Friends, ini lanjutan posting sebelumnya (“bergembira dalam pekerjaannya”).
Gini nih, waktu itu kan gue dengan “sukarela” ngebantu kerjaan si bos itu (gue bilang sukarela karena itu truly kerja bakti, meaning gue ga nge-charge overtime, gue ga nge-charge di job code, gue ga nge-charge meals and other expenses, bahkan gue ga nge-charge ongkos taxi sama sekali, which is ratusan ribu from sudirman to semper). Emang sih lembur itu mahal sekali (habis waktu, habis tenaga, habis duit bayar taksi) *hiks*
Tapi gue bilang ama Tuhan, inget loh Tuhan apa yang saya lakukan ini. I did it just because I want to help them. Aku mau praktek mengasihi orang lain tanpa pamrih. Aku mau belajar mengasihi orang dengan tulus, tanpa embel-embel ini itu. FirmanMu bilang aku harus mengasihi sesama. Karena duniaku dan jam-jam hidupku habis di kantor, maka aku pilih mulai mengasihi orang-orang di kantor. Aku ga mau mulai jauh-jauh pilih anak kelaparan di Uganda atau Ethiopia. Too far. Aku mau mulai praktek mengasihi mulai dari lingkungan terdekat. Dan bentuk kasih yang ku pilih adalah dengan membantu pekerjaan dengan tulus… dengan apa yang kupunya…with the little I have…
Tapi Tuhan emang luar biasa. Apa yang gue tabur itu Tuhan lipat gandakan. Emang sih yang gue tabur itu “cuma” berupa kehilangan ratusan ribu rupiah untuk jam lembur, ongkos taksi dan meals, tapi tuaiannya berlipat ganda.
Cuma dalam sebulan setelah itu, favor of God mulai berdatangan. Tiga hari sesudah itu tiba-tiba gue terima order terjemahan 300an halaman dari satu majalah anak-anak. Ordernya cukup lumayan jumlahnya, dengan pekerjaan yang tidak terlalu sulit, deadline ga terlalu mepet, dan bisa dikerjain pas libur Lebaran. Lumayan menghasilkan lah. Trus bulan itu juga gue naek gaji, plus THR, plus bonus sebulan gaji! Intinya selama bulan September itu gue terima gaji 3x, plus extra “gajian” dari honor sebagai freelance translator. Bener-bener luar biasa…
Rasanya seneee…ng banget bisa dapet favor kaya’ gini. Firman Tuhan itu bener-bener nyata bekerja kalo kita berusaha mentaatinya. Emang sih waktu ngejalanin-nya tuh susah banget. Harus kasih buah sulung, perpuluhan, persembahan khusus, pembangunan rumah Tuhan, nabur ini, nabur itu, uahhh! Kadang-kadang gue suka nanya “Duh Tuhan, kapan sih bisa berhenti nabur terus?” Tapi dengan telak Tuhan jawab…
“Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kej 8:22)
Walah… artinya seumur hidup dong Tuhan?
“Iya, karena hukum tabur-tuai itu akan terus ada selama bumi masih ada. Dan hukum itu takkan gagal. Apa yang kau tabur, itu yang kau tuai. Jika kau menabur kebaikan, kau akan menerima kebaikan. Kau menabur benih, kau menuai buah. Tapi selama menanti tuaian, jaga selalu sikap hatimu. Jangan merengut, menggerutu, mengeluh, merengek kapan dapat hasilnya. Berilah waktu untuk benih untuk tertanam, merambatkan akarnya sampai ke bawah, menguatkan dirinya. Memang proses ini perlu waktu, dan kau takkan lihat apa-apa di permukaan tanah. Tapi begitu proses pertumbuhan akar telah sempurna dan kuat adanya, maka benih itu akan bertumbuh cepat, dan berbuah-buah, terus berbuah, terus berbuah…”
Bener banget!!! Dulu-dulu gue suka menggerutu dalem hati kenapa gajinya kecil kalo kerjaan gue lagi banyak-banyaknya. Akibatnya? Ya ga dapet apa-apa. Yang ada cuma kesel, sebel, dan keuangan tetep pas-pasan. Tapi sejak Tuhan tegor my stinking attitude, gue bertobat. Bertobat dari sikap hati yang memandang kantor sebagai sumber penghasilan. Totally wrong. Wrong thinking. Sumber gue bukan kantor, tapi Tuhan. Tuhan-lah yang bisa buka sumbernya.
Kuncinya cuma sikap hati yang percaya kalo benih itu pasti dilipat gandakan. Sementara benih in the process of being dilipatgandakan, harus tetap menabur dalam pekerjaan baik.
Menabur bukan cuma dalam bentuk uang, tapi juga kelakuan sehari-hari. Sikap baik, kerja yang baik, jujur dan tulus pengen bantu orang kantor yang lagi kerepotan or kewalahan *tanpa pamrih loh*, pasti Tuhan lihat semua. Dan semua itu ga bisa kita lakukan dengan terpaksa. Pasti rasanya menyiksa kalo terpaksa. Apalagi kalo terbiasa hidup egois dan cuma mikirin diri sendiri.
Ini cuma bisa kita lakukan dengan penuh kasih kalo kita mengasihi Tuhan. Kenapa harus mengasihi Tuhan? Karena kasihNya-lah yang bisa mampukan kita untuk mengasihi sesama…
Trus gimana caranya supaya kasih Tuhan bisa tetap terus menyala? Susah kan bertahan mengasihi orang yang sulit dikasihi?
Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan aku oleh Roh-Nya di dalam batinmu,
sehingga oleh imanku Kristus diam di dalam hatiku dan aku berakar serta berdasar di dalam kasih.
Aku berdoa, supaya aku bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya aku dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang aku doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.
Inilah caranya. Ini doa yang gue bacain keras-keras tiap pagi. Diambil dari Efesus 3:14-20, kata ‘kamu’ diganti dengan ‘aku’. Ini doa yang diajarin sama salah satu leader di cell untuk didoain tiap hari, dari hari ke hari. Inilah caranya supaya kita terus berakar dan berdasar di dalam kasih…tetap bisa mengasihi orang yang sulit dikasihi…
Dan sejak gue praktek doa ini, gue ga tau gimana jelasinnya, tapi sejak Tuhan bilang Dia mengasihi saya, sejak itu hati gue jadi berubah 180 derajat. Gue jadi sabar dan malah jadi punya compassion sama orang paling jutek di kantor. Gue lihat wajah mereka, tatap matanya, dan yang gue lihat adalah orang-orang yang perlu kasih Tuhan…
Mungkin kamu yang lagi baca ini jadi bertanya “Trus apa hubungannya mengasihi sama terobosan keuangan?” Mungkin kamu pikir itu dua hal yang berbeda dan ga ada hubungannya sama sekali. Tapi buat gue itu sangat terkait. Kenapa? Karena kalo nabur-nabur-nabur karena itu perintah, artinya dilakukan dengan terpaksa, ga akan ada hasilnya. Yang ada cuma sebel duitnya berkurang, trus bete, trus ga percaya, trus emang bener ga ada hasilnya, trus kecewa. Eng ing eng… hati-hati.
One single bitterness akan merampok semua tuaian yang siap dituai. Yes, it’s that serious. Dan jangan lupa juga, sekali aja kita pahit sama Tuhan, langsung hilang deh tuh kasih mula-mula kita… Yes, again, it’s that serious…
So, you see the connection? KASIH itulah yang jadi dasar semua tindakan kita. Ga mungkin bisa nabur untuk rumah Tuhan kalo ga mengasihi Dia. Ga mungkin bisa bersikap baik sama manusia kalo ga mengasihi Sang Pencipta manusia itu. Ga mungkin ada favor orang lain buat kita kalo mereka ga suka sama kita kan? Dan kalo mereka ga suka sama kita, gimana mereka bisa berkati kita? Tuhan kan mesti pake orang lain untuk berkati kita? Masa pake kambing??? Kalo ga ada orang yang bisa dipake Tuhan untuk berkati kita, gimana Tuhan punya channel untuk blessing yang akan dikirim ke kita???
Jadi link-nya begini:
Skenario 1:
Si A mengasihi Tuhan –> menabur untuk pembangunan rumah Tuhan –> benih ditanam –> benih bertumbuh –> siap berbuah –> buahnya siap dituai –> tapi ga ada channel untuk kirim tuaian itu…
Surga mencari-cari channel/orang sebagai saluran untuk mengirim berkat itu ke si A…
Jika si A mengasihi Tuhan –> berbuat baik/melakukan pekerjaan baik kepada orang lain –> perbuatan baik diingat orang –> orang memberkati si A –> SI A HIDUP KELIMPAHAN
Skenario 2:
Si A mengasihi Tuhan –> menabur untuk pembangunan rumah Tuhan –> benih ditanam –> benih bertumbuh –> siap berbuah –> buahnya siap dituai –> tapi ga ada channel untuk kirim tuaian itu…
Surga mencari-cari channel/orang sebagai saluran untuk mengirim berkat itu ke si A…
Jika si A mengasihi Tuhan –> tapi malas berbuat baik kepada orang lain karena terbiasa egois mikirin diri sendiri (only me myself and I) –> si A mikir “kerjaan gue aja ga ada yang bantuin ngapain bantu orang lain?!” –> si A jadi orang cuek n dingin (but still mengaku a Christian) –> orang jadi “jauh” sama si A karena si A orangnya cuek n dingin n jaga jarak –> tidak ada orang yang bisa memberkati si A –> SI A HIDUP PAS-PASAN
Jelas kan sekarang? Menabur dan menuai itu hukum yang tak pernah gagal. Tapi inget tuaian itu ga bisa dilempar pake karung dari langit. Tuaian itu perlu saluran. Misalnya? Gaji, bonus, order yang datang sendiri tanpa perlu setengah mati cari sana-sini, koneksi, hadiah, panggilan pekerjaan, kepercayaan, posisi/jabatan, pengaruh/influence, power untuk bikin strategic decision, dan masih banyak lagi.
So, this is a hard lesson learned that I want to share with you. Sama sekali ga ada niat ngeguruin, engga, engga ada. Tujuan utama gue di sini cuma pengen bagiin pelajaran berharga yang Tuhan ajarin ke gue setelah bertahun-tahun ga ada terobosan keuangan sama sekali. Gue pengen smua orang yang baca bisa dapet “sesuatu” setelah baca ini. That’s all. Gue pengen jangan ada orang lain yang ngelakuin kesalahan yang pernah gue bikin. And above all, to tell the world bahwa Tuhan kita itu ga pernah menahan kebaikanNya…
Still I believe there is more
So I open my hands to receive
All that Your love has in store
Lord I believe…
Exceedingly abundantly
More than my minds can imagine
Love overflowing
You are bestowing
Day after day after day
Lord I believe…
(”I believe there is more” by Don Moen)
Bukankah firman-Ku baik terhadap orang yang benar kelakuannya? - Mic 2:7b