the integrity test
Sabtu pagi. Sebelom berangkat kuliah baca koran dulu. Halaman pertama Kompas: ”Ketika Pinsil Anak-anak Tidak Bergerak…” Details: 284 siswa harus mengulang UN. Baca lanjutannya: anak-anak kelas 3 yang ikut UN di salah satu SMU di daerah Sumatera harus ngulang UN. Alasan: Guru-guru mereka membetulkan lembar jawaban murid-murid. Barang bukti: pinsil, penghapus, serutan. Tindak pelanggaran: memalsukan surat berdasarkan KUHP pasal sekian. Ancaman hukuman: 6 tahun penjara. Modus operandi: 4 guru bahasa inggris secepat kilat menjawab soal begitu amplop dibuka dan langsung membuat kunci jawaban. Begitu selesai, guru-guru lain langsung membagi 4 kunci jawaban itu dan kemudian membetulkan jawaban anak-anak yang salah dengan penghapus. Lokasi: ruang guru BP.
Duh Tuhan… apalagi ini? Miris bener baca pengakuan guru-guru itu. Katanya mereka ga tega melihat anak-anak didik mereka yang tidak bisa mengerjakan soal-soal itu. Kasihan mereka udah sekolah bertahun-tahun harus gagal hanya karena standar UN yang ga adil buat anak daerah. Mungkin buat anak Jakarta soal seperti itu mudah. Tapi di daerah, anak-anaknya tidak sepintar anak Jakarta karena minimnya fasilitas. Tidak adil menyamakan standar kelulusan, begitu keluhannya.
”Pinsil anak-anak tidak bergerak…” Guru mana yang ga sedih melihat wajah-wajah putus asa anak-anak muridnya menghadapi lembar ujian? Guru mana yang ga berpacu jantungnya melihat lembaran-lembaran jawaban yang kosong di meja anak-anak sementara jam dinding di kelas terus berdetak menunggu bel berdering tanda ujian selesai? Guru mana yang tega hatinya membayangkan wajah-wajah itu harus mengulang kembali tahun depan? Guru mana yang ga putus asa melihat pinsil-pinsil itu tegak terdiam di tangan basah keringat dingin murid-muridnya …???
Hati saya menjerit bertanya “Tuhan, apa yang salah dengan sistim pendidikan di bangsa ku ini? Apa yang salah, Tuhan? Apa…??? Murid yang tidak mau belajar? Apakah mereka salah kalau mereka tidak punya buku untuk belajar? Apakah mereka salah kalau mereka kelelahan untuk belajar karena harus bekerja sambil sekolah? Apa mereka salah kalau mereka harus bekerja keras agar bisa bayar uang sekolah sekaligus biaya makan sehari-hari?
Jika murid tidak bersalah, lalu siapa yang harus disalahkan? Gurunya? What can they do with such heavy burden of national passing grade? Bagaimana mungkin mereka bisa mengajar dengan sempurna dengan minimnya jam pelajaran plus minimum exposure of the language itself? Where can they get the audio tapes for pronunciation, video tapes for context learning, good dictionaries for reference, etc etc?
Lalu siapa lagi yang harus disalahkan? Pembuat kebijakan di negara ini yang sepertinya “memaksakan” semua anak harus pintar, no matter what? Atau sistem pendidikan di negara ini yang menitikberatkan pada hasil? If you get lower than 4.25, then you’re stupid. If you’re stupid then stop going to school cause you got no future. Is that what you want to say? How can you make such high standard like Japan if you know the quality of schools here? Are you blind??? Please someone in Depdiknas, give me an answer… How could you make such a policy when you know your own system is not ready yet? Why are you too proud, too arrogant to admit that the UN system is not effective at all? How could you have such a cold heart, insisting on your system while hundreds of students jatuh bergelimpangan akibat kekerasan hatimu? Apakah begitu sulitnya membatalkan kebijakanmu hanya karena malu karena kebijakan itu terlanjur diberlakukan? Tell me the truth, apakah murid-murid di bangsa ini bisa langsung pintar dengan adanya UN? Apakah hasil akhir begitu berharganya di jaman sekarang ini ??? Bukankah dengan demikian bapak ibu mengajarkan shortcut, jalan pintas demi hasil semata? Generasi macam apa yang bapak ibu ingin lahirkan dengan sistem shortcut ini? Bagaimana dengan konsep pendidikan moral, budi pekerti, kejujuran, integritas, usaha keras, karakter, penghargaan bakat/talenta yang jauh lebih berharga bagi masa depan mereka dibanding sekedar bisa lewat angka 5 di UN?
Duh, saya bener-bener ga tau mau ngomong apa lagi. Saya ga tau mesti gimana lagi, mesti berbuat apa lagi. Saya cuma mantan guru bahasa inggris for the past 12 wonderful years. I’m no longer a teacher but saya bener-bener gerah sama semrawutnya sistem pendidikan di negara ini. Para petinggi di dunia pendidikan kita seakan-akan ingin menunjukkan bahwa di masa kepemimpinannya mereka berhasil menaikkan standar ”kepintaran” anak-anak Indonesia. Padahal semuanya semu. Semuanya hanya mengejar hasil akhir. Semuanya mengejar statistik semata agar tampak bagus di laporan. Begitu terengah-engahnya anak murid jaman sekarang mengejar nilai hingga mereka lupa untuk apa mereka belajar. Belajar menjadi sesuatu yang hanya mengejar angka. Bukan agar pintar. Bukan agar cerdas, bisa menganalisis, bisa memakai logika, bisa menyimpulkan sebab akibat, yang merupakan esensi belajar itu sendiri. Anak-anak harus tahu mengapa mereka bisa menjawab sesuatu sebagai A misalnya, dan bukan B, karena mereka mengerti teorinya, bisa menganalisanya, dan mengambil kesimpulan atasnya. Tapi kenyataannya? Sekarang yang mereka tahu jawabannya A dan bukan B adalah karena mereka menghafalnya. Bukan karena mereka mengerti, but because they are being told to do so. Mereka jadi mesin-mesin penghafal mati yang tidak bisa reasoning, tidak bisa analyzing, let alone explaining to others…
Rasanya frustasi banget ngeliat sistem pendidikan di negara ini. Mo dibawa kemana anak-anak jaman sekarang ini? Rasanya semua udah dicuci otaknya bahwa hasil akhir lah yang terpenting, bukan prosesnya. Akibatnya akan sangat mengerikan: lahirlah generasi yang hanya mau peduli dengan nilai akhir. Peduli amat sekolah cape-cape tiap hari, toh yang menentukan juga cuma 2 hari ujian akhir aja. Mo bolos tiap hari juga ga ngaruh lah, yang penting dateng ujian, tau jawaban, lewat nilai minimal, lulus. Tapi mereka lupa bagaimana mereka keluar akan menentukan bagaimana mereka masuk.
Jika mereka keluar dari sekolah dengan pola pikir seperti itu, bagaimana nanti mereka masuk dunia kerja sebagai orang dewasa? Bawa angka-angka ujian semu, yang penting keterima dulu. Udah masuk kerja, peduli amat sama integritas, kejujuran, yang penting hasil akhir: duit banyak, mobil keren, rumah mentereng. Yang mereka pikirin adalah: hasil akhir, hasil akhir, hasil akhir. Toh orang ga akan peduli apakah mereka jujur apa engga. Yang mereka tau: people respect them with the final results, not the process behind the results…
Betapa menyedihkannya harus membayangkan kalau seperti ini jadinya. So, jangan pernah salahkan koruptor-koruptor yang semakin merajalela tanpa rasa malu lagi. Siapa yang menjadikan mereka seperti itu? Kita sendiri. Kita sendiri yang selalu mengagungkan hasil akhir tanpa mau tau gimana mereka mendapatkannya. Kita sendiri yang memupuknya dengan menganggap bahwa mereka yang kaya adalah mereka yang berhasil. Sikap kita sendiri yang membuat praktek seperti itu makin subur. So, jangan pernah menyalahkan orang lain as if we’re holy holy holy, never guilty. Cek dulu diri kita. Apakah kita lebih menghormati orang yang bermobil mewah dibanding yang naik ojek misalnya? Apakah kita lebih melayani orang yang berpenampilan rapi dibanding yang lusuh? Apakah kita lebih membanggakan anak kita yang dapet 9 dibanding yang dapet 6 misalnya? Apakah kita pernah berusaha tau betapa kerasnya usaha sang anak yang harus belajar berhari-hari dulu sampe bisa dapet 6?
Gue jadi makin sadar bahwa ada something that is really wrong with the mentality in this country. Kita terlalu mengagungkan apa yang kelihatan dibanding yang tidak kelihatan. No wonder corruption semakin bersimaharajalela. Semua yang wow pasti memukau. Padahal yang memukau itu ga jelas darimana asalnya. Dan kita akan terus terpukau seperti itu sampai suatu saat orang tersebut ditangkap KPK. Serta merta semua orang akan langsung sahut-menyahut memberi julukan-julukan yang intinya mencaci. Sebenernya kalo mau dirunut ujung pangkalnya, koruptor tidak lahir dalam sehari. Itu orang ga lahir langsung pengen korupsi. Engga, engga seperti itu. Waktu lahir pasti dia jujur. Tapi semakin dia besar, masuk sekolah, dia mulai belajar nilai-nilai tertentu yang sayangnya salah. Kalo dapet 9 orangtua bangga, padahal hasil nyontek. Bisa bikin PR bagus, guru muji-muji, padahal boleh nyalin kelas sebelah. Masuk universitas favorit, keluarga besar bangga, padahal papinya cari kenalan sana sini yang bisa dapet jatah/fasilitas. Masuk kerja, egois abis-abisan, yang penting dapet duit banyak biar calon mertua terpukau. Gesek kartu kredit, hutang sana-sini, yang penting pesta perkawinan megah biar dilihat semua sodara udah jadi orang berhasil. Istri harus penampilannya gemerincing emas berlian di atas yang lain, biar semua orang tau suaminya orang sukses. Punya anak, set up the same standard, and the list goes on and on and on…
So, what should we do now? May be not much karena kita just an ordinary citizen. Tapi kita-kita yang ordinary people ini extraordinary di mata Tuhan. Kita lahir di Indonesia ini bukan cuma sekedar menuh-menuhin bumi Indonesia aja. Tuhan punya assignment buat masing-masing kita. Kita punya special mission yang Tuhan taruh di hati kita masing-masing. Kita punya chance, punya kesempatan untuk touch the lives of people around us. Cobalah untuk lebih menghargai proses dibanding hasil. Kenapa? Karena Tuhan kitapun lebih tertarik sama proses perubahan karakter kita. Karakter lebih berharga daripada kekayaan. Karakter lebih berharga daripada bakat/talenta. Why? Karena jika kita udah sampai di posisi puncak/level atas, karakter lah yang menguji kita apakah memang kita layak di sana. Bukan bakat kita, bukan kepintaran kita, bukan kekayaan kita.
That’s why mulai sekarang, kita harus coba untuk melihat sesuatu bukan dari luarnya aja. Tapi coba lihat proses dan usaha keras untuk sampai di sana. Kalo kamu guru, jangan hanya memuji mereka yang dapet nilai paling tinggi, tapi coba juga puji usaha mereka-mereka yang bisa benerin nilai merah jadi biru misalnya. Anak pinter dah biasa nerima pujian, tapi cobalah puji mereka yang ga pernah dapet pujian, karena mereka sangat membutuhkannya. Kalo kamu pimpinan, cobalah menghargai staf kamu yang walk an extra mile. Jangan hanya lihat mereka sebagai support yang harus bantu kamu mencapai target yang kamu inginkan. Cobalah lihat kelebihan mereka dibanding yang lain, and you’ll be grateful about it. Kalo kamu masih staf, jangan menuntut bos kamu always know everything, can always decide everything. Cobalah menghargai dia sebagai seorang manusia biasa yang kadang-kadang lelah, stress, ga sabaran, ga percaya diri, butuh kata-kata dukungan, bingung ambil keputusan, dll. Hargai setiap perubahan positif di dirinya dan pujilah dia untuk itu. In short, kita harus bisa nunjukin ke semua orang di sekitar kita bahwa kita set up a different standard. Our standard is not the same as the world’s. Dunia boleh menghargai hasil akhir, tapi kita sebagai anak Tuhan, lebih menghargai integritas dan kejujuran karena buat Tuhan kita, karakter adalah segalanya…
Thanks ya friends udah baca blog saya ini. Saya yakin kamu dateng di blog ini bukan kebetulan. Saya percaya kamu pun punya passion yang sama. Kamu juga pengen ada perubahan di bangsa kita ini. Kamu juga rindu bisa touching the lives of others, as the agent of change in this country… Jangan pernah nyerah ya friends… Tetap terus jaga integritas kamu… Jangan pernah kompromi dengan standar firman Tuhan, terus lift up the standard… Mari kita sama-sama berusaha bikin perubahan di sekitar kita, bawa dampak buat sekeliling kita, sampai kita lihat jiwa-jiwa diubahkan, kehidupan dipulihkan… Kita ubah atmosfir di sekeliling kita, sampai bumi Indonesia penuh kemuliaanNya… Amin.
