what are your dreamzzz ???
Beberapa minggu lalu, gue mesti ngajar satu lesson yang judulnya “what are your dreams?” di kelas intermediate yang mayoritas murid2nya anak SMA eh SMU (maklum deh angkatan eighties jadi kebiasaan ngomong SMA bukan SMU:) Pas persiapan bahan ngajar, gue semangat banget karena gue pikir topiknya penting dan bermanfaat banget buat anak2 sekolah yang masa depannya masih panjang dan terbuka lebar.
Gue berpikir nih anak-anak kan masih pada SMU, masih umum, jadi masa depannya masih terbuka lebar karena masih banyak pintu kemungkinan yang terbuka buat mereka. Mereka bisa pilih mau jadi apa aja, bisa milih fakultas apa aja, bisa milih jurusan apa aja. Beda dengan gue yang dah lulus dan kerja bertaon-taon, jadi lapangan pekerjaannya amat sangat terfokus dengan latar belakang pendidikan alias jurusan gue *wekekek*
Eits jangan salah, bukan berarti gue menyesali pilihan gue, engga, sama sekali engga. Gue suka banget sama jurusan sastra inggris dan gue bersyukur banget gue bisa dapet kerja yang sesuai banget sama latar belakang pendidikan gue. Dan gue berharap murid2 gue pun, yang masih remaja-remaja itu, bisa mengetahui keinginan dan interest or talent mereka masing-masing seperti gue tau what I like pada saat lulus SMA eh SMU *duh tuh kan ngomong SMA lagi*
So gue berangkat ngajar dengan penuh antusiasme. Tapi ternyata, keadaan di lapangan amat sangat berbeda dengan persiapan. Pas gue tanya masing-masing tentang “what are your dreams”, jawabannya sungguh mengecewakan. Kebanyakan mereka cuma cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala dengan jawaban “I don’t know, Miss” Masih mending deh ada yang jawab pake bahasa Inggris. Yang lebih parah malah ngomong “Ga tau” atau “Belom tau” atau “Apa ya?” dengan bengong melompong.
Ihhhhhhhh !!! Gue gregetan banget deh dengernya. Mereka kan bentar lagi lulus SMU. Masa ga tau sih mo jadi apa? Mo jadi apa bangsa ini kalo anak-anak bener-bener clueless, don’t know where they’re going, don’t know what they want, have no idea at all what to do. Gue bener-bener gemessssssss banget ngeliatnya. Ternyata di luaran sana banyak sekali anak2 muda yang ga punya tujuan hidup.
Saking gemesnya, akhirnya gue terpaksa nasehatin mereka. Sebenernya sih ini bukan tugas gue. Gue kan guru bahasa inggris (cuma kursus lagi, seminggu sekali pula:) Gue bukan guru BP mereka. Tapi untuk sekali ini gue harus nasehatin mereka karena ini penting banget buat mereka.
Terus gue langsung nyerocos deh tentang arti hidup masing-masing manusia yang lahir ke bumi. Gue bilang “You’re all born for a purpose!” dengan nada keras. Wussshhhh ! Langsung pada diem semua, hening ning ning. Trus gue lanjutin “You don’t come to earth just to fulfill the earth, bukan cuma buat menuh-menuhin bumi. God created you for a specific purpose. You don’t just breathe in breathe out, just for yourself. You have to make impact on the people around you.”
Tadinya gue dah mo ngomong kalo mereka harus jadi berkat bagi orang-orang di sekitar mereka. Tapi gue langsung sadar kalo gue bukan lagi ngajar di sekolah Kristen jadi gue ga bisa pake istilah-istilah atau ayat-ayat Alkitab
Padahal mulut gue dah siap menyemburkan ayat-ayat Alkitab tentang menenun engkau dalam rahim ibumu, betapa engkau berharga bagi Allah, betapa besar potensi yang Allah taruh dalam diri mereka, ughhh banyaaa….k banget rasanya yang pengen gue omongin ke mereka.
Gara-gara hal ini mimpi gue jadi berkoabar lagi di hati gue. Gue bayangin seandainya ini sekolah milik gue sendiri, gue pasti bebas banget membagikan kebenaran Alkitab buat murid2 gue. Gue bebas mendidik mereka sesuai dengan Alkitab. Gue bisa bentuk mereka, isi pikiran mereka, penuhi hati mereka, agar mereka bisa belajar mengetahui kehendak Allah dalam hidup mereka. Agar mereka bisa mengeluarkan potensi terbaik dalam diri mereka, to bring out the best in them, bagi kemuliaan Tuhan. Agar Tuhan bangkitkan anak2 itu menjadi saksi-saksi Kristus yang luar biasa bagi sekeliling mereka. Agar hidup mereka berdampak bagi orang lain, dan bukan sekedar menuh-menuhin bumi ….
Well, at least what I can do in the class is to give them ideas what to do with their lives. Gue bagiin sama mereka kalo hidup mereka seharusnya bermanfaat bagi orang lain. Misalnya bulan lalu kan ada banjir besar di Jakarta. Seharusnya mereka terbuka pikirannya gimana caranya supaya banjir ga terjadi lagi. Mungkin mereka bisa belajar tentang sistem pengairan ke Belanda trus menerapkan pengetahuan itu di kota kelahirannya. Atau karena BBM makin mahal dan makin langka, sebelum akhirnya abis sama sekali di bumi Indonesia, mereka bisa belajar teknologi bahan bakar alternatif, misalnya dari pohon jarak. Atau karena makin sempitnya lahan pertanian, mereka bisa belajar teknologi organik untuk sumber makanan, at least sebagai alternatif. Atau tentang bioteknologi yang makin diperlukan di masa depan yang sumber daya alamnya makin habis dari hari ke hari…
Mungkin ga banyak yang bisa gue kasih ke mereka. But at least gue dah tabur benih di pikiran mereka and I hope benih itu tumbuh subur. As I care about their future education, I believe Jesus cares about their future much more than I do… I pray that someday they will become what God wants them to be… To the highest they can be…
