letsing4joy

May 22, 2007

leave a mark that cannot be erased

Filed under: happy teaching

Friends, pernah perhatiin ga dandanan ABG belakangan ini? Sekarang gue makin sering ngeliat para ABG, terutama cowo, dandanannya makin aneh aja. Rambut berdiri-diri kaya’ pencakar langit, tegak tercacak dengan kokoh seperti dikasih lem uhu, baju item-item, celana item, asesoris penuh rantai-rantai dan paku-paku, persis kaya toko material. Itu baru yang tampak luar aja. Belom kalo dideketin, ups! Ternyata ada banyak tindikan di sana-sini. Di kuping, di alis, di hidung, dan yang ajaib, di lidah! Bener, di lidah! Gue pernah liat murid gue sendiri lidahnya ditindik pake anting hiiii….Kok ga sakit sih?

Gue jadi inget jadi film dvd kartun yang gue tonton hari minggu lalu, judulnya Incredibles *hehehe ketinggalan jaman banget ya, maklum lah, jarang banget nonton sih soalnya* Di film itu ada anak cowo yang namanya Dash *aneh banget ya namanya Dash, tebakan gue kakak-adiknya pasti namanya Semi Colon, Full Stop, Hyphen, Slash, wekekek:)* Sebagai anak superhero, si Dash ini punya special power dalem dirinya. Tapi sayangnya power itu ga boleh dipake sama sekali atau ketauan orang. Akibatnya dia jadi stress dan pemberontak. Nakal banget lah di rumah dan di kelas. Gurunya sampe stress.

Semua guru pasti pernah ngalamin hal kaya gini. Mungkin sering malah. Sulit banget ngadepin murid-murid pemberontak yang sikapnya selalu nantang. Sebenernya sih dalem hati mereka setuju dengan pendapat gurunya, tapi demi keliatan berbeda dari yang lain, mereka selalu jadi ekstrim kiri. Kalo sekelas bilang A, dia pasti bilang B. Kalo sekelas bilang B, dia pasti bilang C. Pokoknya harus berbeda dari yang lain.

Sikap pemberontakan ini pasti ada akar masalahnya. Kalo lagi duduk di bis gue sering mikir sendiri apa sih sebenernya akar masalah anak-anak ini. Setelah lama mikir, gue nemuin satu kesimpulan: Penolakan Diri. Penolakan diri ini bisa jadi dari orangtuanya, dari sekelilingnya, atau mungkin dari dirinya sendiri.

Gue jadi inget Mazmur 139:13-14 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Anak-anak ini sebenernya berharga (walopun tindakannya seringkali nyebelin). Kenapa gue sebut mereka berharga? Karena mereka itu dibentuk sama Tuhan sendiri! Mereka dibentuk dan ditenun oleh tangan Tuhan sendiri. Jadi mereka itu hasil karya tenunan adikodrati yang begitu ajaib. Jadi mereka itu masterpiece, bener-benar handmade of God. Karena yang ngebentuk itu Maha Kudus, pastilah ada kemuliaan Tuhan yang tertanam dalam setiap sel di tubuh mereka.

Sayangnyaaaa…. tidak semua orang tau hal itu. Bahkan mungkin orangtuanya sendiri ga menyadari ada kemuliaan Tuhan yang turun dalam diri putra-putri mereka. Mereka malah berulang kali menyebut anaknya bodoh, lamban, malas, ga ada bagus-bagusnya, dsb dsb. Atau guru-gurunya di sekolah mencap mereka sebagai anak yang susah diatur. Begitu telinganya denger kata2 negatif seperti itu, secara ga sadar setiap sel dari tubuh anak-anak itu berontak. Setiap bagian dari tubuh, jiwa, roh mereka menolak semua cap negatif itu. Kenapa? Karena sel-sel tubuh mereka itu tau kalo mereka diciptakan begitu mulia. Begitu berharga (Yes 43:4). Begitu berharganya sampai Tuhan sendiri yang turun tangan untuk membentuknya dalam rahim ibunya.

Tapi begitu lahir ke dunia, bukan nurturing atau kesempatan developing yang mereka terima, tapi malah semua celaan, ejekan, hinaan. Jelas aja innermost being mereka berontak. Karena substance mereka tidak didesain untuk menerima semua hal negatif itu. Ada supernatural design yang udah ada template-nya, udah dibentuk dari awalnya, ready to form and come into being (mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya Mzm 139:16)

Tapi design itu mampet. Macet. Ga berkembang seperti yang seharusnya, seperti yang Tuhan rancangkan sejak mereka belum lahir. Akibatnya, segenap diri mereka berontak. Tapi mereka ga tau kenapa mereka berontak. Mereka hanya tau mereka pengen berontak. Pokoknya pengen aja. Dengan caranya sendiri…

Ada yang berontak dengan cara yang ekstrim: lari ke narkoba. Tapi ga semua loh pemberontakan keliatan dengan cara yang negatif. Ada juga bentuk-bentuk pemberontakan yang “halus”. Tau ga maksudnya halus? Artinya begitu halusnya, begitu sempurnanya, begitu bagusnya, sampai ga ada orang yang menyadari kalo itu sebenernya bentuk pemberontakan terpendam.

Misalnya? Karena sekali dikatain bodoh, si anak belajar mati-matian, harus jadi juara 1 melulu, langsung stress liat angka 7 di rapor, harus 8 atau 9. Akibatnya, perlahan-lahan dia jadi perfeksionis kronis yang begitu kerasnya sama diri sendiri. Ga bisa mengampuni dirinya sendiri kalo gagal.

Ini salah satu bentuk kegagalan menerima dirinya sendiri. Ga ada self-acceptance. Karena ga bisa menerima dirinya sendiri, dia berontak terhadap dirinya sendiri. Jenis pemberontakan ini sulit sekali diliat secara kasat mata oleh orang tua atau guru. Kalo pemberontakan lainnya seperti narkoba/dandanan aneh-aneh sih gampang diliat dari ujung sudut kelas 3x4 m. Tapi kalo pemberontakan halus ini jarang ada yang bisa kenalin. Guru malah cenderung muji-muji anak perfeksionis yang sebenernya lagi struggling hebat dalam dirinya.

Mereka belajar karena mereka dianggap berharga hanya kalo jadi juara kelas. Dan itu harus belajar mati-matian. Padahal setiap orang, termasuk anak kecil sekalipun, perlu merasa aman, merasa diterima, dengan apa adanya mereka. Mereka bukan anak yang bisa segalanya. Mereka tetap ingin diterima, bahkan jika pulang ke rumah dengan membawa nilai 5 sekalipun.

Sayangnya si anak kecil itu ga bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi hal itu. Mereka pengen keluar dari tekanan itu, tapi ga tau caranya. Akhirnya mereka cuma bisa bertahan dari tahun ke tahun dengan cara survival mereka sendiri. Yang berontak terang-terangan makin liar dari ke hari-hari (makin dia berontak maka orang lain makin menjauh darinya, dan akhirnya dia makin merasa aman dengan comfort zone-nya sebagai pemberontak tanpa ada yang bisa ganggu). Yang berontak halus makin parah perfeksionis-nya (makin dia berusaha sempurna maka orang makin memuji dia…tanpa ada yang menyadari kelemahannya yang tidak bisa mengampuni dirinya sendiri)

Semua pattern ini harus dipatahkan. Harus dihancurkan. Kalo dibiarkan terus-menerus, amat sangat ga sehat. Mereka akan tumbuh jadi orang-orang dewasa yang terus menerus memberontak dengan cara yang berbeda. Dan satu-satunya cara untuk sembuh hanya ada satu: firman Tuhan. Karena Tuhan yang membentuk kita, Tuhan yang menciptakan kita, maka cuma Tuhan jugalah yang bisa menyembuhkan. Karena Dia yang create, cuma Dia juga yang bisa restore.

Gimana cara restore-nya? Dengerin perkataanNya:
Sebab engkau berharga di mata-Ku dan mulia,
dan Aku ini mengasihi engkau… (Yes 43:4)

Biarin aja orang lain ga nganggep kita. Biarin aja orang anggep rendah. Biarin aja orang bilang kita ga memenuhi standar. Biarin aja. Yang penting bukan apa kata manusia, tapi kata Tuhan. Kalo Tuhan aja Pencipta langit bumi beserta isinya bilang kita berharga, apalagi yang kurang? Perlu penerimaan dari siapa lagi ??? Perlu pengakuan dari siapa lagi ???

Dan kita bukan cuma BERHARGA, tapi juga MULIA. Bayangin, BERHARGA dan MULIA…

Karena itulah temen-temen, kalo pekerjaan kamu berhubungan dengan dunia pendidikan, baik pendidikan anak atau remaja, percayalah kalo itu bukan kebetulan. Tuhan taroh kamu di sana untuk satu tujuan mulia. So, jangan pernah underestimate tanggung jawab seorang guru, betapapun rendahnya penghargaan bangsa ini terhadap profesi seorang guru.

Mungkin kamu pikir kamu “cuma” guru sekolah minggu, guru vokal/musik, guru kursus inggris/mandarin/jepang, guru anak autis, pengasuh anak SLB, guru tari anak, guru gambar anak-anak, guru les gitar/piano/organ/etc, guru les kumon/sempoa, les matematika, ato guru part-time apalah yang kamu pikir ga terlalu penting buat disebutkan di CV kamu sewaktu lulus kuliah dan mulai melamar pekerjaan ke kantor-kantor elit sepanjang Sudirman-Thamrin.

Tapi inget, guru bukan “cuma” sekedar guru. Kata-kata seorang guru (entah berupa pujian, dukungan, atau pengertian) sangat penting dan tinggal tetap dalam hati murid-murid kamu. Inget kan betapa masih jelasnya memory kita tentang guru kesayangan kita di sekolah dulu? Inget loh sekarang ini kamu itu jadi role model buat murid-murid kamu. They look up to you…And they may even admire you…

Mungkin mereka keliatannya cuma anak-anak culun yang belom bisa apa-apa *apalagi kalo muka-muka innocent itu mulutnya lagi melongo atau ternganga ngeliatin kamu dengan tatapan polosnya, persis kaya’ anak sapi imut:)* Tapi inget selalu kalo Tuhan-lah yang menenun mereka. Ada kemuliaan Tuhan dalam diri mereka. Ada potentials dalam diri mereka. Potentials that are ready to explode. Only if their teachers can see it in them… Only if you can spot it in them…

You should thank God for bringing you as their teachers in the path of their lives. Bersyukurlah untuk itu. Kamu punya kesempatan untuk menabur firman Tuhan dalam hidup anak-anak itu. Kamu punya kesempatan untuk leave a mark in their lives. Leave a mark that cannot be erased…






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham