letsing4joy

November 19, 2007

feminisme ???

Filed under: personal

Friends, beberapa minggu lalu gue bener-bener pusing. Tau ga napa? Kan semester ini ada yang kuliah Etika, dan dosennya kasih tugas bikin paper per bab. Pas nama gue dibacain, eh tau-taunya gue dapet bab tentang feminisme. Yaiks!!! Mungkin karena waktu itu gue satu2nya cewe yang ada di kelas itu, mangkenye dosennya langsung assign gue bikin paper tentang feminisme.

Aduh pusyiiii…ng. Kenapa juga gue? Kenapa juga mesti feminisme? Perasaan gue kan lagi ngambil jurusan business law, tapi kenapa mesti bikin tugas kaya’ ginian? Au ah gelap…

Setelah macet berhari-hari *karena no idea at all what to write*, akhirnya gue nyerah dan coba bikin pelan-pelan. Tapi susah loh nulis tentang sesuatu yang ga kita tau. Akhirnya gue coba baca sana-sini untuk bikin summary pendapat para feminis. Tapi semakin gue baca, semakin gue tau ini bertentangan sama kebenaran firman Tuhan…

Gue berusaha bersikap akademis dengan berpijak pada dasar ilmu pengetahuan. Tapiiii… sejak gue bertobat, gue selalu mendasarkan semuanya pada Biblical principles. Firman Tuhan itu jadi buku di atas segala buku, firman Tuhan itu udah mendarah daging, jadi part of my being. Tidak bisa tidak. Mau kata ahli ini kek, itu kek, semuanya cuma jadi reference aja kalo ga sejalan sama firman Tuhan. Ibaratnya default atau template, semua pendapat para experts cuma di-copy paste insert delete aja pada satu cetakan master slide (powerpoint sekaleee…:) Maksudnya, master slide dalam otak gue itu ya Biblical principles. So, pendapat para ahli cuma jadi tambahan info aja dalam master slide.

Memang sih belajar banyak ilmu ga salah. Tapi semua ilmu itu seharusnya bukan bikin kita jadi keblinger dan sok pinter, tapi malah harus bikin kita makin rendah hati dan makin menyadari kedalaman hikmatNya Tuhan. Semua ilmu harus tunduk sama kebenaran firman Tuhan…

Soooo, setelah berkutat sekian lama baca referensi ini itu, semua reference itu — sperti biasa– patah sama kebenaran firman Tuhan.

Tapi masalahnya, gue ga tau apa pernah ada mahasiswa sekuler yang pake ayat Alkitab sebagai reference/kutipan sebagai dasarnya dalam satu karya tulis ilmiah. Gue mikir lama banget sampe akhirnya gue memutuskan untuk menyertakan ayat Alkitab itu sebagai reference gue yang final, reference yang gue setujuin sebagai landasan pemikiran gue. Terserah loh dosen nya setuju apa engga, but that’s what I believe as the final truth. Semua teori dari semua ahli boleh ngomong berbeda dengan dasar2 ilmiah yang luar biasa mantapnya, tapi semuanya ga ada yang bisa menandingi kedalaman hikmat firman Tuhan…

Dan inilah kutipan dari bagian akhir paper gue:

Sebagai kesimpulan, penulis berpendapat bahwa etika kepedulian (ethics of care) lahir dari suatu kesadaran penuh yang mengakui wanita memang lebih caring in nature. Hal ini bukanlah sekadar teori ciptaan manusia semata, namun semuanya berawal dari proses penciptaan wanita – untuk apa wanita lahir ke dunia ini. Sesuai dengan firman Tuhan yang menyebutkan wanita adalah penolong yang sepadan bagi pria (TUHAN Allah berfirman: ”Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” – Kej. 2:18)

Seorang penolong pastilah bukan seseorang yang dingin, acuh, tidak pedulian. Seorang penolong pastilah mempunyai empati, belas kasihan, dan kepedulian terhadap sesamanya. Itulah sebabnya etika kepedulian banyak didengungkan oleh kaum wanita. Bukan karena wanita lebih unggul atau superior dalam hal ini, tapi lebih karena ada sifat-sifat alamiah yang ditanamkan dalam hati seorang wanita oleh Tuhan untuk memenuhi panggilannya sebagai seorang ’penolong’.

Tuhan tidak akan meminta kita melakukan sesuatu yang Dia tahu kita tidak mampu melakukannya. Tuhan juga tidak akan memanggil kita menjadi ’penolong’ tanpa terlebih dulu memperlengkapi kita dengan kualitas-kualitas seorang ’penolong’ seperti kepedulian, perhatian, belas kasihan, kemampuan nurturing, dsb.

Hal ini bukan berarti pria tidak diperlengkapi dengan rasa kepedulian. Pria juga mempunyai rasa kepedulian, seperti dibuktikan oleh banyaknya dokter pria yang truly altruist, guru pria yang a teacher by heart, dan masih banyak contoh lainnya. Namun pria tidak dipanggil untuk menjadi ’penolong’, tetapi pria dipanggil untuk menjadi ’kepala’.

Seperti layaknya kepala yang dipenuhi oleh pikiran, maka pria lebih cenderung menggunakan pikirannya daripada hatinya. Hal ini bukan berarti pria lebih unggul atau superior dari wanita, namun di sinilah letak kedalaman dan kedahsyatan rancangan Tuhan. Tuhan mempunyai panggilan yang berbeda untuk pria dan wanita agar mereka dapat saling melengkapi. Sepertinya Tuhan merancangkan bahwa pria menjadi alat untuk mencerminkan PIKIRAN-Nya, dan wanita untuk mencerminkan HATI-Nya. Mana yang lebih unggul? Tidak ada. PIKIRAN membutuhkan HATI untuk menjaga arah langkahnya, dan HATI mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi pikiran.

Karena itu, etika kepedulian adalah salah satu bentuk kelembutan yang dapat mengatasi sisi kosong dari etika keadilan yang menemui jalan buntu untuk menjawab tingkat kekerasan yang semakin brutal saat ini. Ketika etika keadilan gagal menyelesaikan letupan-letupan kekerasan dengan mengajukan pertanyaan pada ada/tidak adanya bukti, maka etika kepedulian menjadi alternatif.

Etika kepedulian memberikan peluang bagi diberikannya kesempatan untuk merubah diri, memulai hidup baru dan memperbaiki kesalahan serta bersama-sama belajar dari kesalahan itu. Dengan ketulusan, akan terjadi sebuah pemulihan hubungan interaksi antara manusia.

Di titik ini, etika kepedulian patut untuk dibangun, dengan memusatkan diri pada saling keterhubungan. Saling mendengarkan. Saling menyampaikan. Saling mempedulikan. Dan inilah insting kewanitaan (maternal) yang menyebabkan wanita seringkali mengambil keputusan yang berbeda dengan pria.

Terakhir, penulis menyimpulkan bahwa bahwa men and women are different, but none is superior than the other. Perbedaan yang ada itu tidaklah membuat wanita lebih inferior dari pria atau sebaliknya. Perbedaan khas wanita ini berhubungan dengan pengalaman, cara dibesarkan di keluarga, dan yang terpenting, panggilan terutama dalam hidup seorang wanita. Panggilan wanita adalah memelihara dan melahirkan kehidupan. Dan nilai-nilai kehidupan – seperti memelihara dan melahirkan kehidupan itu – bukanlah nilai-nilai yang inferior.

Sebaliknya, wanita harus menyadari bahwa cara maskulin yang mengambil keputusan etis berdasarkan prinsip-prinsip etika yang abstrak (yaitu menerapkan satu prinsip umum untuk semua kasus), rasionalitas, ketidakberpihakan, keadilan, dan objektivitas, bukanlah sesuatu yang superior atau bahkan sesuatu yang tidak berperasaan. Sebaliknya, pria juga harus menyadari bahwa cara feminin yang mengambil keputusan berdasarkan particularity (yaitu menerapkan prinsip kasus-demi-kasus, dan bukannya satu prinsip umum untuk semua kasus), kepedulian, dan hubungan, bukanlah sesuatu yang inferior atau lembek atau plin-plan.

Perbedaan ini tidaklah untuk diperdebatkan yang mana lebih superior atau lebih inferior. Perbedaan ini ada sebagaimana adanya, karena memang begitulah adanya. Dengan menyadari perbedaan ini, pria dapat menjadi rambu penuntun bagi wanita untuk dapat mengambil keputusan secara bijaksana tanpa terlalu terhanyut dengan perasaannya dan kepeduliannya terhadap orang lain. Sebaliknya, wanita dapat menjadi rambu pengingat bagi pria untuk mengambil keputusan dengan tidak terlalu kaku berpegang pada prinsipnya sehingga melupakan perasaan dan kepentingan orang lain. Sekali lagi, perbedaan ada untuk saling melengkapi, karena memang kita – pria dan wanita – diciptakan untuk saling melengkapi.

God made the sun, God made the moon
To harmonize a perfect tune
One can’t do without the other
They just have to be together …

-fentybukanfeministapiharusbikinpapertentangfeminisme-






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham