love never fails
Kemaren gue nonton film (atau kesaksian?) yang bagus banget, judulnya Love Never Fails. Ini kisah nyata. Tentang seorang istri bernama Alice yang punya suami bernama Ralph, mantan aktor yang kemudian ketauan sakit kanker 7 hari setelah wedding day. Ralph ini tadinya ganteng banget, tapi karena kanker ganas di kepalanya akibatnya mukanya jadi rusak banget. Tapi Alice dengan setia mengurusnya dan bilang kalo melihat wajah Ralph dia seperti melihat wajah Yesus di sana…
Ga tau berapa kali gue pengen nangis sepanjang nonton film selama 44 menit itu. Di film itu nyata benar kasih yang terpancar dari mata, senyum, tangis Alice buat Ralph, dan terutama buat Yesus… Dari ekspresi wajah Alice waktu dia cerita tentang hidup Ralph, terlihat sekali bahwa dia benar-benar mengasihi Ralph dan mengasihi Yesus yang telah “mengambil” Ralph-nya…
Tapi bagian yang paling mengharukan, bagian yang bikin gue nangis teriris-iris adalah waktu Alice, dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca bilang gini “Ralph is not mine, he is Yours…” Siapapun yang pernah ngomong gitu ke Tuhan pasti tau betapa hancurnya hati waktu ngomong seperti itu… Satu kalimat yang sederhana… Tapi kalimat itu hanya bisa diucapkan oleh orang-orang yang sudah sampai pada satu titik tertentu… Titik di mana dia bener-bener berserah pada Tuhan… Titik di mana dia sudah bisa merelakan kepergian orang yang bener-bener dikasihinya… Titik di mana kasih itu berarti rela memberikan yang terbaik buat yang dikasihinya… Bahkan jika yang terbaik itu berarti orang tersebut harus meninggalkan kita selama-lamanya…
Gue jadi inget masa lalu, waktu gue akhirnya bisa bilang ke Tuhan “Mama saya bukan milik saya, dia milikMu Tuhan…” dengan hati hancur berkeping-keping. Setelah pergumulan yang cukup lama, setelah tahap marah sama Tuhan kenapa orang sebaik Mama harus sakit parah, tahap kecewa sama Tuhan kenapa Tuhan ga nyembuhin dia, tahap benci sama Tuhan kenapa kalo Dia penuh kasih Dia ijinkan Mama jadi begitu kurusnya, begitu kesakitan, begitu menderita… Dan akhirnya gue sampe pada satu titik gue udah begitu kelelahan dengan semua emosi yang campur aduk itu, dan gue cuma bisa nangis dan berserah “Kalau memang Mama meninggal itu yang terbaik menurutMu Tuhan, saya rela Tuhan, saya rela… Saya rela ditinggal selama-lamanya kalo itu memang yang terbaik buat Mama…”
Kalo sekarang gue lihat ke belakang, memang saat itu gue ancur banget. Hati gue ancur seancur-ancurnya. Tapi justru di saat ancur itulah malah gue bisa ngerasain kasih Tuhan dalam hidup gue. Dia sedih saat saya sedih… Dia turut menangis saat saya menangis… Dia ada di sana melewati malam-malam penuh tangis dan air mata… Dia ada di sana, dengan lembut mengajak saya untuk bangun pagi, menyambut hari yang baru, walaupun rasanya saya sama sekali ga pengen menghadapi satu hari lagi… Karena begitu kecewa kenapa pagi itu saya belum mati seperti keinginan saya waktu berangkat tidur kemarin malam…Rasanya ga ada satupun hal di dunia ini yang bisa menghibur hati yang penuh dengan kesedihan yang begitu dalem… Ga ada satupun di dunia ini yang bisa angkat kesedihan itu… Ga ada yang bisa, kecuali Yesus sendiri…
Dan enam tahun kemudian, here I am Lord, still alive and full of hope… Full of hope because I know You’re always there… No matter what I’m going through, You were, You are, and You will always be there for me… Because You are Love, and Love Never Fails…
*thanks Lord for being with me, through it all…*
