in the name of the law
In case u wanna know gue mo nulis apa kali ini, ini nih topiknya …. Tinjauan sosio-yuridis terhadap hukum bangsa Israel (suatu studi historis komparatif antara hukum Israel dan hukum Indonesia) Wakakak panjang bener yah
Judul blog kok kaya judul paper, untung gue ga pake NIM gue disini hihihi
Gini loh friends, alasannya kenapa gue pengen banget nulis hal ini cuma satu hal. Gue pengen share apa yang gue dapet setelah sekian lama bergulat melawan ketidaksukaan gue sama kitab Imamat. Tau Imamat kan? Entah kenapa yah dari dulu gue kurang suka baca Imamat. Untuk tahun ini, gue nyampe round 8 in Bible reading. Artinya dah 7 kali selesai baca Kejadian ampe Wahyu, dan tahun ini round 8 ulang lagi Kejadian ampe Wahyu. Pas Kejadian sih seru ada penciptaan plus all-time favorite Yusuf, Keluaran juga seru ada Musa segala, tapi pas masuk Imamat, duuuu…h rada2 boring deh. Kalimat-kalimat ajaib kaya “Janganlah engkau masak anak kambing dalam susu induknya…” itu kok kaya’nya ga ada relevansinya banget sih sama hidup gue???
So, dari tahun ke tahun, gue selalu jadi males saat teduh kalo dah nyampe di Imamat. Pengennya langsung buru-buru baca aja biar cepet selesai dan bisa pindah ke kitab selanjutnya. Emang sih gue bisa aja langsung loncatin bagian yang ga suka itu, tapi rasanya susah buat gue. Soalnya gue tuh orangnya teratur, sistematis dan prosedural. Jadi dari tahun ke tahun gue ngikutin prosedur mulai Kejadian, Keluaran, Imamat dst sesuai urutan dari halaman pertama sampe halaman terakhir. Gue yang prosedural abis ini paling ga suka ada bagian yang longkap-longkap, bagian kosong, bagian yang missing, etc. Call me weird, but I always follow procedures and I like procedures Bahkan footnotes-pun gue baca hihihi
Sampai malem ini gue baca Imamat 19 di KJV. Gue bener-bener terpana sama “sistematisasi” nya yang ga sistematis sama sekali ini. Semuanya campur aduk aje. Bayangin, hukum tentang witchcraft (ramalan) langsung diikutin sama improper haircuts (mencukur tepi rambut berkeliling), trus tiba-tiba ngomongin tato (merajah kulit), eh tau-tau ngomongin hukum yang menentang making your daughter into a prostitute (perempuan sundal). Hah?
Buat gue yang lagi ngambil S2 hukum, undang-undang bangsa Israel bener-bener ajaib. Pertama, undang-undang bangsa Israel jumlahnya kurang lebih cuma 600-an dalam Keluaran+Imamat+Bilangan+Ulangan. Coba bandingin sama banyaknya UU di Indonesia. Kedua, undang-undang mereka itu simple. Karena simplicity-nya itu, ga perlu masuk FH dulu biar ngerti UU-nya mereka. Ketiga, ini yang paling amazing, ga ada particular order. Suka-suka aja ga pake pasal ayat dsb dsb. Bandingin sama, misalnya BW atau Burgerlijke Wetboek alias KUHPerdata yang dibagi dalam empat buku (perihal orang, benda, perikatan, dan pembuktian & lewat waktu).
Sepertinya hukum-hukum yang tercantum dalam Perjanjian Lama ini punya ciri khusus. Cirinya: kehidupan mereka ga dianalisis dalam komponen-komponen yang terpisah, tapi dipandang sebagai satu kesatuan. Artinya, buat bangsa Israel, ga ada tuh yang namanya pemisahan antara gereja dan Negara. Tiap aspek kehidupan – politik, keluarga, makanan, ekonomi – semuanya berhubungan dengan Tuhan. Bahkan 10 Perintah Allah pun mencakup perintah mengenai hubungan dengan Tuhan, dan juga hubungan dengan sesama. Dua-duanya jadi tidak terpisahkan.
Makin gue pelajarin hukum-hukum di Imamat ini, makin kebuka mata gue bahwa hukum ini pun sangat sangat sangat mempengaruhi hukum di negara-negara modern sampe skarang ini. Misalnya:
1. Manusia lebih penting dari property.
Misalnya, ga pernah ada hukuman mati untuk kejahatan terhadap property. Dan juga, budak dianggap sebagai manusia, bukan harta milik.
2. Tidak ada kelompok/kelas dalam sistem hukum mereka
Di Israel, semua orang sama di hadapan hukum. Equality before the law. Bahkan orang asingpun punya hak-hak yang jelas ketentuannya. Bandingin sama BW jaman Belanda kita yang masih membedakan golongan Eropa, Timur Asing, dan pribumi/bumiputera. Please deh… hare geneeee ???
3. Sanksi sesuai dengan perbuatan
Buat bangsa Israel jaman itu: eye for an eye (Im 24:20). Untuk membatasi balas dendam. Tapi itu jaman Perjanjian Lama. Setelah karya penebusan Yesus di kayu salib, ga ada lagi eye for an eye. Yang ada hukum kasih. Ampuni, ampuni, dan ampuni… Bagian pembalasan itu bukan bagian kita, pembalasan itu hak-Nya Tuhan…
4. Perzinahan mendapat hukuman keras
Bandingin sama di negara kita yang kaya’nya ga terlalu peduli whether you slept with your neighbor’s wife
5. Pihak yang lemah dan miskin memperoleh perlindungan
Ada ketentuan khusus yang melindungi hak-hak kaum lemah. Orang kaya harus memberikan jalan bagi mereka agar mereka dapat hidup, misalnya ” sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing” (Im 19:10)
6. Sikap, dan juga tindakan, punya arti penting.
Hukum ”kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18) mengandung arti bahwa mematuhi undang-undang tertulis aja ga cukup. Kenapa? Karena hukum ini tujuannya untuk membangun hubungan dengan sesama dengan dasar kasih.
Pas baca semua itu gue jadi inget sama kuliah kemaren, pas Sabtu kemaren sore. Pas mata kuliahnya Sejarah Hukum, dan temen gue lagi presentasi tentang Hukum dan Agama Kristen. Temen gue yang laen nanya apakah ada contoh negara di dunia ini yang menerapkan semacam ”syariat” Kristen. Yang lagi presentasi ini – Kristen yang udah lahir baru – menjawab bahwa kekristenan tidak mengajarkan do this do that dalam kehidupan bernegara. Yang penting adalah pemerintahan manapun berasal dari Allah dan kita sebagai warga negara wajib mematuhi hukum negara dan tunduk pada otoritas. Tapi yang terpenting dari semuanya adalah hukum kasih. Karena kalo kita punya kasih, kita ga akan melakukan tindakan apapun yang menyakiti orang lain, bahkan jika tidak ada satupun peraturan tertulis yang dibuat mengenainya. Tapi kalo kita ga punya kasih, mau ditulis peraturan sekeras dan sebanyak apapun, tetap aja akan ada pelanggaran dan saling menyakiti sesama.
Bahkan jika orang lain menghina Tuhan Yesus Kristus pun, kita ga akan marah. Kita malah justru berdoa buat dia supaya Tuhan mengampuni orang itu karena dia tidak tahu apa yang dia perbuat. Kenapa bisa gitu? Karena Tuhan kita ga perlu dibela. Ga perlu kita bentuk Front Pembela Yesus karena Tuhan Yesus kita terlalu besar untuk dibela. Kalo sampe kita merasa perlu membela Yesus, artinya kita mengecilkan keTuhanan Yesus. Masa sih manusia membela penciptanya? Artinya kan Tuhan itu terlalu lemah makanya perlu kita untuk membela Dia. Engga, lah… Engga seperti itu. Jadi kalo ada begitu banyak orang yang menghina Yesus, atau menghina kita sebagai pengikut Kristus, ga bakalan deh kita bawa mereka ke pengadilan. “Pembalasan adalah hak-KU” begitu kata Tuhan Yesus. Bagian kita sebagai pengikut Kristus adalah mendoakan mereka dengan penuh kasih agar mata hati mereka terbuka. Jadi pada dasarnya the so-called law in Christianity itu semuanya berdasar hukum kasih. Jadi kalo mau dilihat lebih mendalam, hukum kasih itu menyangkut semua aspek kehidupan manusia.
Sekarang gue pelan-pelan mulai ngerti kenapa Tuhan suruh gue ambil hukum. Selama 6 bulan ini gue terus bertanya-tanya apa sih manfaatnya ilmu hukum yang gue pelajari sekarang ini sama hidup gue. Soalnya pelajarannya ga ada hubungannya sama sekali sama kerjaan gue di kantor, apalagi kehidupan gue sehari-hari. Gue sempet ragu bener ga sih gue mesti ambil semua SKS ini yang keliatannya sama sekali ga penting dan ga ada relevansinya – with the real life.
Tapi pelan-pelan Tuhan mulai bukain satu demi satu lewat kejadian yang gue alamin day by day. Semuanya mengarah ke pemahaman betapa besarnya Tuhan kita. Betapa tinggi rancanganNya. Betapa dalam hikmatNya. Dan semuanya itu makin membuat gue menyadari betapa kecilnya diri gue. Betapa ceteknya pikiran gue dibanding hikmatNya. Betapa sombongnya gue menganggap kitab Imamat itu ga penting buat dibaca… Betapa angkuhnya gue berpikir bahwa semua Perjanjian Lama itu ga ada artinya lagi buat kita yang hidup di jaman anugerah…
Membuat saya tertempelak untuk merendah di hadapanNya… dan menyadari betapa saya harusnya bersyukur bahwa ada darah Yesus yang tertumpah untuk menebus saya… sebagai atonement… sebagai pendamaian… sebagai pembayaran… atas semua kesalahan dan pelanggaran yang saya lakukan…
Karena ada Yesus sebagai pembela saya… as my Lawyer… di hadapan Allah Bapa Hakim yang adil… di hadapan iblis sebagai pendakwa yang sangat membenci saya… yang berusaha dengan segala macam cara agar saya masuk ke dalam hukuman kekal… Tapi semua senjatanya tidak akan pernah berhasil menempa saya… Hanya karena satu Nama yang berkuasa… Nama Yesus yang berkuasa…
*thank you Jesus for being my Lawyer… No fees can ever pay for what You’ve done for me…*
