trust in Youuuuu……
Brapa hari lalu gue dapet kerjaan bikin presentasi tentang dampak global crisis. Intinya sih bos gue, sebagai auditor, pengen bikin analisis tentang hubungan antara global crisis dengan penerbitan obligasi. Global crisis –> volatile rates –> increasing prices –> weakening purchasing price –> lower sales volume –> tight liquidity –> companies di Indonesia susah dapet foreign borrowing –> rame-ramelah Indonesia companies nerbitin bonds (obligasi).
Sebagai auditor, of course bahannya dia penuh angka dan statistik. Emang sih orang akuntansi itu communicate by numbers. For some strange reasons media komunikasi mereka itu numbers
*no offense ya frenz* Give them a string of numbers and they can talk a lot about the prediction, trend, analysis, assumption, dll dsb. Entah gimana caranya mereka bisa ngeliat angka-angka itu bicara sendiri ke mereka dan mereka bisa ngerti bahasa angka-angka itu wekekekek
Tapi cara berpikir orang hukum beda. Mereka lebih ke why-nya. Cara berpikir mereka adalah WHY instead of WHAT. Apalagi dosen S2 lebih nekenin kita mikir MENGAPA-nya dan bukan APA-nya. Jadi misalnya ada satu UU baru keluar. Kita dituntut untuk berpikir why UU itu dibuat, why pemerintah bikinnya seperti itu, why peraturan bagus tapi legal enforcement-nya susah jalannya, why ada banyak celah, why dibikin seperti ini dan bukan seperti itu, dan why-why lainnya.
So, waktu bikin presentasi, gue kebawa cara berpikirnya orang hukum instead of orang akuntansi. Walhasil, salah sasaran. Bos gue pengen fokus ke analysis WHAT-nya (what are the impact of the crisis, what is the trend, what is our analysis, what direction companies should take during the crisis, etc). Sementara presentasi bikinan gue itu fokusnya lebih ke WHY-nya (why bonds are issued, why they prefer bonds and not foreign borrowing misalnya, dan why-why lainnya). Terpaksalah gue bikin ulang. Untung bos gue baek mau kasih waktu lagi:)
Dari sini gue belajar satu hal. Terutama hal tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Gue, sebagai manusia, cenderung lebih berpikir ke WHY-nya. Kenapa sih Tuhan keadaan gue gini? Kenapa sih Mamaku harus meninggal? Kenapa sih Papaku harus sakit jantung? Kenapa Papa mesti operasi jantung justru ketika gue sekarang ini butuh banyak biaya buat nyelesaiin kuliah? Kenapa sih wujudin mimpiku sendiri banyak banget halangannya? Kenapa Tuhan ga kasih yang aku minta? Kenapa mimpi-mimpiku belom jadi kenyataan? Kenapa kok malah semuanya tertunda? Kenapa sih gini, kenapa sih gitu? Dan sejuta why laennya. Padahal kalo dipikir-pikir, kenapa juga mesti mikir kenapa-kenapa-kenapa? Wong otak gue yang segini-gininya ini mana bisa nampung rencana Tuhan yang overwhelming itu? Boro-boro ngerti rencana Tuhan. Ngertiin global crisis aja takes time buat gue. Secara Tuhan itu the General Manager of the Universe. Otak gue mana bisa compete dalam hal processing? Apalagi understanding…
Dan Tuhan, dengan segala kemahakuasaanNya, malah ga mengijinkan gue mengerti tentang semua rencanaNya. Mungkin Dia pengen bilang “Ngapainlah Fen mikirin kenapa-kenapa… Terima aja rencanaKu buat kamu. Yang pasti bagus punya…” Jujurnya sih gue sering kesel kalo gue ga bisa ngerti tentang satu hal. Otak gue suka cape mikir kenapa-gimana dll. Buat gue, bisa terima suatu hal tanpa tau “why”nya itu susah banget. Tapi gue tau it’s a part of the process untuk gue bisa bergantung sama Tuhan. Untuk bisa switch dari WHY ke WHAT itu sama sekali ga gampang.
Sekarang ini sih masih belajar. Masih belom lulus. Instead of nanya Tuhan “Why is this happening?” gue mesti nanya “What do You want me to do with this happening?” Instead of “Why me?” mestinya “What is Your plan for me?” Alih-alih “Why do I have go through these things?” harusnya “What lessons You want me to learn from these things?” Bukannya “Why can’t I get what I want?” tapinya “What better things You have for me?”
Dari sini gue belajar lagi satu hal. Ternyata masih banyak issues yang masih harus diselesaiin dalam hal attitude gue towards God. Untungnya Tuhan baek. Tuhan sabar banget ngajarinnya. Kalo gue ga ngerti-ngerti, masih ngebandel juga, masih coba reasoning mulu sama Tuhan, Tuhan bisa pake hal-hal kecil dalam keseharian gue untuk negor gue di mana salahnya.
Contohnya kasus presentasi global crisis tadi. Bos mikir apa gue mikir apa. Bos pengen “what”-nya gue malah bikin “why”-nya. Akibatnya salah total. And mesti ulang. Ngabisin waktu sia-sia. Siapa yang rugi? Ya jelas gue yang rugi. Mesti ngulang dari nol lagi.
Dan Tuhan pake kejadian ini untuk nunjukin gimana ruginya gue. Kalo gue nanya why mulu sama Tuhan, gue bakalan keilangan waktu banyak dalam perjalanan hidup gue sama Tuhan. Kalo gue kebanyakan protes ngambek kaya anak kecil lagi nangis tereak-tereak di supermarket, perjalanan shopping keluarga itu mana bisa cepet selesai? Yang ada waktu kebuang percuma nungguin si anak ampe selesai rewelnya. Mungkin si anak nanya KENAPA sih Papa jahat ga beliin aku sepeda itu? Tapi si Papa tau anak ini belom bisa naek sepeda roda dua, tapi si Papa udah rencana beli sepeda roda tiga di toko sebrang.
Jadi buat apa nanya why mulu kalo Tuhan tau persis yang terbaik? Percumalah. Mendingan terima aja what He has given, what He has chosen for me. Mo protes juga ga ngaruh. Kalo Tuhan udah berkehendak siapa bisa lawan? Ya kan? Percaya aja a dream delayed itu bukan berarti a dream denied. Waktunya akan tiba when our desires will come to pass. Jadi, through the seasons, don’t fret, don’t fear. Kebanyakan fret malah ga bakalan nyampe-nyampe… hehehe…
I have a promise
You said if I delight in You
All my desires will come to pass
So through the seasons
I will not fret I will not fear
I know my time is in Your hands
A dream delayed is not a dream denied
When You live by faith and not by sight
I trust in You
I put my hands in the hands of the One
Who placed the moon
Even the stars will sing for You
So I could sing and I could dance
And give thanks in every circumstance
Because of You
Because of You
I trust in You
(”Trust in You” - Abundant Life Ministry)
