dear teachers…
Beberapa minggu lalu, abis PD di kantor, temen gue bilang gini “yang khotbah tadi asyik ya, ngajarnya enak…” Trus gue jawab “Heeh, kita gampang ngertinya.” Trus udah aja, kita kembali ke laptop:)
Obrolan singkat itu bikin gue mikir. Gue dah banyak ngedenger khotbah-khotbah yang disampein sama hamba-hamba Tuhan yang berbeda. Memang firman Tuhan yang disampein itu ga akan kembali dengan sia-sia *ya, gue aminin banget itu* , tapi yang ngebawain firman itu juga punya peran besar untuk menentukan apakah firman itu sampe apa engga ke pendengarnya.
Ada hamba Tuhan yang emang pinter (I mean hampir S3) tapi cara ngomongnya begitu “tinggi” , begitu “pinter” cuma karena dia tau jemaat ga tau teologi sedalem yang dia tau. Akhirnya jemaat berasa “gerah” dan pengennya cepet2 pulang aja. Ada juga yang pinter tapi begitu banyak yang pengen dia ajarin sampe jemaat terengah-engah “ngejar” speed dia. Kebalikannya, ada yang khotbah-nya lambat banget seakan-akan jemaat semua anak Sekolah Minggu yang cuma tau cerita Zakeus orang pendek kecil bener dia panjat pohon ara hendak melihat Yesus.
Gue jadi inget dulu guru gue pernah bilang gini: “Guru yang baik itu bukan selalu guru yang pinter. Guru yang baik adalah guru yang tau gimana cara mentransfer apa yang dia tau ke murid-muridnya hingga dia bisa memindahkan sebagian isi kepalanya ke kepala murid-muridnya.” Maksudnya, gimanapun pinternya tuh guru, kalo dia ga bisa mentransfer ilmunya, dia bukan guru yang baik. Tapi guru yang ga terlalu pinter pun akan disebut guru yang baik kalo dia bisa membuat murid2nya mengerti apa yang dia pengen sampaikan.
Bener banget tuh. Itu dulu waktu gue masih jadi murid. Trus bertaun-taun kemudian, waktu gue dah jadi teacher, seorang guru yang senior pernah ngajarin gue gini satu kalimat yang amat sangat penting: “What am I here for?” Dia bilang, begitu kita berdiri di depan kelas, kita harus tanyakan satu pertanyaan penting ini ke diri kita sendiri “What am I here for?” Jawabannya tentu aja “To teach”
Jadi kalo tujuannya to teach, to make them understand, carilah cara seefektif mungkin pegimane carenye supaya murid2 mu ngerti apa yang pengen kamu sampein, even if it means you have to forget about your target, your lesson plan, your method, your curriculum etc. Jangan pusing ama target 2 jam ini mesti selesai belajar a, b, c, dan d. Kalopun selama 2 jam itu mereka cuma bisa nangkep point a doang, it’s okay. You’re not a failure. Lebih baik ngerti point A aja tapi ngerti sepenuhnya daripada maksain cekokin point A B C D dengan tingkat pemahaman cuma 10% masing-masing. Bisa-bisa point A B C D itu kecampur2 sendiri di kepala mereka dan hasilnya menelurkan formula ajaib F yang entah darimana asalnya
Makin lama gue ngajar, makin gue belajar sesuatu yang I’d like to share with you all. Seorang guru sejati itu rela mengosongkan dirinya, merendahkan dirinya, sampai ke tingkat di mana murid2nya berada. Dan dari tingkat di mana murid2nya berada itulah dia akan mulai segalanya. Dia harus berusaha menyamakan dirinya ke posisi muridnya supaya dia bisa tau kebutuhan muridnya. Kalo dia dah tau di level mana, apa kebutuhannya, dia akan dengan mudah mengalir dari sana, bersama-sama dengan mereka, at the same pace, the same speed, until everyone succesfully reaches the level he/she wants them to be.
Misalnya: percuma maksain murid2 ngerti past perfect tense kalo past tense aja belom ngerti. Biarpun text book jelas-jelas “mengancam” semua murid harus bisa past perfect, jangan harap mereka ngatri kalo konsep past tense aja mereka ga dapet. Dan guru yang tau “what I am here for” ga akan paksa mereka belajar sesuatu yang mereka belom siap. Dia ga akan insist target dia sendiri, maksain goal dia sendiri, dengan membiarkan murid2 nya tewas bergelimpangan dalam ketidakmengertian mereka.
Begitu juga sama Tuhan Yesus, Guru kita yang super sabar dan super pengertian itu. Dia rela merendahkan diriNya (dari surga turun ke bumi), mengosongkan diriNya (dari Tuhan menjadi Anak Manusia), supaya dia bisa satu level sama kita, murid2Nya ini. Dia berusaha “masuk” ke level kita. Walopun sebenernya, sebagai Tuhan, Dia bisa aja tinggal kasih perintah do this, do that, if you don’t do this, don’t do that, if you don’t understand please review previous chapters:) Ato bisa aja Dia bilang “Ampun deh masa gitu aja ga ngerti? Itu kan udah ditulis dari jaman Musaaaa… Please deh baca dulu dong…”
But thank God He didn’t do that. Dia rela “turun” dan bergaul sama manusia. Dan karena Dia tau kita2 manusia ini suka susah ngertinya *alias rada lemot*, makanya Dia pake contoh2 sederhana dalam model perumpamaan supaya murid2Nya ngerti. Isn’t He sooooo understanding ??? *Tapi sayangnya udah pake perumpamaan sederhana kadang2 kita masih juga ga ngerti wakakak*
Well, what I am trying to say is: if you want to be a good teacher, learn from Jesus. He is the best teacher of all. Metode pengajaran Dia sangat simpel tapi butuh kerendahan hati yang luar biasa. Kuncinya cuma satu: rela merendahkan diri dan mengosongkan diri…
…which makes me realize now that the great peachers are basically the great teachers…
thank God for the great preachers that You’ve sent to us here on earth
teach us to help them, to appreciate them more and more everyday
teach us to better students so that they can be better teachers
so that both students and teachers can reach higher and higher
to the highest level You want us to be…
