisa ngerasain kasih Tuhan dalam hidup gue. Dia sedih saat saya sedih… Dia turut menangis saat saya menangis… Dia ada di sana melewati malam-malam penuh tangis dan air mata… Dia ada di sana, dengan lembut mengajak saya untuk bangun pagi, menyambut hari yang baru, walaupun rasanya saya sama sekali ga pengen menghadapi satu hari lagi… Karena begitu kecewa kenapa pagi itu saya belum mati seperti keinginan saya waktu berangkat tidur kemarin malam…Rasanya ga ada satupun hal di dunia ini yang bisa menghibur hati yang penuh dengan kesedihan yang begitu dalem… Ga ada satupun di dunia ini yang bisa angkat kesedihan itu… Ga ada yang bisa, kecuali Yesus sendiri…

Dan enam tahun kemudian, here I am Lord, still alive and full of hope… Full of hope because I know You’re always there… No matter what I’m going through, You were, You are, and You will always be there for me… Because You are Love, and Love Never Fails…

*thanks Lord for being with me, through it all…*

February 1, 2006

please help me I’m falling…

Filed under: mengasihiMu

Nia: Lord, can I talk to You? Saya pengen curhat…

God: I’m listening, Nia…

Nia: Tuhan, saya mau cerita. Engg… pasti Tuhan udah tau sih, but I’ll still tell You anway…

God: Go on. I always love to hear your stories.

Nia: Menurut Tuhan, selingkuh itu seperti apa sih?

God: Aku tahu engkau akan menanyakan itu.

Nia: Eng… saya mau ngaku… Mungkin ini kedengerannya aneh, tapi belakangan ini saya ngerasa bersalah… Rasanya saya bersalah karena udah selingkuh… Selingkuh dari Tuhan Yesus…

Tuhan kan tau saya jadian sama Adi. Tapi sejak jadian kok saya jadi aneh ya. Kalo dulu bangun pagi dan mo bobo inget Tuhan Yesus, sekarang inget dia mulu. Kalo dulu sering ikutan KKR ato ibadah sana-sini, sekarang malah jalan-jalan sama Adi. Kalo dulu waktu jomblo bisa bantu pelayanan sana-sini, sekarang sekali-sekali aja. Kalo dulu cuma dengerin lagu rohani aja, sekarang saya kok mulai dengerin love songs, yah lagu-lagu “dunia” gitu deh… Waktu saya, pikiran saya, rasanya tersita buat Adi, dan bukan buat Tuhan lagi…

Rasanya saya lagi selingkuh dari Kekasih hati saya yang baek banget. Selingkuh dariMu… Please help me I’m falling…in love but not with You…

God: Ingatkah berapa lama engkau tidak pernah pacaran lagi, atau ngejomblo menurut istilahmu?

Nia: Loh Tuhan tau istilah ngejomblo juga?

God: Tidakkah engkau ingat Aku paham semua bahasa?

Nia: O iya. Dah berapa tahun yah? Lama juga sih. Saking lamanya sampe dah lupa hehehe…

God: Engkau merasa selingkuh karena engkau mulai jatuh cinta lagi setelah bertahun-tahun menjomblo. Selama ini tidak ada orang lain di hatimu selain Aku saja. Dan sekarang, tiba-tiba ada pria lain yang mengisi hari-harimu.

Ibarat gerhana matahari, ada bayangan bulan yang menghalangi matahari. Dan bulan yang menghalangi ini bisa membuatmu merasa bersalah karena rasanya ada sesuatu yang menghalangi. Menghalangi pandanganmu ke Tuhan dan juga menghalangi sinar Tuhan untukmu.

Tapi sebenarnya Tuhan tidak pernah bersaing dengan cinta manusia. Ketika gerhana terjadi, bulan tidak bisa selamanya menghalangi matahari. Begitu juga, ketika engkau jatuh cinta pada manusia, cintamu ke Tuhan tidak akan selamanya terhalang. Gejolak jatuh cinta hanya terjadi beberapa saat saja.

Tapi jika kemudian engkau jatuh cinta dengan cara yang memuliakan namaKu, engkau akan sampai pada satu titik dimana cintamu ke Tuhan akan mengalir dengan cara yang sama sekali baru. Engkau tahu matahari dan bulan tidak pernah bersaing? Bulan tidak bisa punya sinar tanpa adanya sumber dari sinar matahari. Sama halnya, cintamu ke manusia itu sumber energinya dari Tuhan sendiri, yang menciptakan dirimu sekaligus juga perasaan cinta di hatimu itu.

Karena itu, di saat engkau jatuh cinta, jangan pernah lupakan waktu bersekutu denganKu. Jadi, biarpun dirimu serasa ringan terbang melayang di atas awan, tapi engkau tidak akan pernah kehilangan arah karena kehendak Tuhan tetap jelas buat hidupmu.

Nia: Makasih yah Tuhan udah ingetin saya. Mulai malem ini, Tuhan mau kan ajarin saya mengasihi Adi menurut caraMu?

God: Tentu. Karena Aku sangat mengasihimu, sama seperti Aku mengasihi Adi-mu. Engkau berdua selalu menjadi kekasih hatiKu.

Nia: Makasih Tuhan kami boleh menjadi kekasih hatiMu. Tolong ajarin kami ya caranya saling mengasihi seperti Engkau telah lebih dahulu mengasihi kami. Good night, dear Lord…

God: Good night, My dearest. Always remember that I love you.

Nia: I love You too…

*for my dearest JC: still and will always be the One and Only…*

November 1, 2005

menanti karena mengasihi

Filed under: mengasihiMu

Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau (Ams 25:21)

Pernah nungguin orang yang kamu sayangin? Wuih, persis kaya soundtrack sinetron: pada semut merah/ yang berbaris di dinding menatapku curiga/ seakan penuh tanya/ sedang apa disini/ menanti Brad Pitt jawabku:) Rela deh nungguin lama terkantuk-kantuk digigitin nyamuk sampe dia dateng.

Begitu juga kita sebagai anak Tuhan. Kita semua sedang ada dalam masa penantian. Kita sedang menanti kedatangan Tuhan serta penggenapan janji-janjiNya. Tapi tunggu, kita jawab dulu pertanyaan ini. Sebenernya kenapa kita menanti? Kita menanti karena mengasihi orang yang memberikan janji itu, atau menanti karena menginginkan janji itu?

Ada perbedaan besar di sana. Bedanya gini nih. Kalo menanti karena menginginkan sesuatu, itu sama seperti kita bela-belain nunggu di bandara/stasiun karena menginginkan sesuatu yang dia janjiin, misalnya CD baru, tas keren, gelang lucu ato apalah. Tapi kalo menanti karena kita mengasihi orang tersebut, kita sama sekali ga peduli dia mau bawa oleh-oleh apa kaga, yang penting cuma satu: bisa ketemu dengan dia lagi.

Contoh yang pertama itu kita sebut menanti karena menginginkan, dan yang kedua itu menanti karena mengasihi.

Sayangnya, kita sering berlaku seperti contoh pertama itu. Kita mengaku mengasihi Tuhan dan akan terus sabar dan setia menanti janjiNya. Tapi sebenernya, kita ga tulus melakukannya. Bilangnya melayani karena mengasihi, tapi sebenernya melayani cuma karena dapet jadwal. Bilangnya memberi karena mengasihi, tapi sebenernya karena pengen dapet balasan berkat materi. Dengan hati yang ga tulus seperti ini, suatu saat kita bisa ‘ngambek’ karena apa yang kita pengen ga dikasih sama Tuhan. Ngambek nunjukkin bahwa semua yang kita lakuin itu tanpa ketulusan dan kejujuran.

Seharusnya kita fokus ke orangnya, bukan berkatnya. Sedih kan cuma dicariin orang kalo mereka butuh sesuatu dari kita? Begitu juga Tuhan Yesus pasti sedih kalo kita berbaik-baik padaNya hanya karena kita pengen dapet ‘sesuatu’ dari Dia. Hati kita harus bener-bener tulus dan jujur di hadapanNya, tanpa menginginkan sesuatu di balik itu.

“Terserah permintaan gue mo dikabulin apa kaga, mo dikasih kek, ga dikasih kek, pokoknya gue tetap sayang sama Yesus.”
“Ini bukan pekerjaan yang gue suka, but I’ll do it if it makes Him happy.”
“Betapapun kecewanya hati gue, gue akan nyanyi Bapa Engkau Sungguh Baik.”

Begitu tuh ungkapan dari hati yang mengasihi.
Gimana, udah sampaikah kita pada level itu?






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham