letsing4joy

January 6, 2009

this is where you went wrong…

Filed under: mengasihiMu

Happy new year, friends!

How was your 2008? Amazing lah pastinya… Buat gue, tahun 2008 lalu itu beneeeeer2 berkesan. Ga bisa diceritain disini semuanya, later lah diceritain. Tapi yang pastinya di awal tahun ini Tuhan banyak bukain hal-hal baru yang ga pernah gue sangka sebelumnya…

Dan di awal tahun ini, pas WPDA, Tuhan cerita panjang lebar apa yang salah dengan kekristenan gue selama 8 tahun ini sejak gue lahir baru tahun 2000. Pas lahir baru, ada banyak kesalahan mendasar yang terjadi sampai akhirnya gue end up leaving the old church. And moved to a new church. Dan di gereja baru ini, gue baru tau kalo gue tuh ga tau apa-apa. Nothing. At all. So, gue pelan-pelan mulai dituntun/di-nurture sama para cell leaders, dan akhirnya ngalamin kasih mula-mula lagi *boleh baca lagi di postingan “This is how much I love you and I don’t want anything in return…” Dan sejak itu, kekristenan jadi a brand new world to me… kekristenan jadi begitu exciting…and I begin to enjoy being a Christian… sesuatu hal yang ga pernah gue rasain di gereja lama…

So this is the story…

2 Jan 2009

Tuhan kasih ayat ini sebagai kado tahun baru…

Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. (Gal 3:6)
Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. (Gal 3:9)
Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. (Gal 3:7)
Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham, dan berhak menerima janji Allah. (Gal 3:29)
… supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. (Gal 3:22b)

Otomatis gue tanya, maksudnya apa yah Tuhan?
Abraham percaya (beriman) –> anak-anak Abraham = hidup dari iman –> iman dalam siapa? iman dalam Yesus Kristus –> diberkati bersama-sama –> berhak menerima janji Allah

Oke Lord, You want to say kalo saya percaya, saya punya iman, then tahun ini saya berhak menerima janji Allah, begitu kan? That sounds really wonderful, Lord, tapi boleh tanya dikit? Jelasin dong apa sih iman itu. Honestly nih, jujurnya sejak dulu kala ‘iman’ tuh suatu konsep di awang-awang buat saya… Heran ga tau kenapa ga ngerti-ngerti juga bertaon-taon, padahal sering banget denger khotbah tentang iman….

Dan malam itu juga dimulailah long journey, suatu pelajaran yang panjang sampai akhirnya Tuhan bukain pikiran gue tentang what is iman. Here it comes… Be blessed!

What is iman? “Pengakuan kekosongan dan ketakberdayaan, penyerahan dan penantian untuk mengijinkan Tuhan bekerja. Ini merupakan perkara yang paling merendahkan diri — menerima tempat kita sebagai pihak yang bergantung, yang tidak dapat mengklaim/memperoleh/melakukan apapun selain apa yang dianugerahkan oleh kasih karunia” (disalin dari tulisannya Andrew Murray dalam buku “Rendah Hati” karangan Peter Wagner - buku yang Tuhan tuntun untuk baca malem itu juga)

Huaaaa…. ini lah satu-satunya definisi manusia yang bisa gue ngertiin. Ga ada orang yang pernah bisa ngejelasin ke gua sejelas dan segamblang ini.

Ini versi bahasa gue:
–> mengaku tak berdaya –> sebegitu tak berdayanya sampai-sampai harus bergantung –> sebegitu bergantungnya sampai-sampai kita tak dapat memperoleh/melakukan apapun selain apa yang dikasih oleh kasih karunia/grace…

Dengan kata lain, ga bisa melakukan/memperoleh apa-apa tanpa iman. In short, ga bisa hidup tanpa adanya iman. Oh gitu ya, Tuhan. Ayatnya mana Tuhan? Gue tanya lagi.

Tuhan tuntun ke Gal 3:11b “Orang yang benar akan hidup oleh iman.”

Artinya apa Tuhan? Artinya: percuma susah payah berusaha lakukan ini itu tanpa adanya iman. Percuma, ga bakalan “hidup” (hidup dalam arti sesungguhnya –> hidup yang ‘hidup’, full of joy, peace, enjoying being a living person, enjoying being me, ga pengen cepet mati hehehe…)

O gitu… Dengan kapasitas otak gue, gue berusaha mencerna. Berarti, dengan kata lain, ga perlu susah payah make myself right before God. Ga perlu susah payah bikin ini itu supaya ‘benar’ atau ‘dibenarkan’ di hadapan Allah. Meaning: ga perlu bikin pelayanan hebat supaya dikenal Tuhan (remember di gereja lama –> gembala baru tertarik kalo kita bikin pelayanan hebat, kalo biasa-biasa aja ga bakalan pernah dikenal, apalagi jemaatnya ribuan).

Bukan usaha sendiri. Bukan trying to impress God with betapa banyaknya pelayanan yang telah saya lakukan (buletin, multimedia, penerjemah khotbah, seksi acara, pengurus pemuda, sekretaris panita, bendahara, seksi konsumsi, cari dana, penulis naskah drama, etc). Semua pelayanan itu ga membuat saya ‘benar’ di hadapan Allah. Saya tidak dibenarkan oleh karena pelayanan. Semuanya itu legalistik!

Apa sih legalistik itu? “Mengukur tingkah laku berdasarkan kepatuhan yang ketat atas seperangkat aturan, dengan penekanan pada apa yang tersurat ketimbang pada semangat dari aturan tersebut, disertai dengan penghukuman moral pada orang yang memilih untuk tidak mematuhinya.” (balik ke buku Peter Wagner lagi)

Hiii… gue langsung serem. Sekaligus shock. Ini kan gue…

I know that I know that God is dealing with my past… Kesalahan masa lalu yang ga pernah gue sadar.

I just realized this. Buat orang legalistik, tongkat pengukur yang dipakai adalah seberapa jauh kita bisa taat pada peraturan. Semakin taat, semakin tinggi nilainya. Semakin hebat rohaninya. Lebih fokus pada peraturan tertulis dibanding alasan yang mendasari adanya peraturan tersebut. Dan biasanya semakin besar persentase kepatuhan seseorang terhadap peraturan-peraturan tersebut, semakin besar rasa sombong rohaninya dan semakin besar pula celaannya/hukumannya terhadap orang yang tidak mematuhi peraturan tersebut.

Bener banget! Why I could say so? Because I was one of them. I was also surrounded by legalistic people di gereja lama. Bertaun-taun gue di-condemn sama temen sepelayanan sendiri. They are making me feel that I was not as good as them kalo gue ga bisa memenuhi ’standar’ mereka. Tanpa sadar gue dibentuk oleh pemikiran bahwa patuh pada AD/ART kepengurusan itu mutlak *imagine how weird! ibadah pemuda aja bikin AD/ART! how legalistic…* Yang lebih weird lagi, semua mahluk berjudul pengurus harus ambil kelas hermeneutika homilitika apaan gitu di STT ini, alamat ini ini ini. Harus ini harus itu. Ga boleh ini ga boleh itu. Kalo mereka puasa penuh 3 hari lebih ’suci’ dibanding orang yang puasa makan tapi tetep minum air putih. Kalo mereka ambil 5 pelayanan, maka mereka lebih baik daripada gue yang cuma 3 pelayanan. Kalo mereka lebih sering ikut rapat misalnya 5x sebulan, berarti mereka lebih rohani dari gue yang cuma dateng rapat 3x. Kalo mereka ikut terus doa pengurus tiap minggu, mereka lebih baik dari gue yang cuma sebulan sekali. Kalo 5 malem dalem seminggu mereka harus ke gereja after work karena urusan ini itu, mereka lebih ’setia’ daripada gue yang cuma nongol hari Sabtu Minggu doang.

Semuanya legalistik! Berusaha setengah mati patuh pada peraturan tanpa menyadari untuk apa. Tanpa menyadari untuk siapa sebenarnya semua itu dilakukan. Untuk siapa? Untuk dilihat Tuhan? Percuma kalo hatinya kering. Percuma kalo ga ada kasih buat sesama. Semuanya cuma jadi rutinitas, kering dan membosankan. Akibatnya? Fed up. Muak. Lelah.

Siapa yang salah? Bukan salah siapa-siapa. Yang salah adalah pola pikir yang mengidentifikasikan kekristenan sebagai pelayanan. Totally wrong. Wrong thinking. Kekristenan itu adalah hubungan. Bangun hubungan. Hubungan dengan siapa? Pertama, hubungan dengan Tuhan. Kedua, hubungan dengan sesama. Percuma pelayanan sana sini kalo ga ada hubungan pribadi sama Tuhan. Pelayanan jadi kering dan dangkal. Cuma cape mondar-mandir sana sini tanpa tau persis untuk apa semuanya itu.

Orang yang lahir baru jangan buru-buru disuruh pelayanan. Orang yang baru bertobat itu harus kenal dulu siapa Tuhannya. Bangun hubungan dulu sama Tuhan. Kenali siapa Dia. Apa yang telah Dia lakukan buat dirinya sebagai manusia berdosa. Kenapa Tuhan lakukan apa yang Dia lakukan (mati disalib dan tebus dosa kita). Kenali hatiNya. Alami kasihNya. Rasakan pengorbananNya. Sampai kita hancur hati dan remuk di hadapan salibNya, menyadari kita ga bisa apa-apa tanpa kasih karunia, kita akan cenderung jadi legalistik dan berusaha jadi Kristen menurut apa kata orang. Kalo jadi Kristen harus begini, begini, begini, bla bla bla.

Akibatnya? Baru pelayanan dikit aja langsung nuntut banyak dari Tuhan. Banyak orang Kristen yang kerjanya menuntut Tuhan terus: minta ini, minta itu, harus ini, harus itu, harus dapet apa yang aku mau. Karena merasa berhak nuntut. Mentalnya berkati-berkati-berkati. Kalo kena problem, yang dicari mujizat. Hamba Tuhan yang bisa bikin mujizat dikejar ke mana-mana. Yang dicari mujizatnya, pendetanya, bukan Yesusnya. How sad, really sad…

Yang Tuhan mau kita bangun hubungan dulu dengan Dia. Personally. Intimately. Dan begitu hubungan itu dibangun, kita ga akan pernah sama lagi. Kita ga akan jadi anak yang super penuntut. Kita ga akan trying to impress God with what we have/we do. Justru sebaliknya. Kita akan jadi semakin sadar we are nothing without God. Sulit untuk jadi sombong di hadapan His grace. Semua kebanggaan lenyap. Udah bisa hidup aja udah bagus. Apalagi ditebus dosanya. Bisa diangkat masuk ke dalam keluarga Allah. Bisa jadi ahli warisNya. What an honor. Semuanya only by grace…

Tanpa mengenal grace ini, kita akan terus bermental penuntut. Atau sebaliknya. Kita akan terus bertanya-tanya apakah kita sudah cukup layak di hadapanNya. Boast about many works yang sebenernya lahir out of insecurities. Condemn other people padahal sebenernya kitalah yang worthy of convictions. We measured virtues only based on religion. Mengira bahwa theology is the thing that’s saving us, while it is not. The thing that’s saving us is the very fact that we are redeemed by His blood…

Begitu kita bisa memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan dalamnya dan tingginya kasih Kristus itu — sekalipun ia melampaui segala pengetahuan — maka kita akan merasa aman seaman-amannya. Why? Karena grace (kasih karunia) itulah jaminan keselamatan kekal kita. Dan jaminan kekal ini ga bisa dibeli dengan dengan perbuatan baik. Ga bisa dibeli dengan apapun.

So, tanpa adanya grace (kasih karunia), kita adalah orang paling malang di dunia. Why? Karena tanpa kasih karunia, kita akan terus wondering whether we’re good enough to go to heaven… But because of grace, only by His blood, and only through His mercy… We are accepted… And we are forgiven…

Because His grace is enough…
More than enough…

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://letsing4joy.blogsome.com/2009/01/06/grace-is-enough-2/trackback/

  1. thanks sist…..

    apa yang kamu jabarkan bwat aku sedikit ngerti.

    emang kadang kita nggak sadar membeli Yesus yang udah kita dapetin cuma2 dengan ini dan itu yang sebenarnya bukan begitu.

    GBU

    Comment by ika — May 24, 2009 @ 11:34 am

  2. hai juga sis ika!
    thanks for dropping by!
    i’m glad if this posting means something 4 u
    silakan mampir-mampir anytime :)

    Comment by Administrator — May 25, 2009 @ 2:48 am

  3. sist… ( ‘cos aku ga begitu tahu namamu .. sorry )

    kalau boleh tahu aku bisa beli buku Peter Wagner ” rendah hati” itu dimana ya… aku ingin baca. Tolong tulis saja di emailku, untuk kesedian mu aku benar2 berterimakasih.

    GBU

    Comment by ika — August 3, 2009 @ 5:54 am

  4. hai ika! bukunya peter wagner itu aku beli di gereja, tapi di gereja kayanya udah abis deh:) Tapi karena penerbitnya itu Immanuel Publishing House, so buku itu seharusnya sih ada juga dijual di toko2 buku immanuel. Harganya 33rb kalo ga salah. Ok happy hunting ya!

    link –> http://www.immanuelbookstore.com/store/product.php?id_product=3070143

    rendah hati - peter wagner

    Comment by Administrator — August 4, 2009 @ 5:21 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham