letsing4joy

April 28, 2008

the integrity test

Filed under: happy teaching

Sabtu pagi. Sebelom berangkat kuliah baca koran dulu. Halaman pertama Kompas: ”Ketika Pinsil Anak-anak Tidak Bergerak…” Details: 284 siswa harus mengulang UN. Baca lanjutannya: anak-anak kelas 3 yang ikut UN di salah satu SMU di daerah Sumatera harus ngulang UN. Alasan: Guru-guru mereka membetulkan lembar jawaban murid-murid. Barang bukti: pinsil, penghapus, serutan. Tindak pelanggaran: memalsukan surat berdasarkan KUHP pasal sekian. Ancaman hukuman: 6 tahun penjara. Modus operandi: 4 guru bahasa inggris secepat kilat menjawab soal begitu amplop dibuka dan langsung membuat kunci jawaban. Begitu selesai, guru-guru lain langsung membagi 4 kunci jawaban itu dan kemudian membetulkan jawaban anak-anak yang salah dengan penghapus. Lokasi: ruang guru BP.

Duh Tuhan… apalagi ini? Miris bener baca pengakuan guru-guru itu. Katanya mereka ga tega melihat anak-anak didik mereka yang tidak bisa mengerjakan soal-soal itu. Kasihan mereka udah sekolah bertahun-tahun harus gagal hanya karena standar UN yang ga adil buat anak daerah. Mungkin buat anak Jakarta soal seperti itu mudah. Tapi di daerah, anak-anaknya tidak sepintar anak Jakarta karena minimnya fasilitas. Tidak adil menyamakan standar kelulusan, begitu keluhannya.

”Pinsil anak-anak tidak bergerak…” Guru mana yang ga sedih melihat wajah-wajah putus asa anak-anak muridnya menghadapi lembar ujian? Guru mana yang ga berpacu jantungnya melihat lembaran-lembaran jawaban yang kosong di meja anak-anak sementara jam dinding di kelas terus berdetak menunggu bel berdering tanda ujian selesai? Guru mana yang tega hatinya membayangkan wajah-wajah itu harus mengulang kembali tahun depan? Guru mana yang ga putus asa melihat pinsil-pinsil itu tegak terdiam di tangan basah keringat dingin murid-muridnya …???

Hati saya menjerit bertanya “Tuhan, apa yang salah dengan sistim pendidikan di bangsa ku ini? Apa yang salah, Tuhan? Apa…??? Murid yang tidak mau belajar? Apakah mereka salah kalau mereka tidak punya buku untuk belajar? Apakah mereka salah kalau mereka kelelahan untuk belajar karena harus bekerja sambil sekolah? Apa mereka salah kalau mereka harus bekerja keras agar bisa bayar uang sekolah sekaligus biaya makan sehari-hari?

Jika murid tidak bersalah, lalu siapa yang harus disalahkan? Gurunya? What can they do with such heavy burden of national passing grade? Bagaimana mungkin mereka bisa mengajar dengan sempurna dengan minimnya jam pelajaran plus minimum exposure of the language itself? Where can they get the audio tapes for pronunciation, video tapes for context learning, good dictionaries for reference, etc etc?

Lalu siapa lagi yang harus disalahkan? Pembuat kebijakan di negara ini yang sepertinya “memaksakan” semua anak harus pintar, no matter what? Atau sistem pendidikan di negara ini yang menitikberatkan pada hasil? If you get lower than 4.25, then you’re stupid. If you’re stupid then stop going to school cause you got no future. Is that what you want to say? How can you make such high standard like Japan if you know the quality of schools here? Are you blind??? Please someone in Depdiknas, give me an answer… How could you make such a policy when you know your own system is not ready yet? Why are you too proud, too arrogant to admit that the UN system is not effective at all? How could you have such a cold heart, insisting on your system while hundreds of students jatuh bergelimpangan akibat kekerasan hatimu? Apakah begitu sulitnya membatalkan kebijakanmu hanya karena malu karena kebijakan itu terlanjur diberlakukan? Tell me the truth, apakah murid-murid di bangsa ini bisa langsung pintar dengan adanya UN? Apakah hasil akhir begitu berharganya di jaman sekarang ini ??? Bukankah dengan demikian bapak ibu mengajarkan shortcut, jalan pintas demi hasil semata? Generasi macam apa yang bapak ibu ingin lahirkan dengan sistem shortcut ini? Bagaimana dengan konsep pendidikan moral, budi pekerti, kejujuran, integritas, usaha keras, karakter, penghargaan bakat/talenta yang jauh lebih berharga bagi masa depan mereka dibanding sekedar bisa lewat angka 5 di UN?

Duh, saya bener-bener ga tau mau ngomong apa lagi. Saya ga tau mesti gimana lagi, mesti berbuat apa lagi. Saya cuma mantan guru bahasa inggris for the past 12 wonderful years. I’m no longer a teacher but saya bener-bener gerah sama semrawutnya sistem pendidikan di negara ini. Para petinggi di dunia pendidikan kita seakan-akan ingin menunjukkan bahwa di masa kepemimpinannya mereka berhasil menaikkan standar ”kepintaran” anak-anak Indonesia. Padahal semuanya semu. Semuanya hanya mengejar hasil akhir. Semuanya mengejar statistik semata agar tampak bagus di laporan. Begitu terengah-engahnya anak murid jaman sekarang mengejar nilai hingga mereka lupa untuk apa mereka belajar. Belajar menjadi sesuatu yang hanya mengejar angka. Bukan agar pintar. Bukan agar cerdas, bisa menganalisis, bisa memakai logika, bisa menyimpulkan sebab akibat, yang merupakan esensi belajar itu sendiri. Anak-anak harus tahu mengapa mereka bisa menjawab sesuatu sebagai A misalnya, dan bukan B, karena mereka mengerti teorinya, bisa menganalisanya, dan mengambil kesimpulan atasnya. Tapi kenyataannya? Sekarang yang mereka tahu jawabannya A dan bukan B adalah karena mereka menghafalnya. Bukan karena mereka mengerti, but because they are being told to do so. Mereka jadi mesin-mesin penghafal mati yang tidak bisa reasoning, tidak bisa analyzing, let alone explaining to others…

Rasanya frustasi banget ngeliat sistem pendidikan di negara ini. Mo dibawa kemana anak-anak jaman sekarang ini? Rasanya semua udah dicuci otaknya bahwa hasil akhir lah yang terpenting, bukan prosesnya. Akibatnya akan sangat mengerikan: lahirlah generasi yang hanya mau peduli dengan nilai akhir. Peduli amat sekolah cape-cape tiap hari, toh yang menentukan juga cuma 2 hari ujian akhir aja. Mo bolos tiap hari juga ga ngaruh lah, yang penting dateng ujian, tau jawaban, lewat nilai minimal, lulus. Tapi mereka lupa bagaimana mereka keluar akan menentukan bagaimana mereka masuk.

Jika mereka keluar dari sekolah dengan pola pikir seperti itu, bagaimana nanti mereka masuk dunia kerja sebagai orang dewasa? Bawa angka-angka ujian semu, yang penting keterima dulu. Udah masuk kerja, peduli amat sama integritas, kejujuran, yang penting hasil akhir: duit banyak, mobil keren, rumah mentereng. Yang mereka pikirin adalah: hasil akhir, hasil akhir, hasil akhir. Toh orang ga akan peduli apakah mereka jujur apa engga. Yang mereka tau: people respect them with the final results, not the process behind the results…

Betapa menyedihkannya harus membayangkan kalau seperti ini jadinya. So, jangan pernah salahkan koruptor-koruptor yang semakin merajalela tanpa rasa malu lagi. Siapa yang menjadikan mereka seperti itu? Kita sendiri. Kita sendiri yang selalu mengagungkan hasil akhir tanpa mau tau gimana mereka mendapatkannya. Kita sendiri yang memupuknya dengan menganggap bahwa mereka yang kaya adalah mereka yang berhasil. Sikap kita sendiri yang membuat praktek seperti itu makin subur. So, jangan pernah menyalahkan orang lain as if we’re holy holy holy, never guilty. Cek dulu diri kita. Apakah kita lebih menghormati orang yang bermobil mewah dibanding yang naik ojek misalnya? Apakah kita lebih melayani orang yang berpenampilan rapi dibanding yang lusuh? Apakah kita lebih membanggakan anak kita yang dapet 9 dibanding yang dapet 6 misalnya? Apakah kita pernah berusaha tau betapa kerasnya usaha sang anak yang harus belajar berhari-hari dulu sampe bisa dapet 6?

Gue jadi makin sadar bahwa ada something that is really wrong with the mentality in this country. Kita terlalu mengagungkan apa yang kelihatan dibanding yang tidak kelihatan. No wonder corruption semakin bersimaharajalela. Semua yang wow pasti memukau. Padahal yang memukau itu ga jelas darimana asalnya. Dan kita akan terus terpukau seperti itu sampai suatu saat orang tersebut ditangkap KPK. Serta merta semua orang akan langsung sahut-menyahut memberi julukan-julukan yang intinya mencaci. Sebenernya kalo mau dirunut ujung pangkalnya, koruptor tidak lahir dalam sehari. Itu orang ga lahir langsung pengen korupsi. Engga, engga seperti itu. Waktu lahir pasti dia jujur. Tapi semakin dia besar, masuk sekolah, dia mulai belajar nilai-nilai tertentu yang sayangnya salah. Kalo dapet 9 orangtua bangga, padahal hasil nyontek. Bisa bikin PR bagus, guru muji-muji, padahal boleh nyalin kelas sebelah. Masuk universitas favorit, keluarga besar bangga, padahal papinya cari kenalan sana sini yang bisa dapet jatah/fasilitas. Masuk kerja, egois abis-abisan, yang penting dapet duit banyak biar calon mertua terpukau. Gesek kartu kredit, hutang sana-sini, yang penting pesta perkawinan megah biar dilihat semua sodara udah jadi orang berhasil. Istri harus penampilannya gemerincing emas berlian di atas yang lain, biar semua orang tau suaminya orang sukses. Punya anak, set up the same standard, and the list goes on and on and on…

So, what should we do now? May be not much karena kita just an ordinary citizen. Tapi kita-kita yang ordinary people ini extraordinary di mata Tuhan. Kita lahir di Indonesia ini bukan cuma sekedar menuh-menuhin bumi Indonesia aja. Tuhan punya assignment buat masing-masing kita. Kita punya special mission yang Tuhan taruh di hati kita masing-masing. Kita punya chance, punya kesempatan untuk touch the lives of people around us. Cobalah untuk lebih menghargai proses dibanding hasil. Kenapa? Karena Tuhan kitapun lebih tertarik sama proses perubahan karakter kita. Karakter lebih berharga daripada kekayaan. Karakter lebih berharga daripada bakat/talenta. Why? Karena jika kita udah sampai di posisi puncak/level atas, karakter lah yang menguji kita apakah memang kita layak di sana. Bukan bakat kita, bukan kepintaran kita, bukan kekayaan kita.

That’s why mulai sekarang, kita harus coba untuk melihat sesuatu bukan dari luarnya aja. Tapi coba lihat proses dan usaha keras untuk sampai di sana. Kalo kamu guru, jangan hanya memuji mereka yang dapet nilai paling tinggi, tapi coba juga puji usaha mereka-mereka yang bisa benerin nilai merah jadi biru misalnya. Anak pinter dah biasa nerima pujian, tapi cobalah puji mereka yang ga pernah dapet pujian, karena mereka sangat membutuhkannya. Kalo kamu pimpinan, cobalah menghargai staf kamu yang walk an extra mile. Jangan hanya lihat mereka sebagai support yang harus bantu kamu mencapai target yang kamu inginkan. Cobalah lihat kelebihan mereka dibanding yang lain, and you’ll be grateful about it. Kalo kamu masih staf, jangan menuntut bos kamu always know everything, can always decide everything. Cobalah menghargai dia sebagai seorang manusia biasa yang kadang-kadang lelah, stress, ga sabaran, ga percaya diri, butuh kata-kata dukungan, bingung ambil keputusan, dll. Hargai setiap perubahan positif di dirinya dan pujilah dia untuk itu. In short, kita harus bisa nunjukin ke semua orang di sekitar kita bahwa kita set up a different standard. Our standard is not the same as the world’s. Dunia boleh menghargai hasil akhir, tapi kita sebagai anak Tuhan, lebih menghargai integritas dan kejujuran karena buat Tuhan kita, karakter adalah segalanya…

Thanks ya friends udah baca blog saya ini. Saya yakin kamu dateng di blog ini bukan kebetulan. Saya percaya kamu pun punya passion yang sama. Kamu juga pengen ada perubahan di bangsa kita ini. Kamu juga rindu bisa touching the lives of others, as the agent of change in this country… Jangan pernah nyerah ya friends… Tetap terus jaga integritas kamu… Jangan pernah kompromi dengan standar firman Tuhan, terus lift up the standard… Mari kita sama-sama berusaha bikin perubahan di sekitar kita, bawa dampak buat sekeliling kita, sampai kita lihat jiwa-jiwa diubahkan, kehidupan dipulihkan… Kita ubah atmosfir di sekeliling kita, sampai bumi Indonesia penuh kemuliaanNya… Amin.

July 5, 2007

have a nice weekend

Filed under: happy teaching

Have a nice weekeend…!!!

Itulah kalimat terakhir yang selalu gue ucapin di akhir pelajaran. Ini kalimat pamungkas yang gue seneeeee…..ng banget ngucapinnya. Soale kan besoknya minggu, jadi murid-murid gue ini (dan gurunya ini juga:) pasti libur. In short, besok kita semua bebaaaa…sss :)

Kenapa gue seneng banget bisa ngucapin ini? Karena tiap kali gue ngomong these magic words, dijamin semua wajah murid-murid gue jadi ceria dan nyengir lebar melangkah ke luar kelas sambil bilang “Thank you Miss, have a nice weekend !” (tapi kadang-kadang sih ada juga murid-murid SMP gue yang ga reply pake bahasa Inggris tapi malah cium tangan gue…eits… asli gue kaget banget… kaget aja digituin, soale seumur-umur gue sekolah ga pernah ngeliat ada murid yang cium tangan guru… wekekek:)

Selain itu, gue juga seneng banget bisa ngeliat wajah-wajah anak-anak sekolah itu bisa ceria dan lepas dari beban. Kenapa gue ngomong gitu? Soale nih guys, tau kan belakangan ini lagi musim ujian. Terutama yang anak kelas 3, either SMP ato SMU, pasti lagi pada stress belajar buat ujian. Keliatan banget deh mereka pada cape banget, udah digeber abis-abisan seminggu penuh di sekolah, ikut kelas pengayaan or pemantapan, eh pulangnya mesti ikut kursus inggris lagi. Pernah ada kejadian murid SMP kelas 3 gue dateng telat ke kursus, trus langsung banting tas ke kursi, langsung mukanya ditaro di meja, sambil ngomong gini dengan tatapan memelas “Udah deh Miss, hari ini jangan belajar lagi ya? Enek banget dah tadi di sekolah abis ikut kelas pemantapan. Mana soal latihannya banyak banget lagi! Ga usah belajar lagi ya Miss? Ya? Ya? Ya? Ya?”

Terus terang aja gue kasian banget ngeliat nasib murid-murid sekolah jaman sekarang ini. Been there. Done that. Know exactly how they feel. Tapi jaman gue dulu ga pernah ada murid kelas 3 yang ga lulus. Smua pasti lulus, biar nilainya ancur juga. Tapi mereka skarang pasti jauh lebih stress lagi. Kurang dikit aja, bisa-bisa ga lulus. Gimana ga pada stress berat???

Gue ngerti banget gimana capenya mereka. Tapi gue kan guru kursus mereka yang dibayar buat ngajar Inggris. Mereka dah bayar mahal-mahal, dah cape-cape dateng ke tempat kursus, masa gue suruh pulang? Ga adil kan. Akhirnya gue biarin aja dia diem di pojokan, dengan muka tiduran di meja, dan gue bilang “Ya udah kalo kamu cape ga usah belajar. Tapi saya tetep ngajar temen-temen kamu yang laen ya… Mereka kan dateng ke sini buat belajar.”

Ya udah deh trus gue ngajar seperti biasa, tapi dengan speed yang jauh lebih lambat. Exercises-nya juga cuma sedikit dengan waktu yang lebiiii….h panjang. Dan pas gue tau mereka dah selesai ngerjain exercises-nya, gue pura-pura ga tau aja dan biarin mereka maen catur jawa, maen hp, ngobrol, baca majalah sama temen di sampingnya.

Mungkin guru-guru lain bisa protes baca posting-an ini. Don’t blame you guys. But I know what I’m doing. Kalopun gue paksain mereka belajar, percuma. Kepala mereka semua dah berasap:) Mo diajarin apa juga langsung mental deh, dah sampe titik jenuh. Apalagi mereka sama-sama kelas 3, sama-sama satu sekolah lagi! Dan mereka sama-sama pinternya, gue tau itu. Nilai bahasa inggris mereka di rapor tuh rata-rata 8 dan 9, minimal 7. Itupun nilai di salah satu sekolah unggulan di daerah jakarta.

So, kalo udah ngadepin kelas gini, gue berusaha lebih rileks sama mereka. Mendingan ngobrol dulu aja deh (tapi ngobrol-nya pake bahasa inggris loh). Cari topik-topik yang menarik tapi tetap mendidik. Lupain dulu deh boring topic di buku pelajaran tentang terbentuknya batuan sedimentasi (yaiks! in English pula!). Mendingan cari topics of their interest, supaya mereka bisa lebih rileks tapi tetap practising their English.

Topiknya apa aja dong? Tanyain aja mereka how do you feel now? Gimana di sekolah? Ntar mau masuk SMU mana? Pelajaran apa yang paling nyebelin? Yang paling kamu suka? Siapa guru di sekolah yang kamu sebelin? Kenapa kamu sebel sama dia? Gimana rasanya mo ujian bulan depan? Kalo kamu ntar bebas abis ujian kamu pengen ngapain? Biasanya mereka sukaaaa… banget ngomongin rencana “bebas” mereka setelah terlepas dari penjara ujian ini itu.

Nah kalo dah gitu, biasanya mereka lebih rileks. Mereka tau mereka punya guru yang mengerti perasaan mereka, mengerti kesusahan mereka, mengerti segala tekanan yang mereka hadapi sebagai anak-anak pintar di sekolah unggulan. Dan mereka akan lebih open dan receptive sama gurunya. Mereka ga lagi memandang kamu sebagai another teacher yang siap membabat kamu dengan another “thousands of multiple choice questions”, tapi sebagai seorang teacher yang pernah mengalami masa-masa yang sedang mereka alami sekarang.

Dan setelah 4 jam berlalu, dan bel pun berbunyi dengan nyaring, akhirnya gue bisa melepas mereka dengan berkata “That’s all for today, class! Have a nice weekend…!!!” Dan mereka pun dengan suaranya yang (sebagian) high pitching, (sebagian) mulai pecah karena pubertas, (sebagian) dah mulai keluar bass-nya, dengan kompak penuh semangat membalas “Thank you Miiiiiisssss….Have a nice weekend…” sambil nyengir selebar-lebarnya….

Dan sembari ngeliat mereka lari-larian berebutan keluar kelas, belagak dorong-dorongan depan pintu supaya temen-temennya di belakang ga bisa keluar, trus yang dah berhasil keluar langsung matiin lampu kelas, yang langsung disambut dengan teriakan anak-anak cewe yang masih di dalem, gue cuma ketawa aja ngeliat tingkah mereka yang persis anak-anak itu. Mungkin badan mereka udah tinggi besar seperti pria, mungkin tubuh mereka udah seperti wanita dewasa, but deep inside they are still children who need time to play, to have fun, to enjoy their youth…

Ah, gue kangen banget nih pengen ngajar lagi. Padahal baru 2 minggu libur, kenapa rasanya lama banget yaaa…? Eh Sabtu ini kelas dah mulai deng. Asik, gue bisa ngajar lagi nih:) Lumayan penyegaran, setelah setiap hari dari jam 8 pagi ampe jam 8 malem kerja mulu melolotin laptop di kantor hehehe…

May 22, 2007

leave a mark that cannot be erased

Filed under: happy teaching

Friends, pernah perhatiin ga dandanan ABG belakangan ini? Sekarang gue makin sering ngeliat para ABG, terutama cowo, dandanannya makin aneh aja. Rambut berdiri-diri kaya’ pencakar langit, tegak tercacak dengan kokoh seperti dikasih lem uhu, baju item-item, celana item, asesoris penuh rantai-rantai dan paku-paku, persis kaya toko material. Itu baru yang tampak luar aja. Belom kalo dideketin, ups! Ternyata ada banyak tindikan di sana-sini. Di kuping, di alis, di hidung, dan yang ajaib, di lidah! Bener, di lidah! Gue pernah liat murid gue sendiri lidahnya ditindik pake anting hiiii….Kok ga sakit sih?

Gue jadi inget jadi film dvd kartun yang gue tonton hari minggu lalu, judulnya Incredibles *hehehe ketinggalan jaman banget ya, maklum lah, jarang banget nonton sih soalnya* Di film itu ada anak cowo yang namanya Dash *aneh banget ya namanya Dash, tebakan gue kakak-adiknya pasti namanya Semi Colon, Full Stop, Hyphen, Slash, wekekek:)* Sebagai anak superhero, si Dash ini punya special power dalem dirinya. Tapi sayangnya power itu ga boleh dipake sama sekali atau ketauan orang. Akibatnya dia jadi stress dan pemberontak. Nakal banget lah di rumah dan di kelas. Gurunya sampe stress.

Semua guru pasti pernah ngalamin hal kaya gini. Mungkin sering malah. Sulit banget ngadepin murid-murid pemberontak yang sikapnya selalu nantang. Sebenernya sih dalem hati mereka setuju dengan pendapat gurunya, tapi demi keliatan berbeda dari yang lain, mereka selalu jadi ekstrim kiri. Kalo sekelas bilang A, dia pasti bilang B. Kalo sekelas bilang B, dia pasti bilang C. Pokoknya harus berbeda dari yang lain.

Sikap pemberontakan ini pasti ada akar masalahnya. Kalo lagi duduk di bis gue sering mikir sendiri apa sih sebenernya akar masalah anak-anak ini. Setelah lama mikir, gue nemuin satu kesimpulan: Penolakan Diri. Penolakan diri ini bisa jadi dari orangtuanya, dari sekelilingnya, atau mungkin dari dirinya sendiri.

Gue jadi inget Mazmur 139:13-14 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Anak-anak ini sebenernya berharga (walopun tindakannya seringkali nyebelin). Kenapa gue sebut mereka berharga? Karena mereka itu dibentuk sama Tuhan sendiri! Mereka dibentuk dan ditenun oleh tangan Tuhan sendiri. Jadi mereka itu hasil karya tenunan adikodrati yang begitu ajaib. Jadi mereka itu masterpiece, bener-benar handmade of God. Karena yang ngebentuk itu Maha Kudus, pastilah ada kemuliaan Tuhan yang tertanam dalam setiap sel di tubuh mereka.

Sayangnyaaaa…. tidak semua orang tau hal itu. Bahkan mungkin orangtuanya sendiri ga menyadari ada kemuliaan Tuhan yang turun dalam diri putra-putri mereka. Mereka malah berulang kali menyebut anaknya bodoh, lamban, malas, ga ada bagus-bagusnya, dsb dsb. Atau guru-gurunya di sekolah mencap mereka sebagai anak yang susah diatur. Begitu telinganya denger kata2 negatif seperti itu, secara ga sadar setiap sel dari tubuh anak-anak itu berontak. Setiap bagian dari tubuh, jiwa, roh mereka menolak semua cap negatif itu. Kenapa? Karena sel-sel tubuh mereka itu tau kalo mereka diciptakan begitu mulia. Begitu berharga (Yes 43:4). Begitu berharganya sampai Tuhan sendiri yang turun tangan untuk membentuknya dalam rahim ibunya.

Tapi begitu lahir ke dunia, bukan nurturing atau kesempatan developing yang mereka terima, tapi malah semua celaan, ejekan, hinaan. Jelas aja innermost being mereka berontak. Karena substance mereka tidak didesain untuk menerima semua hal negatif itu. Ada supernatural design yang udah ada template-nya, udah dibentuk dari awalnya, ready to form and come into being (mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya Mzm 139:16)

Tapi design itu mampet. Macet. Ga berkembang seperti yang seharusnya, seperti yang Tuhan rancangkan sejak mereka belum lahir. Akibatnya, segenap diri mereka berontak. Tapi mereka ga tau kenapa mereka berontak. Mereka hanya tau mereka pengen berontak. Pokoknya pengen aja. Dengan caranya sendiri…

Ada yang berontak dengan cara yang ekstrim: lari ke narkoba. Tapi ga semua loh pemberontakan keliatan dengan cara yang negatif. Ada juga bentuk-bentuk pemberontakan yang “halus”. Tau ga maksudnya halus? Artinya begitu halusnya, begitu sempurnanya, begitu bagusnya, sampai ga ada orang yang menyadari kalo itu sebenernya bentuk pemberontakan terpendam.

Misalnya? Karena sekali dikatain bodoh, si anak belajar mati-matian, harus jadi juara 1 melulu, langsung stress liat angka 7 di rapor, harus 8 atau 9. Akibatnya, perlahan-lahan dia jadi perfeksionis kronis yang begitu kerasnya sama diri sendiri. Ga bisa mengampuni dirinya sendiri kalo gagal.

Ini salah satu bentuk kegagalan menerima dirinya sendiri. Ga ada self-acceptance. Karena ga bisa menerima dirinya sendiri, dia berontak terhadap dirinya sendiri. Jenis pemberontakan ini sulit sekali diliat secara kasat mata oleh orang tua atau guru. Kalo pemberontakan lainnya seperti narkoba/dandanan aneh-aneh sih gampang diliat dari ujung sudut kelas 3x4 m. Tapi kalo pemberontakan halus ini jarang ada yang bisa kenalin. Guru malah cenderung muji-muji anak perfeksionis yang sebenernya lagi struggling hebat dalam dirinya.

Mereka belajar karena mereka dianggap berharga hanya kalo jadi juara kelas. Dan itu harus belajar mati-matian. Padahal setiap orang, termasuk anak kecil sekalipun, perlu merasa aman, merasa diterima, dengan apa adanya mereka. Mereka bukan anak yang bisa segalanya. Mereka tetap ingin diterima, bahkan jika pulang ke rumah dengan membawa nilai 5 sekalipun.

Sayangnya si anak kecil itu ga bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi hal itu. Mereka pengen keluar dari tekanan itu, tapi ga tau caranya. Akhirnya mereka cuma bisa bertahan dari tahun ke tahun dengan cara survival mereka sendiri. Yang berontak terang-terangan makin liar dari ke hari-hari (makin dia berontak maka orang lain makin menjauh darinya, dan akhirnya dia makin merasa aman dengan comfort zone-nya sebagai pemberontak tanpa ada yang bisa ganggu). Yang berontak halus makin parah perfeksionis-nya (makin dia berusaha sempurna maka orang makin memuji dia…tanpa ada yang menyadari kelemahannya yang tidak bisa mengampuni dirinya sendiri)

Semua pattern ini harus dipatahkan. Harus dihancurkan. Kalo dibiarkan terus-menerus, amat sangat ga sehat. Mereka akan tumbuh jadi orang-orang dewasa yang terus menerus memberontak dengan cara yang berbeda. Dan satu-satunya cara untuk sembuh hanya ada satu: firman Tuhan. Karena Tuhan yang membentuk kita, Tuhan yang menciptakan kita, maka cuma Tuhan jugalah yang bisa menyembuhkan. Karena Dia yang create, cuma Dia juga yang bisa restore.

Gimana cara restore-nya? Dengerin perkataanNya:
Sebab engkau berharga di mata-Ku dan mulia,
dan Aku ini mengasihi engkau… (Yes 43:4)

Biarin aja orang lain ga nganggep kita. Biarin aja orang anggep rendah. Biarin aja orang bilang kita ga memenuhi standar. Biarin aja. Yang penting bukan apa kata manusia, tapi kata Tuhan. Kalo Tuhan aja Pencipta langit bumi beserta isinya bilang kita berharga, apalagi yang kurang? Perlu penerimaan dari siapa lagi ??? Perlu pengakuan dari siapa lagi ???

Dan kita bukan cuma BERHARGA, tapi juga MULIA. Bayangin, BERHARGA dan MULIA…

Karena itulah temen-temen, kalo pekerjaan kamu berhubungan dengan dunia pendidikan, baik pendidikan anak atau remaja, percayalah kalo itu bukan kebetulan. Tuhan taroh kamu di sana untuk satu tujuan mulia. So, jangan pernah underestimate tanggung jawab seorang guru, betapapun rendahnya penghargaan bangsa ini terhadap profesi seorang guru.

Mungkin kamu pikir kamu “cuma” guru sekolah minggu, guru vokal/musik, guru kursus inggris/mandarin/jepang, guru anak autis, pengasuh anak SLB, guru tari anak, guru gambar anak-anak, guru les gitar/piano/organ/etc, guru les kumon/sempoa, les matematika, ato guru part-time apalah yang kamu pikir ga terlalu penting buat disebutkan di CV kamu sewaktu lulus kuliah dan mulai melamar pekerjaan ke kantor-kantor elit sepanjang Sudirman-Thamrin.

Tapi inget, guru bukan “cuma” sekedar guru. Kata-kata seorang guru (entah berupa pujian, dukungan, atau pengertian) sangat penting dan tinggal tetap dalam hati murid-murid kamu. Inget kan betapa masih jelasnya memory kita tentang guru kesayangan kita di sekolah dulu? Inget loh sekarang ini kamu itu jadi role model buat murid-murid kamu. They look up to you…And they may even admire you…

Mungkin mereka keliatannya cuma anak-anak culun yang belom bisa apa-apa *apalagi kalo muka-muka innocent itu mulutnya lagi melongo atau ternganga ngeliatin kamu dengan tatapan polosnya, persis kaya’ anak sapi imut:)* Tapi inget selalu kalo Tuhan-lah yang menenun mereka. Ada kemuliaan Tuhan dalam diri mereka. Ada potentials dalam diri mereka. Potentials that are ready to explode. Only if their teachers can see it in them… Only if you can spot it in them…

You should thank God for bringing you as their teachers in the path of their lives. Bersyukurlah untuk itu. Kamu punya kesempatan untuk menabur firman Tuhan dalam hidup anak-anak itu. Kamu punya kesempatan untuk leave a mark in their lives. Leave a mark that cannot be erased…

January 30, 2007

dear teachers…

Filed under: happy teaching

Beberapa minggu lalu, abis PD di kantor, temen gue bilang gini “yang khotbah tadi asyik ya, ngajarnya enak…” Trus gue jawab “Heeh, kita gampang ngertinya.” Trus udah aja, kita kembali ke laptop:)

Obrolan singkat itu bikin gue mikir. Gue dah banyak ngedenger khotbah-khotbah yang disampein sama hamba-hamba Tuhan yang berbeda. Memang firman Tuhan yang disampein itu ga akan kembali dengan sia-sia *ya, gue aminin banget itu* , tapi yang ngebawain firman itu juga punya peran besar untuk menentukan apakah firman itu sampe apa engga ke pendengarnya.

Ada hamba Tuhan yang emang pinter (I mean hampir S3) tapi cara ngomongnya begitu “tinggi” , begitu “pinter” cuma karena dia tau jemaat ga tau teologi sedalem yang dia tau. Akhirnya jemaat berasa “gerah” dan pengennya cepet2 pulang aja. Ada juga yang pinter tapi begitu banyak yang pengen dia ajarin sampe jemaat terengah-engah “ngejar” speed dia. Kebalikannya, ada yang khotbah-nya lambat banget seakan-akan jemaat semua anak Sekolah Minggu yang cuma tau cerita Zakeus orang pendek kecil bener dia panjat pohon ara hendak melihat Yesus.

Gue jadi inget dulu guru gue pernah bilang gini: “Guru yang baik itu bukan selalu guru yang pinter. Guru yang baik adalah guru yang tau gimana cara mentransfer apa yang dia tau ke murid-muridnya hingga dia bisa memindahkan sebagian isi kepalanya ke kepala murid-muridnya.” Maksudnya, gimanapun pinternya tuh guru, kalo dia ga bisa mentransfer ilmunya, dia bukan guru yang baik. Tapi guru yang ga terlalu pinter pun akan disebut guru yang baik kalo dia bisa membuat murid2nya mengerti apa yang dia pengen sampaikan.

Bener banget tuh. Itu dulu waktu gue masih jadi murid. Trus bertaun-taun kemudian, waktu gue dah jadi teacher, seorang guru yang senior pernah ngajarin gue gini satu kalimat yang amat sangat penting: “What am I here for?” Dia bilang, begitu kita berdiri di depan kelas, kita harus tanyakan satu pertanyaan penting ini ke diri kita sendiri “What am I here for?” Jawabannya tentu aja “To teach”

Jadi kalo tujuannya to teach, to make them understand, carilah cara seefektif mungkin pegimane carenye supaya murid2 mu ngerti apa yang pengen kamu sampein, even if it means you have to forget about your target, your lesson plan, your method, your curriculum etc. Jangan pusing ama target 2 jam ini mesti selesai belajar a, b, c, dan d. Kalopun selama 2 jam itu mereka cuma bisa nangkep point a doang, it’s okay. You’re not a failure. Lebih baik ngerti point A aja tapi ngerti sepenuhnya daripada maksain cekokin point A B C D dengan tingkat pemahaman cuma 10% masing-masing. Bisa-bisa point A B C D itu kecampur2 sendiri di kepala mereka dan hasilnya menelurkan formula ajaib F yang entah darimana asalnya :)

Makin lama gue ngajar, makin gue belajar sesuatu yang I’d like to share with you all. Seorang guru sejati itu rela mengosongkan dirinya, merendahkan dirinya, sampai ke tingkat di mana murid2nya berada. Dan dari tingkat di mana murid2nya berada itulah dia akan mulai segalanya. Dia harus berusaha menyamakan dirinya ke posisi muridnya supaya dia bisa tau kebutuhan muridnya. Kalo dia dah tau di level mana, apa kebutuhannya, dia akan dengan mudah mengalir dari sana, bersama-sama dengan mereka, at the same pace, the same speed, until everyone succesfully reaches the level he/she wants them to be.

Misalnya: percuma maksain murid2 ngerti past perfect tense kalo past tense aja belom ngerti. Biarpun text book jelas-jelas “mengancam” semua murid harus bisa past perfect, jangan harap mereka ngatri kalo konsep past tense aja mereka ga dapet. Dan guru yang tau “what I am here for” ga akan paksa mereka belajar sesuatu yang mereka belom siap. Dia ga akan insist target dia sendiri, maksain goal dia sendiri, dengan membiarkan murid2 nya tewas bergelimpangan dalam ketidakmengertian mereka.

Begitu juga sama Tuhan Yesus, Guru kita yang super sabar dan super pengertian itu. Dia rela merendahkan diriNya (dari surga turun ke bumi), mengosongkan diriNya (dari Tuhan menjadi Anak Manusia), supaya dia bisa satu level sama kita, murid2Nya ini. Dia berusaha “masuk” ke level kita. Walopun sebenernya, sebagai Tuhan, Dia bisa aja tinggal kasih perintah do this, do that, if you don’t do this, don’t do that, if you don’t understand please review previous chapters:) Ato bisa aja Dia bilang “Ampun deh masa gitu aja ga ngerti? Itu kan udah ditulis dari jaman Musaaaa… Please deh baca dulu dong…”

But thank God He didn’t do that. Dia rela “turun” dan bergaul sama manusia. Dan karena Dia tau kita2 manusia ini suka susah ngertinya *alias rada lemot*, makanya Dia pake contoh2 sederhana dalam model perumpamaan supaya murid2Nya ngerti. Isn’t He sooooo understanding ??? *Tapi sayangnya udah pake perumpamaan sederhana kadang2 kita masih juga ga ngerti wakakak*

Well, what I am trying to say is: if you want to be a good teacher, learn from Jesus. He is the best teacher of all. Metode pengajaran Dia sangat simpel tapi butuh kerendahan hati yang luar biasa. Kuncinya cuma satu: rela merendahkan diri dan mengosongkan diri…

…which makes me realize now that the great peachers are basically the great teachers…

thank God for the great preachers that You’ve sent to us here on earth
teach us to help them, to appreciate them more and more everyday
teach us to better students so that they can be better teachers
so that both students and teachers can reach higher and higher
to the highest level You want us to be…

November 16, 2006

i am a child, i am only a child…

Filed under: happy teaching

di semua kelas yang gue ajarin, gue punya satu peraturan yang berlaku buat semua, including me as a teacher. Peraturannya adalah: selama pelajaran berlangsung, ga boleh ada hp yang bunyi. Kalo cuma mo ngirim or nerima sms aja sih oke, asal no sound. Ga boleh ada bunyi ringtone or sms alert or any sound whatsoever. Semua hp harus di-vibrate atau di-silent.

Kalo sampe bunyi, peraturannya harus maju ke depan kelas untuk nyanyi. In English. Kalo ga mau nyanyi, baca puisi juga boleh. Tapi tetep harus in English. Sejauh ini everything works well. Semua yang ketangkep hpnya bunyi biasanya menyerah dan nyanyi depan kelas. In English, of course.

Ternyata sabtu kemaren ada murid yang hp-nya bunyi. Karna yang punya hp tuh anak yang bandel dan ribut banget, satu kelas langsung seneng banget pengen ngerjain. Termasuk gue hehehe

Dengan susah payah akhirnya dia maju juga ke depan kelas, tapi mepet banget ke tembok di pojokan. Tuh murid yang biasanya ribut banget dan ga bisa diem, mendadak jadi mengkeret di depan kelas. Disuruh nyanyi susaaaa…hhh banget. Bayangin aja, kita sekelas mesti nunggu dia 15 menit. Bener, 15 menit! Sebenernya 15 menit tuh berharga banget di kelas, kan bisa kerjain exercises minimal 15 soal ato paling ga sempetlah act out untuk roleplay 2-3 grup.

Tapi karena dia susah banget disuruh nyanyi, terpaksa kita semua bengong staring ngeliatin dia nunggu dia mulai nyanyi. Sepanjang 15 menit itu dia terus2an tawar-menawar sama gue. Alesannya malu lah, ga bisa nyanyilah, ga tau lagu apalah, malu diliatin murid2 cewe lah, mau nyanyi asal murid2 cewe pada ngadep tembok lah, hpnya bunyi gara2 dikerjain temen lah, pokoknya banyak lah alesannya. Tapi gue (dan semua murid sekelas) tetap nuntut dia nyanyi karena kita sekelas udah made a deal di awal term.

Akhirnya dia mau juga nyanyi tapi dengan satu syarat. Dia nyanyi sambil ngadep tembok. Biar ga malu diliatin katanya. Ampun deh. Terpaksa gue ijinin juga, asal nyanyi. Akhirnya dia balik natap tembok, dan mulai nyanyi. Dan satu hal yang bikin gue ngakak adalah: dia nyanyi tapi mukanya hampir nyium tembok! Asli gue bener2 ketawa keras banget ngeliat tingkah tuh anak…Apalagi murid2 cewe sekelas yang dah sebel banget liat tingkahnya yang selalu bikin ribut dan bikin mereka ga bisa konsentrasi belajar.

Gue ga tau yang dia nyanyiin tuh lagu-nya siapa, tapi pokoknya lirik yang gue denger adalah “I am a child, I am a child, I am only a child…”

Memang waktu dia nyanyi itu gue ketawa. Tapi pas bubaran kelas, trus sembari ngapus papan tulis, gue jadi mikirin lirik lagunya. “I am a child, I am a child, I am only a child…” dengan muka nunduk gaya klasik disetrap di pojokan depan kelas. Gue langsung diingetin satu fakta bahwa iya memang dia only a child. Walopun badannya tinggi besar, paling besar di kelas, trus item lagi *eh item ini relevan ga sih* dia cuma anak sekolah biasa. Di balik badannya yang besar itu he’s only a child. A child that oftentimes makes mistakes. A child that needs a lesson this one and that one shouldn’t be done. A child that needs correction. A child that makes noises all the time because he wants attention. But when he gets the attention from everyone, when he is on the spotlight in front of the class, he strangely becomes embarassed…

Ada satu hal yang gue pelajarin hari itu. Gue belom ngerti psikologi pendidikan untuk remaja. Emang gue dah lama banget jadi guru kursus inggris, 11 taon dah lewat deh. Tapi taon-taon itu ga menjamin I know them well. Gue baru tau kalo umur2 segitu tuh remaja cowo suka malu di depan temen2nya yang cewe. Padahal gue kan ga nyuruh yang macem2, cuma nyanyi doang. Kenapa juga mesti malu nyanyi di depan? Gue pikir mereka seperti anak2 remaja/youth di gereja yang nature-nya penuh semangat nyanyi praise worship di mimbar gereja. Tapi gue telat nyadar kalo murid2 gue bukan anak2 youth gereja yang terbiasa dan emang suka nyanyi buat Tuhan.

Dari sini gue belajar kalo emang anak-anak Tuhan tuh beda banget sama dunia. Usia mereka boleh sama (belasan taon), penampilan boleh sama (rambut bediri-diri pake gel 3/4 botol), gaya mereka boleh sama (kaos didobel kemeja lengan panjang di dalem), tapi dalemnya beda booo….

Anak-anak Tuhan punya gambar diri yang utuh di hadapan-Nya, jadi mereka bisa menyanyi dengan dada tegak muka lurus menghadap ke depan. Anak2 Tuhan tau mereka berharga. Anak2 Tuhan tau Bapa mereka senang mendengar mereka bernyanyi untuk-Nya. Anak2 Tuhan tau, seperti apapun suara mereka, Tuhan selalu menerima mereka apa adanya…

Beda banget sama anak2 di luar sana yang belum kenal Tuhan. Yang belum mengerti betapa berharganya diri mereka bagi Tuhan. Yang belum bisa berdiri tegak dan menatap ke depan dengan pandangan “aku tau aku berharga, aku tau aku spesial, aku tau Tuhan di pihakku”

Makasih ya Tuhan udah ngajarin saya tentang mereka…
Makasih ya Tuhan You teach me about the differences You make for Your child…

November 6, 2006

awas kaca !

Filed under: happy teaching

hari Sabtu kemaren waktu gue lagi ngajar, kira-kira jam 4an sore, ada kejadian heboh banget. Lagi serius-seriusnya ngajarin tentang passive voice, tiba-tiba GUBRAKKK !!! Ada suara kaca pecah keras banget. Kaya abis ditabrak sama bola beton. Langsung aja gue keluar kelas dan tau ga apa yang gue liat? Kaca pintu ancur, pecah, luluh lantak dan yang lebih ngagetin lagi gue liat ada anak murid cowo, dengan muka imut anak SMP yang lagi kesakitan dengan muka penuh darah netes dari jidat dan idungnya.

Gue kaget banget (plus lemes banget) ngeliat darah yang terus netes. Tapi gue lebih concern lagi ngeliat muka dia yang kesakitan dan mata seorang anak yang memelas minta tolong sama ibu gurunya. Gue ga bisa nolong banyak karena dia langsung ditolong sama guru-guru laen. Trus karena ga ada hal lain yang bisa gue tolongin, akhirnya gue masuk kelas lagi dan nyuruh murid-murid lain kembali belajar.

Sampe besoknya muka dan mata anak itu ga bisa gue lupain. Bahkan waktu lagi nyanyi worship di gereja pun gue masih ngedoain dia. *Even today I’m still saying a prayer for you, Son. Get well soon ya Nak. Jangan suka lari-larian lagi di koridor. Bahaya ntar nabrak pintu lagi…* Salah satu alasan kenapa gue suka ngajar adalah gue suka banget ngeliat mata-mata anak-anak sekolah itu (terutama anak-anak SMP) yang penuh semangat, penuh sinar, penuh energi menatap masa depannya. Semakin cerdas seorang anak, semakin bersinar matanya. Dan biasanya gue selalu bener mendeteksi mana anak cerdas mana anak bermasalah cuma lewat sinar matanya.

Rasanya menyenangkan sekali bisa berdiri di depan kelas memandang mata-mata bersinar anak-anak itu. Beda banget sama suasana tiap hari di kantor. Yang gue liat cuma wajah-wajah serius yang matanya natap lurus ke layar laptop masing-masing (ya iyalah, kan mereka mesti kerja :) Makanya kalo dateng hari ngajar, gue jadi semangat karena gue justru di-energized sama energy dari anak-anak itu yang emang full energy (saking terlalu full-nya makanya anak-anak suka lari-larian di koridor, padahal ga ada yang ngejar :)

Oya back to topic. Anak-anak yang lagi usia transisi (pubertas maksudnya) emang kelebihan energy, tapi entah kenapa koordinasi mereka kurang. Jadi mereka sering nabrak-nabrak sesuatu, sering ngejatuhin benda-benda yang dipegang, dan bahkan sering jatuh. Gue tau karena gue dulu ngalamin juga kaya gitu. Karena mama gue dulu ngerti (bahkan dia yang kasih tau informasi ini waktu gue lagi ngalamin masa-masa ini), makanya dia ga pernah heran dan ga pernah marah walopun gue sering banget tanpa sengaja jatohin dan mecahin barang2 pecah belah, dan bahkan nabrak pohon natal sampe oleng semua hiasannya :) Dia cuma bilang “biasa anak remaja emang gitu…”

Mungkin ini juga yang dialamin sama anak murid yang nabrak kaca pintu sampe ancur itu. Kalo dipikir-pikir gile banget yah tuh powernya, sampe bisa mecahin kaca tebel gitu. Berarti anak kecil usia SMP pun sebenernya punya power besar.

Sebenernya kalo dipikir-pikir sih tuh anak kurus, tapi kok bisa ya pecahin kaca segede gitu? Kalo power fisik aja sebesar itu, apalagi power yang ada di dalemnya. Power pengetahuan, skill, kemauan, dan bahkan kehendak. Sebenernya justru di usia-usia seperti itulah mereka seharusnya dibentuk. Pada saat mereka masih muda, masih penuh semangat, masih so full of energy, masih full of potentials, dengan arahan yang tepat, maka di masa depan potensi mereka bisa jadi kekuatan yang bisa ngubah keadaan di sekitar mereka…

Apalagi kalo mereka punya pendidikan Kristiani yang baik, diajar oleh guru-guru yang takut akan Tuhan, guru-guru yang bisa bring out the best in them… Guru-guru yang menghargai mereka as precious jewels yang punya keunikan masing-masing… Guru-guru yg menyadari so many potentials within them ready to explode… Guru-guru yang bisa mengantar mereka to the highest level they can reach…As high as God want them to be…

Tuhan, kapan ya saya bisa jadi guru seperti itu?






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham