letsing4joy

June 19, 2008

marketplace ministry part I

Filed under: bagi bangsa ini

Friends, ini lanjutan dari postingan sebelumnya. Kali ini gue ngomong eh nulis serius ya. Serius banget malah…

Sebagai orang yang ada di marketplace, kita jadi pelayan baris depanNya. Kita2 inilah yang dilihat, sebagai mahluk hidup real flesh and blood yang bisa dilihat oleh mata fisik saudara2 kita yang belum percaya. That’s why gaya hidup kita, kebiasaan kita, cara kita bertindak, pilihan2 hidup yang kita ambil, cara kita mengatasi masalah, dan lain sebagainya adalah refleksi dari apakah kekristenan itu sebenarnya bagi mereka yang bukan Kristen.

Sebagai pelayan garis depan Allah di tempat kerja, kita jadi masuk ke dalam konflik antara sistem dunia/kerajaan gelap dengan sistem kerajaan Allah. Kita ada di garis depan culture conflict. Bayangin si garis depan! Bayangin aja film perang Benhur ato apa kek yang pernah kamu tonton (Braveheart etc) trus taroh muka kamu sebagai pasukan terdepan! Jiper juga kan? Tapi Tuhan tempatin kita di sana dan mengurapi kita untuk menjadi suara yang berpengaruh. Kita dipersiapin Tuhan (melalui gereja dan cell) untuk menjadi tentara dari pasukan korporatnya Allah yang akan penetrasi the 9-5 window. Kita yang ada di marketplace harus membawa masuk sistem kerajaan Allah n then dorong mundur tuh kegelapan di dunia usaha.

Tapi untuk masuk ke dunia usaha, tangan kita harus bersih dan hati harus murni. Kita juga butuh banyak energi, bukan hanya kekuatan fisik tapi juga rohani. Ini untuk mengejar panggilan tertinggi. Kenapa? Karena kita perlu gairah dan semangat yang menyala-nyala untuk ngalahin keletihan luar biasa yang akan melanda kita selagi kita sedang melawan arus dunia. You’ll be drained off. Bayangin aja ngelawan arus deras sendirian… Kita akan berperang melawan struktur yang sudah ada. Mengubah pola pikir orang-orang. Dan itu akan membuat kita letih luar biasa, secara fisik dan rohani. Inget Paulus bilang: “aku mendesak maju meraih panggilan tertinggi…” That’s why kita harus siap mental. Kita harus punya prinsip. Dan kita ga akan punya prinsip sampai kita punya value.

Gimana caranya supaya punya prinsip? Punya value? Kita harus buat pernyataan visi (vision statement) pribadi. Visi ini penting sebab kita harus bisa membagikan nilai-nilai kita kepada orang lain ketika kita masuk ke marketplace.

That’s why kita masing-masing harus punya vision statement pribadi. Vision statement ini ga dateng dari langit, tapi harus dateng dari dalem diri kita sendiri karena masing-masing kita punya panggilan pribadi yang sangat spesifik sifatnya. Bikin sendiri disini maksudnya bukan ngarang2 sendiri, tapi dengan tuntunan Roh Kudus of course. Kalo ini dari Tuhan, pasti hal ini membara di hati kamu, kamu akan bergairah just to think about it. Padahal mungkin jalan ke sana kelihatannya jauu…h banget. Kelihatannya ga mungkin banget… Tapi itulah uniknya visi. Kalo visi itu gampang dilakukan, berarti itu bukan visi. Visi dari Tuhan itu cirinya impossible to do by our own strength. Why? Karena Tuhan ingin menunjukkan kuasa kemuliaanNya atas hidup kita. So that people will say “this must be from God” begitu ngeliat visi hidup kita digenapi…

Trus gimana caranya bikin vision statement? Tanyain pertanyaan-pertanyaan berikut ke diri kita sendiri: Mau jadi orang seperti apa 10 tahun mendatang? Keberadaan seperti apa yang saya inginkan? Akan menjadi siapa saya? Gaya hidup dan kualitas hidup seperti apa yang saya ingin miliki?

Supaya bisa menjadi orang yang seperti saya mau:
1. Bagaimana saya harus mengatur kehidupan saya di kelima area ini: emosi, fisik, hubungan dengan orang lain, rohani dan keuangan?
2. Bagaimana kondisi keberadaan saya sehari-hari: kondisi emosi saya, kondisi pikiran saya dari waktu ke waktu? (quality life)
3. Dengan apa/di mana saya harus terlibat?
4. Disiplin hidup seperti apa yang harus saya kembangkan?
5. Pengetahuan apa yang harus saya peroleh untuk mencapai kualitas hidup tersebut?
6. Kondisi harian macam apa yang harus saya miliko untuk saya bisa menentukan nilai-nilai saya?
7.Bagaimana cara saya melayani orang lain? Kebutuhan apa yang harus saya penuhi?
8. Hal-hal apa yang membuat saya paling bergairah dan hidup?

Jawaban2 atas pertanyaan ini adalah kunci dari tujuan hidup kita. Ini mengenai who we are and apa identitas kita. Kesuksesan di 10 tahun mendatang ditentukan oleh bagaimana kita mendefinisikan diri kita dan keinginan kita sekarang.

Vision statement ini sangat penting. Kenapa? You must be able to declare your vision statement. If not, kenapa juga orang lain harus berubah? So, if you are able to declare it, people can understand where you’re going. Dan percayalah kalo itu visi dari Tuhan, sepanjang perjalanan kita menuju visi itu, akan ada banyak divine meeting, divine appointment, divine encounters yang secara manusia ga mungkin terjadi, tapi buktinya terjadi. Itu emang sengaja Tuhan ijinkan dateng dalam hidup kita supaya skenarioNya Tuhan bisa terlaksana…

Trus gimana caranya declare our vision?
1. kita mesti bikin cap “non-negotiable” di vision statement kita itu. Tau kan maksudnya? Non-negotiable artinya harga mati, ga bisa ditawar-tawar lagi…
2. kita mesti pursue it
3. kita mesti bikin patokan yang akan menjadi code of conduct buat diri kita sendiri

Nah, kalo udah dicap “non-negotiable”, trus gimana caranya supaya kita ga akan pernah mundur lagi?
1. fervent spirit (artinya rohnya harus menyala-nyala terus)
2. passionate for Jesus
3. terus menerus dipenuhi Roh Kudus
4. terus menerus berjalan sesuai firman Allah (aktivitas kita diatur oleh undangan-undangan Tuhan)

Gimana friends? Berat yah topiknya? Emang sih, tapi ini penting sekali untuk dipahami tiap orang percaya. Tapi bukan ekedar dipahami aja, mesti dibikin trus dikerjain… Mungkin posting-an ini masih belum cukup jelas untuk dipahami in one digest. Don’t worry, I’ll be back with posting-an berikutnya !

June 9, 2008

kekelaman

Filed under: bagi bangsa ini

Friends, di Indonesia belakangan ini lagi gencar-gencarnya didengungkan kata-kata ”kebangkitan nasional”. Inggrisnya national awakening. Ga terasa udah 100 tahun sejak pertama kali kita mendengar istilah ini.

Dulu waktu gue masih sekolah, gue ga terlalu peduli ama hal ini. Mau bangkit kek, engga kek, emang gue pikirin. Yang penting nilai sejarah gue bagus di rapor and that’s all. Trus waktu jaman sekolah, gue tuh paling sebel sama acara2 peringatan hari2 bersejarah nasional. Secara saluran TV cuma satu, which is TVRI of course.

So, kalo ada siaran langsung TVRI memperingati hari apa gitu, gue jadi sebel banget karena pasti acaranya pangung-panggungan, trus ada tarian2 daerah, plus medley lagu-lagu daerah dari sabang sampai merauke, trus drama visualisasi perjalanan bangsa Indonesia, trus menteri ini naek panggung, sambutan, trus pak presiden beserta ibu naik panggung trus salam-salaman, ditutup dengan seluruh pengisi acara naik ke panggung, dan ending-nya mbak Ussy Karundeng dari TVRI whose voice is similarly alike or reminding me of upacara bendera akan tiba-tiba muncul di depan kamera, setengah screen tv kita, dengan latar belakang panggung yang dilimpahi potongan kertas warna-warni berguguran dari atas, plus background lagu kebangsaan, dengan salam ala TVRI yang begitu terkenal “Saudara-saudara sebangsa setanah air, demikian telah kita ikuti siaran langsung memperingati …..”

Tapi itu dulu. Tahun berganti tahun, saluran TV mulai bermunculan. Mulailah kita dibombardir sama film-film holywood yang penuh darah, sinetron kebengisan mertua vs mantu, infotainment yang isinya gosip mulu, berita kriminal orang dibunuh, dibakar, diperkosa, dan semua acara-acara yang ga mendidik. Terus terang sekarang gue kangen ama TV jaman dulu. Acaranya bener-bener santun, sopan, dan disensor. Bahkan belakangan ini kalo gue lagi iseng gue suka banget nonton kuis bahasa inggris di TVRI, watching those bright and smart high school students in english competition *walopun gambarnya burem karena TVRI ga jelas ditangkep di daerah rumah gue* Rasanya berharga banget acara edukatif begini ditengah semua acara ga bermutu di belasan stasiun tv sekarang ini. Gue juga kangen sama persatuan semua stasiun tv yang rela give up agenda acara mereka sendiri demi bela-belain ikut relay siaran langsung acara peringatan hari bersejarah Indonesia… Rasanya saat itu united we stand, semua bersatu, mengesampingkan kepentingan sendiri, demi mengenang bahwa negara kita ini (pernah) bersatu… dan mencoba mengangkat kembali kenangan indah persatuan masa lalu… supaya kita tersadar kembali siapa kita sebenarnya…

Dan begitu bangsa kita ditimpa masalah bertubi-tubi, krisis moneter, ekonomi collapsed, kerusuhan mei, demonstrasi di sana-sini, pembakaran rumah-rumah ibadah, gue sering merenung what has been going on with this country. Kemana bangsa yang “katanya” ramah-tamah ini? Apalagi setelah kenaikan BBM ini. Rasanya ada tekanan berat di bangsa ini yang membuat orang-orang jadi pada galak dan gahar. Dikit-dikit marah. Tersinggung dikit, langsung bakar, langsung jarah… Apalagi pas denger lagu-lagu perjuangan yang banyak dipasang di tv menjelang hari kebangkitan nasional lalu, entah kenapa gue jadi tersentuh banget dan mata gue langsung panas dan berair. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita… Tanah air pasti jaya… Indonesia tercinta… Kemana perginya satu nusa satu bangsa itu? Kenapa kita sekarang saling serang, saling bakar, saling bunuh, hanya karena kita berbeda? Kenapa? Kenapaaa???

Dan pertanyaan yang lebih penting lagi adalah: kemana orang-orang Kristen yang seharusnya berdiri atas bangsa ini? Apa yang kita lakukan bagi bangsa ini? Ngumpet di balik tembok gereja, yang penting adem, dingin, ada AC, praise worship nya bagus, dah bayar perpuluhan, dah bayar pajak, selesailah tugas kekristenan gue. Yang penting gue diberkatin, ada penghasilan, anak sehat, sekolah beres, selesai. At least ada bahan kesaksian: Tuhan Yesus kasih berkat berupa ini itu dll. Yang penting kita sekeluarga dah bantu pelayanan si hamba Tuhan ini itu, tiap hari Minggu setor muka untuk digembalakan, trus si gembala ”mengawetkan” kita alias preserve us di ”kulkas” adem gereja sampai Tuhan Yesus datang. Trus masuk sorga.

Is that all? Terus terang gue wondering apakah kekristenan cuma segitu doang. Bertobat, lahir baru, dibaptis selam, terima baptisan Roh Kudus, bisa bahasa roh, udah… mentok. That’s it and that’s all. Ambil pelayanan, trus sokong/support pelayanan hamba Tuhan tertentu, trus setia supaya bisa di”awet”kan sama gereja sampe Tuhan Yesus dateng. Kok rasanya kita ”cuma” dipake sama hamba Tuhan untuk bantu mereka? Aren’t we supposed to do something better than that???

That’s why gue ninggalin gereja lama gue karena itu. Kok rasanya kekristenan di sana jadi egois banget ya? Yang sering gue denger dulu adalah ”senang terus, menang terus, makan terus” dari balik mimbar. Why does it sound so selfish? Yang penting gue-senang-gue-kenyang trus peduli banget orang lain gimana? Aren’t we supposed to weep and cry for this country when our fellow Indonesians are suffering? Aren’t we supposed to do something about it?

Apakah ini bukannya ignorance? Ketidakpedulian? Kekelaman dahsyat? Bikin kita jadi kebal, mati rasa, tumpul nuraninya, dan akhirnya jadi bebal alias stupid ga mau diajar. Yang penting perusahaan gue maju, terus produksi, peduli amat perusahaan lain bangkrut. Kalo mereka bangkrut asik dong. Ga ada kompetitor. Gue tambah kaya. Order masuk ke gue semua. Dia Kristen apa bukan sih ga urusan.

Apakah ini namanya kekristenan? Just me and my money? Apakah ini yang namanya kesuksesan? Sukses di atas ketidaksuksesan orang lain? I don’t think so. Kesukesan sejati artinya kita bisa membuat orang lain sama suksesnya seperti kita. Jika semua orang Kristen bermental seperti ini, betapa majunya bangsa kita. Kita akan bahu membahu saling menolong, dengan satu tujuan: agar orang lain bisa sesukses kita dan orang itu bisa kembali mengajarkannya ke orang lain. Mengajar. Memuridkan. Satu sukses jadi dua. Dua multiply jadi empat. Empat jadi lapan. Lapan jadi enambelas. Dst dst. Akibatnya? Ekonomi satu daerah meningkat, meluas ke daerah sekitarnya, satu propinsi, satu pulau, satu bangsa.

That’s why lama-lama gue jadi mencari-cari sesuatu. Cari jawaban apakah cuma gue aja yang mikir gini. Cari gereja yang bisa jawab pertanyaan di kepala gue ini. Cari tau apa yang salah dengan mentalitas kita-kita orang Kristen ini yang cenderung merasa nyaman as long as I am blessed. Dan begitu gue nemuin satu gereja ini dua tahun lalu, gue belajar suatu pelajaran berharga.

Senior pastor-nya bilang bahwa tugasnya sebagai seorang gembala adalah memperlengkapi kita-kita ini, jemaatnya, untuk suatu pelayanan di marketplace. Artinya, bukannya jemaat “dipake” untuk bantuin pelayanan gembala, tapi justru sebaliknya. Gembala memperlengkapi, mengajar, menyiapkan jemaatnya untuk “pelayanan” yang sesungguhnya di dunia nyata, yaitu marketplace ministry. Di hari Minggu gembala mengajarkan kebenaran firman Tuhan bagaimana menegakkan kingdom principles dan kingdom values di dunia kerja kita masing-masing. Bagaimana piercing the darkness with kingdom values. Bagaimana stay strong dan make influence ke sekeliling kita dengan prinsip firman Tuhan. Bagaimana memenuhi amanat agung kita sebagai pengikut Kristus di bumi ini: yaitu menjadikan semua bangsa muridNya. Bagaimana mengadakan pelayanan pendamaian antara sesama yang terhilang dengan Tuhan. Dengan demikian, kerajaan Tuhan ditegakkan di muka bumi ini…

Kita adalah pelayan baris depanNya Tuhan. Kita-kita inilah yang harus bergerak di semua bidang. Dimanapun kita bekerja, itulah platform yang telah Tuhan sediakan bagi kita untuk menjangkau jiwa-jiwa, untuk take dominion, untuk occupy the land, untuk jadi agent of change, agar terjadi koalisi pengusaha bermental kerajaan sorga karena kita ditetapkan Tuhan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa…

Gue begitu seneng begitu tau hal ini. Inilah yang gue cari selama ini. Gue tau Christianity is much more exciting than “senang terus, menang terus, makan terus”. I know that I know that I know I must do something for this country. Gue tau Tuhan bikin gue jadi anakNya untuk suatu tujuan besar, suatu tugas besar, dan bukan sekedar maju altar call, bahasa roh, merinding-merinding, rebah glepak, trus pulang. Memang rebah dalam roh tidak bisa disangkal. I do agree with that. Tapi abis itu apa? Begitu terus tiap minggu? Ya engga lah. Mesti naek level dong. Abis terima Roh Kudus itu ya kita mesti do something.

I know He has a special calling for each of us untuk membawa perubahan bagi bangsa ini. Go ahead. Pergi ke marketplace ministry. Keluarga, hukum, kepemerintahan, media dan komunikasi, art-entertainment, pendidikan, ekonomi. Taklukkan seven mountains itu. Setiap orang pasti at least berada dalam one of those seven mountains. Occupy the land, take dominion. Ubah mountain itu menjadi kemuliaan Tuhan. Jangan sekedar dateng kerja sekedar kerja. Yang penting setia kerja, dapet gaji bulanan, cukup untuk makan minum transport bayar cicilan rumah/mobil, bayar uang sekolah, dan sedikit sisa untuk liburan or jalan-jalan. That’s it. How boring. Life’s much more than that. Masih banyak visi Tuhan yang belum tergenapi. Masih banyak jiwa-jiwa yang setiap detik terhilang ke neraka. Masih banyak mereka yang haus kasih Tuhan yang tanpa syarat. Masih banyak orang yang kelihatannya begitu sibuk tapi ga tau untuk apa sebenernya mereka hidup di dunia. Sayangnya masih banyak gereja yang belum menyadari ini…

Sejak gue tau kebenaran ini dua tahun lalu, gue jadi semangat banget ngejalanin hari-hari gue. Setiap minggu senior pastor selalu bukakan hal-hal baru tentang market place ministry yang bikin gue bergairah menjalani hari-hari kerja gue. Senior pastor selalu membakar semangat kita setiap minggu-nya untuk terus maju berperang di hari senin-sabtu dengan fresh strategies, new revelation, new creative ideas, yang semuanya berasal dari Biblical principles.

Rasanya seneng banget ada mentor yang terus mendorong kita menegakkan kerajaan Allah dalam pekerjaan kita sehari-hari, apapun pekerjaan itu. Rasanya seneng banget knowing that I can do something for the Lord. Rasanya seneng banget bisa jadi satu balok bagi pembangunan Indonesia, walopun gue cuma kerja kantoran biasa. Tapi Tuhan ga anggep itu biasa-biasa aja. Tuhan punya big assignment untuk gue. I’m in a special mission from the Lord. But He doesn’t leave me alone. He provides me with a community that can teach me and equip me. Rasanya seneng banget kita punya komunitas cell yang melatih kita how to win souls for Christ in our marketplace ministry.

Ga ada masalah apapun pekerjaan itu. Semuanya kita punya peran sebagai the missing piece in a puzzle yang membuat lengkap satu gambaran utuhnya Tuhan. Economy? Kerja dengan prinsip integritas, honesty, no double bookeeping. Legal? No bribery, no compromising, the whole truth nothing but the truth. Government? fight for the people rights. You’re the servant and milikilah mental seorang servant. Media? Conquer the media world with Biblical truths. Use your creative talent to glorify the Lord. No pornography, no violence as the minimum standard. Use the creativity in you because He is a creative God. He’s the Creator, anyway. Art-entertainment? Jangan serupa dengan dunia ini, tapi berubahlah oleh pembaharuan budimu. Ga perlu ngikutin gaya dunia, create your own style that can draw people to God. Pendidikan? Tanamkan nilai-nilai kebenaran sedari dasar. You have all the chance untuk menanamkan biblical truths dari hari ke hari and you’ll see that your students never forget it sampai dewasa nanti.

Tapi on top of that, jangan pernah lupa panggilanmu sebagai anak Allah. Great Commission: Pergilah dan jadikanlah semua bangsa muridKu… Jiwa-jiwa di sekelilingmu itu akan Tuhan tuntut di hari penghakiman nanti. “Berapa banyak yang terhilang yang telah kau bawa kepadaKu?”

So, orang-orang marketplace, ga usah sibuk pelayanan sana-sini. Sibuk pelayanan ga bikin kita benar di hadapan Allah. Fokusin aja satu pelayanan: pelayanan pendamaian. Damaikan manusia dengan Allah. Itulah pelayanan terbesar yang bisa kita bawa ke Tuhan. Kalo kita peluk peranan kita sebagai spiritual parent, maka kehidupan pekerjaan kita tidak akan pernah sama lagi. Jiwa-jiwa itu menanti kasihNya. Kita kerja di kantor bukan karena duit semata. Kita ada di sana karena Tuhan tetapkan kita disana. Menggarami. Menginjili. Memenangkan. Merawat. Memuridkan. That’s the big picture, the main idea. The work is only the platform for us to enter in.

Why?

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

Karena jiwa-jiwa berharga di mata Tuhan…

KARENA JIWA-JIWA BERHARGA DI MATA TUHAN…

April 3, 2006

bagi bangsa ini kami berdiri

Filed under: bagi bangsa ini

Don’t ask what your country can do for you but ask what you can do for your country. Jangan tanya apa yang negara bisa kasih buat kamu tapi tanya apa yang bisa kamu kasih buat negaramu. Begitu kira-kira artinya. So, apa sih yang bisa kita kasih buat bangsa ini?

Sebagai anak Tuhan yang lahir dan tinggal di bangsa ini, tentu aja ada yang bisa kita kasih. Kita bisa berdoa buat bangsa ini. Tapi gimana berdoanya?

1. dengan rendah hati (2 Taw 7:14)
Saat berdoa, kita harus mau merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kita akuin dosa-dosa bangsa ini di hadapan Tuhan dan mohon ampun atas dosa-dosa sodara sebangsa kita. Walopun mungkin kita ga ikut/terlibat/ga pernah sama sekali melakukannya, tapi kita akui bahwa kita tinggal di negara yang sama jadi kita adalah sodara sebangsa mereka. Kita ga boleh ngerasa eksklusif dengan berpikir bahwa karena kita orang Kristen maka kita bukan sodara mereka. Atau karena mereka yang bikin dosa jadi dosa mereka ga akan pernah pengaruhin kita. Kita pikir “Dosa ya dosa elo, elo dong yang nanggung!”

Eits, kalo mereka terus-terusan ngucapin kata-kata hujatan bagi pemimpin negaranya (tukang korupsi dll), ngeluarin kata-kata kutukan untuk bangsanya (negara miskin, negara terbelakang, negara penghutang dll), ngeluarin sumpah serapah bagi sesamanya (matiin aja, bunuh aja, bakar aja), maka kata-kata itu nanti bakalan naek ke langit, terkumpul dalam gulungan kitab, dan akhirnya berbalik tumpah membanjiri bangsa ini, tepat seperti yang mereka ucapkan (Zak 5:3) Hiii, serem ga sih ngebayanginnya?

Tapi kita kan anak terang yang harus mengusahakan kesejahteraan di tempat kita tinggal (Yer 29:7). Kalo kita cuek dan ga pedulian sama dosa-dosa sekeliling kita, gimana kita bisa mengusahakan kesejahteraan? Jadi kita harus berdiri atas dosa-dosa itu dan mohon pengampunan atasnya. Kenapa juga mesti kita yang berdoa, dan bukan mereka? Jawabannya sederhana: karena mereka ga tau apa yang mereka perbuat. So, kita yang udah tau apa yang mereka perbuat, harus menjadi perantara buat mereka. Kenapa juga mesti kita yang jadi perantara? Karena kita sudah mengenal Kristus, kita sudah diangkat jadi anakNya, jadi kita boleh meminta kepada Bapa di surga.

Sebagai anakNya, tentu kita dikasihi oleh Bapa. Anak tau Bapanya mengasihi dirinya. Anak tau Bapanya akan memenuhi permintaannya. Tapi anak itu juga tau bahwa permintaannya itu sesuatu yang besar karena besarnya sakit hati Bapanya atas perbuatan saudaranya itu. Jadi anak itu akan datang meminta dengan rendah hati karena dia tau dia butuh kasih karunia.

2. dengan berani (Kej 18:31)
Sebagai anakNya, kita juga berani meminta pada Bapa. Berani bukan sembarang berani, tapi berani karena apa yang kita minta itu sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kehendak Tuhan adalah agar jiwa-jiwa diselamatkan. Trus gimana dong caranya supaya mereka bisa diselamatkan? Kita kan ga bisa menjangkau mereka satu demi satu. Ada satu cara yang luar biasa jangkauannya. Yang bisa menembus laut, pulau, negara, benua dan semua batasan lainnya, baik batasan waktu, jarak, tempat, dll. Cara itu namanya doa. Doa itu ibarat sinyal yang kita tembakin ke satelit (surga), dan satelit (surga) itu akan menembak balik sinyal (doa) itu langsung tepat ke target yang kita doain.

So, doa itu adalah senjata kita yang powerful banget. Never underestimate the power of prayers. Apalagi doa puasa. Makanya ga heran kalo banyak hal telah terjadi di bangsa ini sejak anak-anak Tuhan mulai bersehati berdoa. Sejak para pendoa syafaat mulai bangkit di bangsa ini. Sejak mereka mulai berseru bagi bangsa ini. Sejak mereka merelakan dirinya menjadi perantara bagi bangsa ini. Mereka berani berdiri di atas bangsa ini. Berani karena mengetahui bahwa Allah mengasihi mereka dan Allah menjawab doa umatNya yang mengasihiNya.

3. dengan iman (Yoh 15:7)
Kadang-kadang nih, makin kita berdoa, makin buruk keliatannya. Makin kita berdoa, makin jauh hasilnya dari yang kita harapin. Inget kan kerusuhan, kekerasan, demonstrasi, gonjang-ganjing pemerintahan, naeknya harga-harga, bencana alam tsunami, gempa, banjir, ledakan bom sana-sini, bahaya teroris, aniaya umat Kristen, sulitnya ijin ibadah, dst dst dst.

Kadang-kadang keadaan buruk itu justru merupakan babak awal dari jawaban doa kita. Kadang-kadang Tuhan perlu “menggoncangkan” sesuatu dulu sebelum sesuatu yang luar biasa terjadi. Kadang-kadang kita ga bisa lihat hutan kalo kita berdiri terlalu deket sama pohon tinggi. Artinya kita ga bisa lihat rencana Tuhan yang jauh lebih besar karena kita hanya bisa lihat sebagian kecil dari tindakan Tuhan. Tetaplah percaya Tuhan udah denger doa kita dan saat ini Dia sedang ngejawab doa itu. Dia sedang bekerja, bahkan pada saat kita ngerasa Dia diem aja. Tetaplah percaya bahwa pada akhirnya, Allah yang berkuasa. Dan akhirnya: tetaplah berdoa, tetaplah berdoa, dan tetaplah berdoa…

Bagi bangsa ini kami berdiri
Dan membawa doa kami kepadaMu
Sesuatu yang besar pasti terjadi
Dan mengubahkan neg’ri kami
Hanya namaMu Tuhan ditinggikan
Atas seluruh bumi…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham