childhood homes: which one is yours?
Beberapa minggu lalu gue denger khotbah tentang tipe-tipe childhood homes dan bagaimana the past itu menentukan bagaimana kita memilih jenis pekerjaan dan juga bagaimana cara kita respon waktu Tuhan berikan berkatnya bagi kita. It’s very interesting karena bisa bikin gue belajar banyak . So, I write them down here with the hope that it can be a blessing for you as it has been a blessing for me. Be blessed!
Attitude is developed in the days of your childhood. It has been planted in all your life. It’s your past, it’s your family, yang membuat how you are now. How you act today is the result of your past. The past (pengalaman/kejadian yang pernah dialami di rumah, keluarga, lingkungan where we grew up) punya andil yang sangat besar membentuk karakter/watak kita saat ini.
Semuanya ini menentukan kondisi hati kita: pahit, marah, balas dendam, kecewa, frustasi, minder, ketakutan, tertekan, dsb. Latar belakang keluarga ini akan membentuk pola pikir seseorang, even his/her choice of work in the future.
Berbagai types of childhood homes yang disfungsional:
1. controlling home
Ciri-cirinya adalah anak ini won’t be allowed by the parents to do much. Akibatnya, ga bisa ambil keputusan sendiri, karena apa-apa dipilihin. Controlling parents won’t let their children dress themselves. Anak ga mandiri, ga bisa buat keputusan sendiri, krn tergantung sama ortu atau org lain (baby sitter, nanny, etc) untuk ambil keputusan baginya. Ini namanya over protection. Dan jenis over-protection ini bikin anak tertolak. Akibatnya: di masa depan si anak ini akan ga berani ambil resiko, selalu ambil pekerjaan yang tidak banyak tanggung jawabnya. Cendurung pilih pekerjaan yg gampang dan ga butuh tanggung jawab besar. Tapi orangtua justru ngerasa mereka udah berjasa pada anaknya by doing everything for the children.
2. full of fear home
Ortu terlalu melindungi dan ga mendorong anak untuk ambil risiko. The child will grow up in fear, no motivation in life. Punya banyak ketakutan, takut coba hal-hal baru, takut gagal, takut bikin keputusan, ga belajar utk bertanggung jawab bagi dirinya sendiri. Afraid of anything that will lead in failure.
3. insecure home
Umumnya berasal dari divorced, separate family. Uang jadi issue, dan masalahnya adalah kekuatiran. Berjuang untuk mendapat sedikit aja asal aman. Life is always in worry, anxiety, because money is never enough. Constantly striving to get extra money (asal cukup, ada pensiun, aman). Misalnya nih, anak yang lahir dari orangtua yang selalu worry about money, anaknya akan inherit the sama. Mentalnya sama: striving for the same. Selalu worried about money. Karena itu, sebagai parents, jangan kuatir mengenai uang di hadapan anak. Why? Because children can’t be upright in their faith. Apakah anak jadi berani atau ga berani tergantung pada latar belakang keluarga. Contohnya, anak yang status quo begini umumnya not a high risk taker, bukan tipe CEO. Berjuang sih berjuang untuk uang, tapi berjuang untuk mendapat sedikit lebih asal cukup aja. Lebih memilih hidup pas-pasan, dan lebih suka tinggal dalam zona nyaman daripada ambil risiko. Ga berani invest dalam obligasi, reksadana, saham atau komoditas lainnya.
4. abusive home
Orangg tua melecehkan/menganiaya anak, secara verbal/fisik, atau emosional, contoh: kata-kata kasar, menghina, memaki, hukuman fisik melampaui yang layak, disiplin yg berlebihan, pelecehan. Anak tumbuh dengan kepercayaan diri rendah. Merasa tidak berharga dan tidak layak. Anak selalu berpikir “I’m of no value”. That’s why mereka lari ke drugs, gambling, alcohol, anything yang akan menyakiti dirinya sendiri. Cenderung rebellious, anti sama social values, ga cocok dimanapun juga karena mereka berpikir “kalo aku ga cocok di keluargaku sendiri kenapa juga aku bisa cocok di tempat lain?” Mereka percaya tidak punya tempat di masyarakat. Tipe anak ini tidak akan bisa kerja keras, tidak bisa nabung, tidak bisa kaya, karena uangnya dipake untuk nyakitin diri sendiri.
5. performance-based home
Merasa bahwa dia harus buktikan diri untuk bisa diterima, dihormati dan dicintai. Orang tua cenderung membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain yang lebih baik, atau cuma muji dan nunjukin kasih sayang waktu si anak lakuin sesuatu yang bikin bangga orangtua. Akibatnya anak harus “beli” kasih sayang dari orang tua dengan cara doing something great. Anak ini akan takut gagal karena takut kehilangan kasih sayang. Ga pernah berlajar untuk membangun diri. Takut gagal, takut ga dicintai.
Baru merasa berhasil kalo sukses (sekolah bagus, gaji tinggi, etc). Berusaha nyenengin orang yang dicintai untuk mendapat pengakuan, untuk diterima, untuk dihargai. Orang-orang seperti ini umumnya disukai atasan karena mereka pekerja keras, struggle to perform.
6. hyper-responsible home
Dari orang tua cerai atau single parent. Atau ortu sibuk kerja so anak grew up sendiri or mesti jaga adik-adiknya. Anak super tanggung jawab ga sesuai umurnya. Dewasa sebelum waktunya. Take so much responsibility at an early age. Bertumbuh dewasa tanpa masa kecil yang bahagia. Waktu tumbuh dewasa jadi terlalu bertanggung jawab, pencemas, pengkhawatir sampai tidak berani ambil resiko. Nantinya pas dewasa bisa punya 2 completely different reactions: 1. sikapnya kekanak-kanakan, 2. melakukan tugas apapun dengan penuh tanggung jawab (ga sembarangan investasi, responsible-minded type). Dalam mencari pasangan ia cenderung mencari figure yang dapat menjadi orang tua baginya.
Dampak dari semuanya ini:
1. Menentukan karakter kita
2. Menentukan bagaimana kita meresponsi ketika Tuhan memberikan berkatNya ke kamu
Contoh di Alkitab:
Om Yakub.
Yakub bekerja keras bertaon-taon tapi tetap melarat, tertekan. Yakub kan nyuri hak sulung Esau. Trus kabur dan kerja sama Laban bertaon-taon tanpa bayaran, upahnya ”cuma” isteri. Yakub itu hardworker, bahkan Laban ngakuin Tuhan memberkatinya karena Yakub karena sejak Yakub kerja sama dia hartanya dia jadi berlimpah. Kalo Yakub mau dia bisa tuntut gajinya atau upahnya. Tapi Yakub sungkan-an. Orang insecure itu ga enak hati, sungkan-an. ”Ga enak ah sama orang” begitu prinsipnya. Orang insecure itu pengen aman-aman aja. Tapi Yakub akhirnya sadar kalo kerja kerasnya bikin pamannya tambah kaya tapi ga ada apa-apa untuk istrinya dan anaknya.
So bisa dilihat kalo latar belakang keluarga Yakub ngebentuk karakternya dia. Begitu juga kita. Bisa aja kamu kelihatan loyal sama satu pekerjaan tapi sebenernya kamu tertekan (insecure). Kamu punya uang sih, tapi pas-pasan. Cuma cukup untuk survive till the next paycheck. Ga bisa ambil bagian untuk bangun rumah Tuhan atau visi-nya Tuhan yang skalanya miliaran. Kamu harus sadar bahwa just barely enough itu ga cukup. Tapi kamu ga berani bergerak, move out, karena kamu takut, sungkan. Semuanya karena latar belakang kita itulah yang nentuin hati kita (penakut, sungkanan, minder, etc). Tapi firman Tuhan bilang “lupakan jaman purbakala”. Remember your past is like invisibile inventory bag. Bisa dilihat from the expression of your face. Yang jadi sakit itu pikiran, karena hati kamu masih luka. Yes 43: jangan maklumi kondisi masa lampau. Your past doesn’t determine your future. Tidak menentukan kemana kamu bergerak.
So, after ngebaca enam tipe childhood homes ini, sadari kamu masuk mana, diberesin, jangan diomongin terus. Do something, change! Kalo keluarga kamu dulu susah, jangan dibawa-bawa sampe sekarang. Jangan terlalu irit (mis: baju tahun 70an ga mau dibuang, karena sayang, ntar juga fashion balik lagi, begitu pikiran orang pelit). Itu namanya insecurity.
Inget bahwa semua orang tua punya peran bikin kerusakan di anak. Tapi harus tetap hormati mereka sebagai ortu, bukan perbuatan mereka. Efe 6: hormati dan kasihi ortu.
Biar semua sulit, harus bertekad “I’m reaching my goals”. Semua kesulitan boleh dateng tapi harus tetap maju. Semua masa lalu (insecure, ketidakadilan), beresin, lupain, terus melangkah. Iman ga bisa bekerja di masa lalu. Penghalang besar kenapa ga bisa kaya adalah your past. You’ve got to get God’s vision for your life. Pake talenta, hobi kamu, pake itu untuk visi Tuhan. Bikin personal vision: use your talent and hobby. Patahkan roh pesimis, ketakutan
Lupain apa yang di belakang, maju dengan fokus pada destinasi Tuhan bagi hidup kamu. Terima yang baru yang Tuhan janjikan buat kamu. Inget satu hal: kamu ga bisa ubah masa lalumu, tapi kamu bisa ubah masa depanmu. Jangan izinkan masa lampaumu menentukan masa depanmu.
Yes 43:18-19a
firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!
Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?
“Thank you Lord for showing me who I am. Thank you for showing the rooted fear of failure because of living a whole life trying to win the approval of my parents. Thank you for showing me that I am totally loved and accepted by my Heavenly Father. And I can stop trying to win my parents’ favor. Please bring this Scripture to my mind whenever I am feeling down due to whatever that has come… or may come… I am so thankful that my future is brighter than my past. Thank you that I can keep moving forward. You are my greatest encouragement, and I love You… In Jesus’ name, amen. ”
-fenty-
“God’s precious daughter”
… who is loved by the King…
